Kisah Keajaiban Sholawat: Amalkan Sholawat Atasi Masalah Hidup


Keajaiban Sholawat – Rahasia Sholawat – Majelis Sholawat – Yuk sholawat ! Kisah Keajaiban Sholawat: Amalkan Sholawat Atasi Masalah Hidup.

Keajaiban Sholawat, ya sudah sering kita mendengar kisah dan cerita nyata tentang fadhilah dan keajaiban Sholawat bagi pecinta dan pengamal sholawat.

Bukan 1 atau 2 orang yang sudah merasakan keajaiban dalam hidupnya setelah benar benar mengamalkan membaca sholawat.

Hidup tentram dan berkecukupan berkat mengamalkan sholawat, salah satunya adalah KH. Ahmad Masduqie Machfudzh.

Fadhilah Membaca Sholawat Nabi 1000 Kali Dan Kisah Keajaiban Yang Terjadi Setelah Membacanya.

Ada banyak Kisah Fadhilah atau manfaat dan juga Keajaiban serta khasiat Sholawat Nabi. Membaca Sholawat Nabi 1000 x kali menunjukkan kecintaan seorang muslim kepada nabinya. Shalawat Nabi memang salah satu dzikir yang sangat dianjurkan menjadi amalan rutin bagi siapa saja. Karena sholawat adalah perintah langsung dari Allah yang termaktub dalam al-Qur’an. Bahkan dinyatakan dalam ayat itu bahwa Allah dan para Malaikat-Nya pun bersholawat kepada Nabi. Melihat ini tentu bacaan sholawat ini adalah sesuatu yang sangat bernilai.

Macam-Macam Jenis Sholawat Nabi

Di masyarakat muslim di seluruh dunia, utamanya di Indonesia, ada banyak macam sholawat yang dikenal. Ada Sholawat Nabi, Sholawat Jibril, Sholawat Nariyah, Sholawat Nuridzati, Sholawat Nuril Anwar, Sholawat Fatih, Sholawat Thibbil Qulub dan sebagainya. Semuanya adalah merupakan pernyataan cinta penyusunnya dan juga pembacanya kepada baginda Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam.

Meski ada yang tidak setuju dengan macam-macam sholawat yang ada, namun menurut hemat kami semuanya adalah ungkapan perasaan cinta kepada Rasulullah dari umatnya. Dan penyusunnya adalah para ulama yang tentu saja memiliki ilmu yang sangat tinggi dibanding kita generasi abad ini.

Kisah-Kisah Keajaiban Sholawat

Kisah pertama dialami oleh KH.Ahmad Masduqie Machfudzh yang ditulis di web nu online. Shalawat dan shalat jamaah adalah dua “senjata” Achmad Masduqie Machfudh. Tiap menerima aduan masalah dari masyarakat, ia selalu berwasiat untuk membaca shalawat, minimal 1000 kali setiap hari dan 10.000 kali setiap malam Jum’at.

Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015 yang juga pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Nurul Huda Mergosono Malang ini memiliki pengalaman menarik tentang shalawat Nabi, tepatnya pada tahun 1956, saat ia masih duduk di sebuah SLTA di Yogjakarta.

Suatu ketika, ia mendapat gangguan jin di sebuah masjid tempat belajarnya sehingga selama tiga hari Maduqie muda merasa ingin banyak makan tapi anehnya tidak bisa buang hajat. Di hari ke empat, tubuhnya pun sangat panas dan saat itu juga beliau berpesan kepada adiknya.

“Dek, nanti kalau aku mati, tolong jangan bawa pulang janazahku ke Jepara tetapi dikuburkan di Jogja saja,” pinta kiai yang wafat pada 1 Maret 2014 ini kepada sang adik. Kiai Masduqie datang ke Jogja berniat untuk mondok. Beliau khawatir syahidnya hilang jika wafat di Jogja namun jenazahnya dimakamkan di Jepara.

