Panji Islam: Panji Islam Pertama yang dipercayakan oleh Rasulullah Ia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib


Panji Islam – Portal Berita Islam : Panji Islam Pertama yang dipercayakan oleh Rasulullah Ia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib.

Membahas kehidupan para sahabat tidak hanya menuai banyak manfaat, melainkan lebih dari itu, yakni meneladaninya.

Harus diakui dan disadari bahwa umat Islam zaman now, terutama dalam urusan berjuang atas nama agama, sangat jauh dari apa yang dilakukan oleh para sahabat. Sahabat, adalah orang yang dekat dengan Nabi dan memiliki komitmen keislaman yang tidak dapat diragukan.

Sejarah mencatat bahwa para sahabat rela meninggalkan harta benda dan sanak saudara demi memperjuangkan agama Islam.

Diantara sekian sahabat, Hamzah bin Abdul Muthalib sangat menarik untuk dikaji dedikasinya kepada Islam. Hamzah bukanlah orang yang sejak kecil memeluk Islam. Sekali lagi bukan. Ia memeluk agama Islam dengan petunjuk dari Allah Swt.

Kehadiran Hamzah dibarisan Islam membuat pasukan Islam semakin kuat dan ditakuti oleh lawan-lawannya. Bahkan, sekelas Abu Jahal, ketika melihat Hamzah berdiri dan bersiap dalam barisan kaum Muslimin, maka menurut keyakinannya perang sudah tidak dapat dielakkan lagi.

Hamzah Bin Abdul Muthalib
Ilustrasi Hamzah Bin Abdul Muthalib (image: ya2blog.wordpress.com)

Karena itu, ia menghasut orang-orang Quraisy untuk melakukan kekerasan terhadap Rasulullah dan para shahabat. Ia terus mempersiapkan diri untuk melancarkan perang saudara yang akan melenyapkan semua dendam dan sakit hatinya.

Melihat situasi dan kondisi itu, Hamzah tidak-lah diam berpangku tangan. Namun, segala usaha dan pengorbanannya ternyata tidak dapat membendung sagala gangguan mereka, tetapi keislamannya seolah-olah menjadi benteng dan perisai, di samping menjadi daya tarik bagi kebanyakan kabilah Arab untuk mengikuti langkahnya. Kemudian, daya tarik itu dikuatkan lagi dengan keislaman Umar bin Al-Khatthab, sehingga mereka pun berbondong-bondong memeluk Islam.

Para pembesar Quraisy yang kagum dan kemudian masuk Islam mempunyai karakteristik yang unik, yakni memiliki tekad kuat bahwa seluruh umurnya akan dibaktikan untuk Allah dan agama-Nya. Hal inilah yang terjadi pada Hamzah. Tak ayal jika dirinya dijuluki sebagai “Singa Allah dan singa Rasul-Nya.

Bahkan, pada suatu ketika, mencuat peperangan. Pengiriman pasukan perang ini tidak diikuti oleh Nabi Muhammad Saw. Namun, pasukan Islam cukup bernyali dan bersemangat karena ada Hamzah di situ.

Dan peperangan yang tidak disertai Nabi kemudian pimpinan diserahkan kepada sahabat terjadi pertama kali pada diri Hamzah. Panji Islam pertama yang dipercayakan oleh Rasulullah kepada salah seorang Muslimin diserahkan kepada Hamzah. Kemudian, ketika kedua pasukan telah berhadap-hadapan di Perang Badar, keberanian luar biasa yang telah ditunjukkan oleh Singa Allah dan Singa Rasul-Nya yang tiada lain adalah Hamzah. [n].

Sumber buku : Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah/ Penulis : Khalid Muhammad Khalid/ Penerbit : CV Diponegoro Bandung, 2006.

sumber : harakatuna.com

Makna dan Pengertian Jihad Sesungguhnya Dalam Islam


Panji Islam – Portal Berita Islam : Makna dan Pengertian Jihad Sesungguhnya Dalam Islam.

MAKNA, arti, definisi, atau pengertian jihad yang sebenarnya harus dipahami dengan baik dan disosialisasikan kaum Muslim kepada publik agar tidak terjadi miskonsepsi, mispersepsi, dan misunderstanding tentang konsep jihad dalam Islam.

