gandakan-uang

Pesugihan Muslim, Menggandakan Uang, Biar Cepat Kaya

Pesugihan Muslim, Menggandakan Uang, Biar Cepat Kaya, Apakah ini benar? Yuk kita simak dengan seksama penjelasan berikut ini.

Di zaman ini, berbagai jalan untuk cepat kaya pun ditempuh, bahkan tak jarang kita dengar hal-hal aneh terjadi didunia ini tentang cara untuk menggapai kekayaan, mulai dari cara-cara rasional sampai dengan cara yang irasional.

Berikut beberapa cara Menggandakan Uang, Biar Cepat Kaya :

Pertama, ada yang mencari dengan jalan berutang (memperbanyak kredit)

Ada yang tujuannya bukan ingin memenuhi kebutuhan pokoknya, namun sekedar menambah motor, menambah mobil, menambah handphone. Padahal kredit di zaman ini tak lepas dari penggandaan utang, alias dikenai riba. Kenyataan  yang terjadi, utang yang kecil lama kelamaan bisa beranak menjadi sepuluh kali lipatnya.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah, no. 2414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Baja Juga:   Ilmu Yang Bermanfaat

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi, no. 1078; Ibnu Majah, no. 2413. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Al –‘Iroqiy mengatakan, “Urusannya masih menggantung, artinya tidak bisa kita katakan ia selamat ataukah sengsara sampai dilihat utangnya tersebut lunas ataukah tidak.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 4: 184)

Kedua, cari kesempatan korupsi

Korupsi adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Dari korupsi inilah terjadi penggelapan dana dan uang. Padahal seorang muslim dituntut untuk amanat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Tunaikanlah amanat pada orang yang memberikan amanat padamu dan janganlah mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. Abu Daud no. 3535, Tirmidzi no. 1264 dann Ahmad 3: 414, shahih).

Pegawai yang disebut amanat berarti yang memenuhi kewajiban-kewajibannya sebagai pegawai. Di antara tanda pegawai yang amanat terhadap kewajibannya:

Jika telah ada ketetapan waktu awal dan akhir kerja, maka ia harus memenuhi aturan tersebut. Tidak boleh seorang pegawai telat datang kerja dan lebih awal pulang atau ketika jam kerja malah berada di pusat perbelanjaan.

Tidak memanipulasi sisa uang perjalanan dinas. Beberapa pegawai ada yang sengaja memanipulasi laporang keuangan perjalanan dinas dan mengambilnya untuk masuk ke kantongnya sendiri.

Baja Juga:   Khasiat Dzikir Shalawat Shallallahu 'Ala Muhammad

Tidak menerima suap dan segala bentuk gratifikasi. Dalam hadits disebutkan, “Hadiah bagi pejabat (pekerja) adalah ghulul (khianat).” (HR. Ahmad 5: 424, shahih).

Ketiga, menggandakan uang

Menggandakan uang seperti yang lagi santer saat ini adalah dari “Dimas Kanjeng Taat Pribadi”. Secara logika saja, uang yang dicetak oleh Perum Peruri lalu beredar di tengah masyarakat jumlahnya terbatas. Lalu bagaimana bisa uang yang dikeluarkan Dimas Kanjeng begitu banyak hingga ratusan milyar rupiah?

Ada dua kemungkinan, pertama ia menipu orang banyak karena banyak yang menanam mahar padanya ketika itu. Ini termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil.

Disebutkan dalam ayat,

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil.” (QS. Al-Baqarah: 188)

Juga kemungkinan di situ dengan menggunakan bantuan jin (tuyul) untuk mengumpulkan uang. Jin dan tuyul ingin melayani jika kita melakukan syirik.

Kemungkinan yang kedua, itu adalah sihir. Kita mau sebut mukjizat seperti memindahkan istana di zaman Nabi Sulaiman ‘alaihis salam tidak bisa karena Dimas Kanjeng bukanlah Nabi.

Baja Juga:   Pesugihan Muslim, Jalan Tuhan Menjadi Kaya

Kita mau sebut karamah seperti para wali pun tidak bisa karena karamah itu dari para wali yang taat, sedangkan Dimas Kanjeng membuat ajaran yang mengada-ngada seperti menyariatkan shalawat fulus dan mengajarkan akidah Wihdatul Wujud seperti yang diajarkan dahulu oleh Syekh Siti Jenar, sebelumnya ada yang bernama Ibnu ‘Arabi (bukan Ibnul ‘Arabi).

Bacaan dzikir yang ditemukan di padepokan Dimas Kanjeng: sirrullah, dzatullah, sifatullah, wujudullah, ya ingsun sejatining Allah, wujud ingsun dzat Allah huakbar huakbar huakbar huallahuakbar Allahu Allah.

Kalau mukjizat bukan, kalau karamah bukan, berarti kemungkinan yang ketiga, itu adalah ilmu sihir. Kalau sihir bisa dipelajari, sedangkan mukjizat dan karamah itu datang dengan kuasa Allah.

Ketahuilah Islam itu sudah mengajarkan cara-cara untuk membuka pintu rezeki:

  1. Memperbanyak istighfar
  2. Menjalin silaturahim
  3. Memperbanyak sedekah dengan ikhlas cari ridha Allah
  4. Memperbanyak doa minta rezeki

Namun kuncinya sebenarnya pada iman dan takwa.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Semoga Bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

WeCreativez WhatsApp Support
Tim Kami siap untuk menjawab pertanyaan Anda. Tanya kami apa saja!
👋 Ass, Apa yang bisa kami bantu?