Sontak saja adiknya semakin khawatir kondisinya. Maka diajaklah sang kakak menemui seorang seorang kiai. “Mari kita pergi ke kiai itu, kiai yang Mas biasa ngaji di hari Ahad.”

Kiai Masduqie menerima ajakan adiknya. Pergilah beliau bersama adiknya dengan naik becak dan sampai di rumah pak kiai yang di maksud pada pukul satu malam. Ketika beliau datang, pintu rumah Pak Kiai masih terbuka. Tentu tengah malam itu sang tuan rumah sudah tidak melayani tamu, karena sejak pukul 10 malam adalah waktu khusus Pak Kiai untuk ibadah kepada Allah. Karena melihat Masduqie muda yang datang di tengah malam dengan keadaan payah, kiai pun mempersilahkan Masduqie muda beristirahat di rumah.

Masduqie muda pun tertidur di rumah kiai itu. Baru beberapa jam di rumah kiai, tepatnya pukul 3 malam, beliau terbangun karena merasa mulas ingin buang hajat. Setelah itu, rasa sakit dan panas yang dirasakan sedikit hilang.

Pada pagi harinya, beliau yang masih panas badannya bertemu dengan Pak Kiai. “Pak Kiai, saya sakit”. Bukannya merasa iba, Pak Kiai hanya tersenyum. Dan anehnya, rasa panas yang beliau rasakan hilang seketika itu.

Pak Kiai dawuh, “Mas, sampean gendeng mas.”

“Kenapa gendeng, Yai?” tanya Masduqie muda.

“Iya, wong bukan penyakit dokter, sampean kok bawa ke dokter, ya uang sampean habis. Pokoknya kalau sampean kepengin sembuh, sampean tidak boleh pegang kitab apapun,” jawab kiai.

Jangankan membaca, menyentuh saja tidak diperbolehkan. Padahal pada saat itu, Masduqie muda dua bulan lagi akan mengikuti ujian akhir sekolah.

“Yai, dua bulan lagi saya ujian, kok enggak boleh pegang buku,” Masduqie muda matur kepada Pak Kiai.

Seketika itu Pak Kiai menanggapinya dengan marah-marah, “Yang bikin kamu lulus itu gurumu? Apa bapakmu? Apa mbahmu?”

Masduqie muda menjawab, “Pada hakikatnya Allah, Yai.”

“Lha iya gitu!” timpal Pak Kiai.

“Lalu bagaimana syariatnya (upaya yang dilakukan), Yai?” tanya Masdqie muda lagi.

“Tiap hari, kamu harus baca shalawat yang banyak,” jawab, Pak Kiai.

Masduqie muda kembali bertanya, “Banyak itu berapa, Yai?”

Pak Kiai pun menjawab, “Ya paling sedikit seribu, habis baca 1000 shalawat, minta ‘dengan berkat shalawat yang saya baca, saya minta lulus ujian dengan nilai bagus’.”

Ya sudah, Masduqie muda tidak berani pegang kitab maupun buku, karena memang ingin sembuh. Mendengar cerita dari Masduqie muda, Paman beliau marah-marah. “Bagaimana kamu ini? Dari Jepara ke sini, kamu kok nggak belajar?” Masduqie muda tidak berani komentar apa-apa. Karena beliau menuruti dawuh kiai untuk tidak menyentuh kitab atau buku, beliau nurut saja.

Menjelang beliau ujian, pelajaran bahasa Jerman, bukunya ternyata diganti oleh gurunya dengan buku yang baru. Karena masih dilarang menyentuh buku, maka beliau tetap taat titah kiai.

Setelah ujian, Masduqie muda dipanggil guru bahasa Jerman.

Pak Guru : Kamu her (remidi/mengulang)

Masduqie : Berapa nilai saya pak?

Pak Guru : Tiga!

Masduqie : Iya, Pak. Kapan, Pak?