Pengertian jihad dewasa ini tampak makin “menyempit”, yaitu hanya dipahami sebagai “perang suci” (holy war) atau “perang bersenjata” (jihad fisik-militer). Bahkan, dewasa ini kalangan masyarakat Barat kerap mengasosiasikan jihad dengan ekstremisme, radikalisme, bahkan terorisme.

Aksi kekerasan sebagai bentuk perlawanan dan perjuangan sebuah gerakan Islam oleh Barat disebut aksi “terorisme”. Sebaliknya, pihak gerakan Islam meyakini itu sebagai salah satu manifestasi jihad fi sabilillah.

Banyak kalangan sangat fobi atau ngeri dengan kata jihad. Sebabnya, ruhul jihad merupakan sumber kekuatan umat Islam. Pengamalan jihad membawa seorang Muslim pada kerelaan berkorban apa saja, nyawa sekalipun, demi membela agama dan umat Islam.

Bagi mujahid –sebutan bagi orang yang berjihad– mati syahid adalah cita-cita karena para syuhada dijamin masuk surga.

Makna dan Pengertian Jihad Sesungguhnya Dalam IslamPengertian Jihad Secara Bahasa

Kata jihad berasal dari kata “jahada” atau ”jahdun” (جَهْدٌ) yang berarti “usaha” atau “juhdun” ( جُهْدٌ) yang berarti kekuatan.

Secara bahasa, asal makna jihad adalah mengeluarkan segala kesungguhan, kekuatan, dan kesanggupan pada jalan yang diyakini (diiktikadkan) bahwa jalan itulah yang benar.

Menurut Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Nabi Saw, secara bahasa jihad berarti “mencurahkan segenap kekuatan dengan tanpa rasa takut untuk membela Allah terhadap cercaan orang yang mencerca dan permusuhan orang yang memusuhi”.

Pengertian Jihad Secara Istilah

Pengertian jihad secara istilah sangat luas, mulai dari mencari nafkah hingga berperang melawan kaum kuffar yang memerangi Islam dan kaum Muslim.
Dalam istilah syariat, jihad berarti mengerahkan seluruh daya kekuatan memerangi orang kafir dan para pemberontak.

Menurut Ibnu Taimiyah, jihad itu hakikatnya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghasilkan sesuatu yang diridhoi Allah berupa amal shalih, keimanan dan menolak sesuatu yang dimurkai Allah berupa kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.

Makna jihad lebih luas cakupannya daripada aktivitas perang. Jihad meliputi pengertian perang, membelanjakan harta, segala upaya dalam rangka mendukung agama Allah, berjuang melawan hawa nafsu, dan menghadapi setan.

Kata “jihad” dalam bentuk fiil maupun isim disebut 41 kali dalam Al-Qur’an, sebagian tidak berhubungan dengan perang dan sebagian berhubungan dengan perang.

Dalam hukum Islam, jihad mempunyai pengertian sangat luas yang dibagi dalam dua pengertian: secara umum dan khusus (Ensiklopedi Islam).

Makna Umum Jihad

Secara umum, sebagian ulama mendefinisikan jihad sebagai “segala bentuk usaha maksimal untuk penerapan agama Islam dan pemberantasan kedzaliman serta kejahatan, baik terhadap diri sendiri maupun dalam masyarakat.”

Ada juga yang mengartikan jihad sebagai “berjuang dengan segala pengorbanan harta dan jiwa demi menegakkan kalimat Allah (Islam) atau membela kepentingan agama dan umat Islam.”

Kata-kata jihad dalam al-Quran kebanyakan mengandung pengertian umum. Artinya, pengertiannya tidak hanya terbatas pada peperangan, pertempuran, dan ekspedisi militer, tetapi mencakup segala bentuk kegiatan dan usaha yang maksimal dalam rangka dakwah Islam, amar makruf nahyi munkar (memerintah kebajikan dan mencegah kemunkaran).

Dalam pengertian umum ini, berjihad harus terus berlangsung baik dalam keadaan perang maupun damai, karena tegaknya Islam bergantung pada jihad.

Makna Khusus Jihad

Jihad dalam arti khusus bermakna “perang melawan kaum kafir atau musuh-musuh Islam”. Pengertian seperti itu antara lain dikemukakan oleh Imam Syafi’i bahwa jihad adalah “memerangi kaum kafir untuk menegakkan Islam”.