Pak Guru : Seminggu lagi

Namun setelah seminggu, Masduqie muda tidak langsung mendatangi guru bahasa Jerman, karena larangan pegang buku belum selesai. Baru setelah selesai, Masduqie muda mendatangi Pak Guru.

Masduqie : Pak, saya minta ujian, Pak.

Pak Guru : Ujian apa?

Masduqie : Ya ujian bahasa Jerman, Pak.

Pak Guru : Lha kamu bodoh apa?

Masduqie : Lho kenapa, Pak?

Pak Guru : Nilai delapan kok minta ujian lagi. Kamu itu minta nilai berapa?

Masduqie : Lho, ya sudah Pak, barang kali bisa nilai sepuluh.

Dari nilai angka 3, karena shalawat, akhirnya mingkem menjadi angka 8. Setelah itu, beliau tidak pernah meninggalkan baca shalawat. Itulah satu pengalaman shalawat KH Masduqie Mahfudz saat muda.

banner-keajaiban-sholawat-800

Kisah Keajaiban Sholawat 2

Juga dialami oleh KH. Ahmad Masduqie Mahfudh sebagai Wasilah untuk Atasi Penyakit dan Kesulitan. Pengalaman shalawat beliau lagi, yakni ketika Kiai Masduqie harus melaksanakan dinas dinas di Tarakan, Kalimantan Timur. Pada suatu hari, ada tamu pukul 5 sore, dan bilang ke Kiai Masduqie, “Saya disuruh oleh ibu, disuruh minta air tawar.”

Kiai Masduqie mengaku masih bodoh saat itu. Seketika itu ia menjawab, “Ya, silakan ambil saja, air tawar. kan banyak itu di ledeng-ledeng itu.”

“Bukan itu, Pak. Air tawar yang dibacakan doa-doa untuk orang sakit itu, Pak,” kata si tamu.

“O, kalau itu ya tidak bisa sekarang. Ambilnya harus besok habis shalat shubuh persis.”

Kiai Masduqie menjawab begitu karena beliau ingin bertanya kepada sang istri perihal abah mertua yang sering nyuwuk-nyuwuk (membaca doa untuk mengobati) dan ingin tahu apa yang dirapalkan. Ternyata istri beliau tidak tahu tentang doa yang dibaca abahnya di rumah. Padahal Kiai Masduqie sudah janji.

Habis isya’ saat beliau harus wiridan membaca dalail, beliau menemukan hadits tentang shalawat. Inti hadits tersebut kurang lebih, “Siapa yang baca shalawat sekali, Allah beri rahmat sepuluh. Baca shalawat sepuluh, Allah beri rahmat seratus. Baca shalawat seratus, Allah beri rahmat seribu. Tidak ada orang yang baca shalawat seribu, kecuali Allah mengabulkan permintaanya.”

Setelah mencari di berbagai kitab, ketemulah hadits tersebut sebagai jawabannya. Lalu belaiu pun bangun di tengah malam, mengambil air wudlu dan air segelas, setelah itu membaca shalawat seribu kali. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidinâ Muhammad.

Setelah beliau selesai membaca seribu shalawat, beliau berdoa, ”Allahumaj’al hadzal ma’ dawâ-an liman syarabahu min jamî’il amrâdh”. Arti doa tersebut, “Ya allah, jadikanlah air ini sebagai obat dari segala penyakit bagi peminumnya”. Lalu meniupkan ke air gelas dan baca shalawat satu kali lagi. Di pagi hari, diberikanlah air tersebut kepada orang yang memintanya.

Setelah tiga hari, ada berita dari orang tersebut bahwa si penderita penyakit sudah sembuh setelah meminum air dari Kiai Masduqie. Padahal, sakitnya sudah empat bulan dan belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Dokter pun sudah tidak sanggup menangani penyakit yang diderita orang ini dan menyarankan untuk mencari obat di luar. Anehnya, pemberi kabar itu mengatakan bahwa Kiai Masduqie selama tiga hari itu mengelus-elus perut orang yang sakit.

Mengelus-ngelus perut? Tentu saja tidak, apalagi si penderita penyakit adalah perempuan yang bukan mahramnya. Hal itu juga mustahil karena Kiai Masduqie selama tiga hari di rumah saja. Berkat shalawat, atas izin Allah penyakitnya sembuh.

Sejak peristiwa itu di Kalimantan timur Kiai Masduqie terkenal sebagai guru agama yang pintar nyuwuk. Sampai penyakit apa saja bisa disembuhkan. Jika beliau tidak membacakan shalawat, ya istri beliau mengambilkan air jeding, yang sudah dipakai untuk wudlu. Ya sembuh juga penyakitnya. Inilah pengalaman shalawat Kiai Masduqie ketika dinas di Kalimantan.

Kisah Keajaiban Sholawat dan Khasiat Sholawat Yang di alami Oleh KH. Masduqie Lainnya.

Cerita lain, suatu ketika beliau harus ke Samarinda dengaan naik kapal pribadi milik Gubernur Aji Pangeran Tenggung Pranoto. Dalam pertengahan perjalanan melalui laut, tepatnya di Tanjung Makaliat kapal yang diinaikinya terkena angin puting beliung. Maka goyang-goyanglah kapal tersebut. Kiai Masduqie sadar, berwudlu, lalu naik ke atas kapal. Beliau ajak para awak kapal untuk mengumandangkan adzan agar malaikat pengembus angin dahsyat tersebut berhenti. Lalu berhentilah angin tersebut. Inilah salah satu pengalaman shalawat Kiai Masduqie.

“Kalau ada orang menderita penyakit aneh-aneh, datang ke Mergosono, insya Allah saya bacakan shalawat seribu kali. Kalau ndak mempan sepuluh ribu kali, insyaallah qabul,” kata Kiai Masduqie saat pengajian di Majelis Riyadul Jannah.

“Berkat shalawat Nabi, sampean tahu sekarang, saya bangun pondok sampai tingkat tiga, nggak pernah minta sokongan dana masyarakat, mengedarkan edaran, proposal nggak pernah. Modalnya hanya shalawat saja. Uang yang datang ya ada juga, tapi nggak habis-habis. Itu berkat shalawat,” lanjut Kiai Masduqie dalam pengajiannya.

Kisah lainnya, suatu ketika, seorang bidan mengadu kepada Kiai Masduqie tentang suaminya yang pergi meninggalkannya karena terpikat dengan wanita lain. Ia berharap suaminya bisa kembali. Abah, demikian para santrinya menyapa, menjawab bidang tersebut dengan tegas menganjurkan untuk baca shalawat. Bidan pun secara istiqamah mengamalkannya, dan dalam selang beberapa lama suaminya kembali seraya bertobat.

Kiai Masduqie memiliki sembilan putra/putri ini yang di samping sarjana juga bisa membaca kitab semua. Saat anak beliau ada yang mau ujian, di samping putranya juga disuruh baca shalawat, belaiu juga membacakan shalawat untuk kelancaran dan kesuksesan putra-putrinya.

Kiai Masduqie pernah dawuh, ”Berkat shalawat Nabi SAW, semua yang saya inginkan belum ada yang tidak dituruti oleh Allah. Belum ada permintaan yang tidak dituruti berkat shalawat Nabi. Semua permintaan saya terpenuhi berkat shalawat”.

Inilah beberapa kisah fadhilah, kehebatan, keajaiban dan khasiat bacaan sholawat yang sangat luar biasa. Selain dijanjikan syafaat dari Nabi, ada bonus-bonus lain bagi mereka yang senantiasa mengamalkan dzikir sholawat Nabi ini.

Mari selalu biasakan bersholawat. Shallu ‘alan Nabi Muhammad! Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad.

 

Sumber: Dirangkum dari web NU Online

Hukum Sholawat dan Keutamaan Shalawat kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ


Keajaiban Sholawat – Rahasia Sholawat – Majelis Sholawat – Yuk sholawat ! Hukum Sholawat dan Keutamaan Shalawat kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ.

Oleh: Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari*

Allah Ta’ala berfirman :

إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. [1]

Ibnu Abbas ra. berkata, “Maknanya, bahwa Allah dan para malaikat-Nya memberikan barakah pada Nabi SAW”. Menurut pendapat lain, maknanya, bahwa Allah Ta’ala mengasihi Nabi SAW dan para malaikat mendoakan beliau”.

Dari ayat di atas diketahui, bahwa bershalawat untuk Nabi SAW hukumnya wajib secara global, tidak terbatas dengan waktu, karena perintah Allah Ta’ala bershalawat untuk beliau SAW, dan para Imam mengartikan perintah ini dengan wajib dan mereka telah sepakat secara ijma’.

Kewajiban bershalawat yang bisa menggugurkan dosa adalah sekali dalam seumur hidup, seperti bersyahadat dengan kenabian beliau SAW. Adapun setelah itu, maka hukumnya sunnah, dianjurkan karena termasuk sunnah-sunnahnya Islam dan syiar ahli Islam.

Sahabat-sahabat Imam Syafi’i, rahimahullah, mengatakan, “Kewajiban bershalawat yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya SAW adalah bershalawat di dalam shalat (ketika bertasyahhud). Adapun selain itu, maka tidak ada perbedaan pendapat, bahwa bershalawat itu hukumnya tidak wajib.

Disunnahkan bershalawat untuk Nabi SAW dan memperbanyak shalawat ketika berdoa, karena beliau bersabda :

اِجْعَلُونِي فِي أَوَّلِ الدُّعَاءِ وَ أَوْسَطِهِ وَفِي آخِرِهِ

“Jadikanlah saya di awal doa, di tengah-tengah doa, dan di akhir doa”.[2]

Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. berkata, “Doa dan shalawat tergantung antara langit dan bumi, maka tidak ada doa sedikitpun yang naik kepada Allah sampai dibacakan shalawat untuk Nabi SAW” (Hadis riwayat Imam Dailami).[3]

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, “Jika salah seorang diantara kamu sekalian ingin memohon sesuatu kepada Allah, maka mulailah dengan memuji Allah sesuai dengan sifat-sifat-Nya, kemudian bershalawatlah untuk Nabi SAW, kemudian memohonlah, sesungguhnya dia akan lebih pantas untuk dikabulkan doanya, demikian juga ketika masuk masjid”.[4]

Diriwayatkan dari Sayyidah Fathimah ra., bahwa Nabi SAW melakukan hal itu, demikian juga ketika menshalati janazah”. Sementara iu, diceritakan dari Abu Umamah ra., bahwa bershalawat itu hukumnya sunnah. Imam Nasa’i rahimahullah, meriwayatkan dari Aus bin Aus ra., dari Nabi SAW tentang perintah memperbanyak membaca shalawat untuk beliau SAW di hari Jumat.

Umat Islam sejak dulu telah terbiasa menulis shalawat ketika menulis surat dan menyusun buku, setelah basmalah dan hamdalah. Hal ini bukan hanya dilakukan oleh generasi pertama, hal ini dilakukan pada wilayah Bani Hasyim, kemudian dilakukan oleh masyarakat Islam di seluruh penjuru bumi. Di antara mereka ada yang mengakhiri penulisan surat dan penyusunan buku-buku mereka dengan shalawat, sesuai dengan sabda beliau SAW :

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلائِكَةُ تَسْـتَغْفِـرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَاب

“Barangsiapa bershalawat untukku dalam menulis surat/kitab, maka para malaikat senantiasa akan memintakan ampun untuknya, selama namaku ada di dalam surat/kitab itu”.[5]

Adapun keutamaan bershalawat untuk Nabi SAW, maka hal ini adalah sesuatu yang tidak dirahasiakan lagi bagi seorang muslim, yaitu termasuk kepentingan yang paling penting bagi orang yang ingin dekat dengan Tuhannya bumi dan langit, karena shalawat ini bisa mendatangkan segala rahasia dan segala kemenangan, dan bisa mendatangkan pahala yang paling besar dan juga syafaat-syafaat.إ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amer ra. berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَة

“Jika kamu sekalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang dia ucapkan muadzdzin, dan bershalawatlah untukku, karena barangsiapa bershalawat untukku satu kali, maka Allah akan membalas shalawat untuknya sepuluh kali, kemudian mintalah wasilah untukku, karena wasilah itu adalah kedudukan di surga yang tidak layak kecuali untuk hamba Allah, dan saya berharap dia itu adalah saya. Maka barangsiapa memohon wasilah untukku, maka halal baginya syafaat ( pertolongan)”.[6]

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra., bahwa Nabi SAW bersabda:

أوْلَى النَّاسِ بِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَىَّ صَلاَة

“Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat untukku”.[7]

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab ra., bahwa Rasulullah SAW telah bangun malam ketika telah lewat seperempat malam, lalu bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا اللَّهَ اذْكُرُوا اللَّهَ جَاءَتِ الرَّاجِفَةُ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيهِ جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيهِ قَالَ أُبَىٌّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُكْثِرُ الصَّلاَةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلاَتِى فَقَالَ مَا شِئْتَ قَالَ قُلْتُ الرُّبُعَ. قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ ». قُلْتُ النِّصْفَ. قَالَ « مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ ». قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ. قَالَ: مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ. قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلاَتِى كُلَّهَا. قَالَ: إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

“Wahai manusia, berdzikirlah pada Allah, telah datang tiupan pertama yang diikuti dengan tiupan yang menggoncang alam, datanglah kematian dengan apa yang ada dalam kematian”. Maka bertanyalah sahabat Ubay bin Ka’ab ra., “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya memperbanyak shalawat untukmu, maka berapa kali saya harus bershalawat untukmu?”. Jawab beliau SAW, ”Sesukamu”. Kata Ubay ra, ”Kalau seperempat?”. Jawab beliau SAW, “Sesukamu, jika kamu menambahnya itu lebih baik”. Kata Ubay ra, “Sepertiganya?”. Jawab beliau SAW, “Sesukamu, jika kamu menambahnya itu lebih baik”. Kata Ubay ra., “Setengah?”. Jawab beliau SAW, “Sesukamu, jika kamu menambahnya itu lebih baik”. Kata Ubay ra., “Dua pertiga?”. Jawab beliau SAW, “Sesukamu, jika kamu menambahnya itu lebih baik”. Kata Ubay ra, “Wahai Rasulullah, maka saya jadikan semua shalawatku untukmu”. Sabda Nabi SAW, ”Kalau begitu, cukuplah keinginanmu, dan akan diampuni dosamu”.[8]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Jibril telah memanggil saya, lalu berkata :

مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ صَلاةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا، وَرَفَعَهُ عَشَرُ دَرَجَاتٍ

”Barangsiapa bershalawat untukmu dengan satu shalawat, maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh shalawat dan mengangkatnya dengan sepuluh derajat”[9].

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. berkata: “Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ عِنْد قَبْرِي سَمِعْته، وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ نَائِيًا بُلِّغْته

”Barangsiapa bershalawat untukku di makamku, maka saya mendengarnya, dan barangsiapa bershalawat untukku dari jauh, maka saya didatangkan pada shalawat itu”.[10]

Ada banyak hadis-hadis yang mencela orang yang tidak mau bershalawat untuk Nabi SAW Di antaranya adalah hadis yang diiriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya, bahwa dia berkata, ”Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ أُخْطِئَ بِهِ طَرِيْقُ الْجَنَّةِ

“Barangsiapa mendengar saya disebut di sisinya dan dia tidak mau bershalawat untukku, maka dia akan di salahkan jalannya menuju surga”. [11]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. berkata: ”Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ نَسِيَ الصَّلاَةَ عَلَيّ نَسِيَ طَرِيْقَ الْجَنَّة

”Barangsiapa yang lupa bershalawat untukku, maka dia akan lupa jalan menuju surga”.[12]

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri ra., dari Nabi SAW bersabda:

لَا يَجْلِسُ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَا يُصَلُّونَ فِيهِ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةٌ ، وَإِنْ دَخَلُوا الْجَنَّةَ لِمَا يَرَوْنَ مِنَ الثَّوَابِ

“Tidaklah suatu kaum duduk di satu majlis, lalu tidak bershalawat untuk Nabi SAW di majlis itu, maka mereka akan sangat menyesal, dan jika mereka masuk surga, tidak akan melihat pahala bershalawat”.[13]

Imam Tirmidzi, rahimahullah, menceritakan dari sebagian ahli ilmu, katanya, ”Jika seseorang membaca shalawat untuk Nabi SAW satu kali dalam majlis, maka itu sudah cukup untuk semua yang ada di majlis itu”.

Hadis-hadis tentang keutamaan bershalawat untuk Nabi SAW dan celaan bagi orang yang tidak mau bershalawat untuk beliau SAW hampir tidak bisa dihitung karena banyak sekali jumlahnya, maka dalam hadis-hadis yang telah saya sampaikan di atas adalah cukup bagi orang yang mempunyai pengertian.


*Diterjemahkan oleh Ustadz Zainur Ridlo, M.Pd.I. dari kitab Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.

[1] Al Ahzab ayat 56.

[2] Hadis riwayat Imam Abdurrazzaq. Lihat Jam’ul Jawami’/Al Jami’ Al Kabir, Imam Suyuthi, Jilid 1, halaman 17810. Jami’ Al Ahadis, jilid 16, halaman 44.

[3] Jam’ul Jawami’/Al Jami’ Al Kabir, Imam Suyuthi, jilid 1, halaman 12554.

[4] Mushannaf Abdurrazzaq, jilid 10, halaman 441. Majma’ Az Zawaid Wa Manba’ Al Fawaid, Muhaqqaq, jilid 11, halaman 20.

[5] Al Mu’jam Al Kabir, Imam Thabrani, jilid 19, halaman 181.

[6] Hadis riwayat Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Nasa’i, Imam Tirmidzi, dan Imam Ahmad.

[7] Hadis riwayat Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Hibban.

[8] Hadis riwayat Imam Tirmidzi dan Imam Hakim.

[9] Hadis riwayat Imam Thabrani dan Imam Al Bazzar.

[10] Hadis riwayat Imam Baihaqi dan Imam Al Khathib. Lihat Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar, jilid 10, halaman 243. Syarah Sunan Nasa’i, jilid 3, halaman 304. Faidhul Qadir, jilid 6, halaman 220.

[11] Imam Al Jahdlami, dalam buku “Fadhlush Shalati “Alan Nabi”, halaman 45.

[12] Hadis riwayat Imam Ibnu Majah dan Imam Baihaqi. Lihat “Subulul Huda War Rasyad Fi Sirati Khairil Ibad”, jilid 12, halaman 419. Asy Syifa Bi Ta’rifi Huquqi Al Musthafa, jilid 2, halaman 78. Mu’jam Ibnil Arabi, jilid 1, halaman 348.

[13] Hadis riwayat Imam Baihaqi dan Imam Nasa’i. Lihat “Syu’abul Iman”, Imam Baihaqi, jilid 3, halaman 133. Jam’ul Jawami’/Al Jami’ul Kabir, Imam Suyuthu, jilid 1, halaman 19157.

Sumber: tebuireng.online