Juga sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Atsir, jihad berarti “memerangi orang Kafir dengan bersungguh-sungguh, menghabiskan daya dan tenaga dalam menghadapi mereka, baik dengan perkataan maupun perbuatan.”

Pengertian jihad secara khusus inilah yang berkaitan dengan peperangan, pertempuran, atau aksi-aksi militer untuk menghadapi musuh-musuh Islam.

Kewajiban jihad dalam arti khusus ini (berperang, red) tiba bagi umat Islam, apabila atau dengan syarat:

  • Agama Islam dan kaum Muslim mendapat ancaman atau diperangi lebih dulu (QS 22:39, 2:190)
  • Islam dan kaum Muslim mendapat gangguan yang akan mengancam eksistensinya (QS 8:39)
  • Untuk menegakkan kebebasan beragama (QS 8:39)
  • Membela orang-orang yang tertindas (QS 4:75).

Banyak sekali ayat al-Quran yang berbicara tentang jihad dalam arti khusus ini (perang), antara lain:

  • Tentang keharusan siaga perang (QS 3:200, 4:71);
  • Ketentuan atau etika perang (QS 2:190,193, 4:75, 9:12, 66:9);
  • Sikap menghadapi orang kafir dalam perang (QS 47:4),
  • Uzur yang dibenarkan tidak ikut perang (QS 9:91-92).

Ayat yang secara khusus menegaskan hukum perang dalam Islam bisa disimak pada QS 2:216-218 yang mewajibkan umat Islam berperang demi membela Islam. Dan, perang dalam Islam sifatnya “untuk membela atau mempertahankan diri” (defensif), sebagaimana firman Allah SWT,

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS 2:190).

Tujuan Jihad

Yang menjadi latar belakang perlunya berjihad didasarkan pada al-Quran, antara lain Surat at-Taubah:13-15 dan an-Nisa:75-76, yakni:

(a) Mempertahankan diri, kehormatan, dan harta dari tindakan sewenang-wenang musuh,
(b) Memberantas kedzaliman yang ditujukan pada umat Islam,
(c) Membantu orang-orang yang lemah (kaum dhu’afa), dan
(d) Mewujudkan keadilan dan kebenaran.

Hukum Jihad: Wajib

Jihad merupakan kewajiban setiap orang beriman. Perintah jihad merupakan salah satu ujian Allah SWT untuk menguji sejauh mana keimanan seseorang. Firman Allah SWT,

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja) sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman?” (QS 9:16)

Dalam al-Quran, kata jihad hampir selalu diikuti dengan kalimat fi sabilillah (di jalan Allah), menjadi jihad fi sabilillah, yaitu berjuang melalui segala jalan dengan niat untuk menuju keridhaan Allah SWT (mardhatillah) dalam rangka mengesakan Allah SWT (menegakkan tauhidullah), dan bahwa jihad harus dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah serta norma-norma yang telah ditentukan Allah SWT.

Macam-Macam Jihad

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS 9:20)

Berdasarkan ayat tersebut, jihad terbagi dua, yaitu :
1. Jihadul Maali (jihad dengan harta)
2. Jihadun Nafsi (jihad dengan diri atau jiwa raga).

Jihad dengan harta yaitu berjuang membela kepentingan agama dan umat Islam dengan menggunaan materi (harta kekayaan) yang dimiliki.

Jihadunnafsi yaitu berjuang dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada pada diri berupa tenaga, pikiran, ilmu, kerampilan, bahkan nyawa sekalipun.

Ibnu Qayyim membagi jihad ke dalam tiga kategori dilihat dari pelaksanaannya, yaitu
1. Jihad mutlak,
2. Jihad hujjah,
3. Jihad ‘amm.

Jihad mutlak adalah perang melawan musuh di medan pertempuran (berjuang secara fisik). Jihad hujjah adalah jihad yang dilakukan dalam berhadapan dengan pemeluk agama lain dengan mengemukakan argumentasi yang kuat tentang kebenaran Islam (berdiskusi, debat, atau dialog).

Ibnu Taimiyah menanamakan jihad macam ini sebagai “jihad dengan lisan” (jihad bil lisan) atau “jihad dengan ilmu dan penjelasan” (jihad bil ‘ilmi wal bayan). Dalam hal ini, kemampuan ilmiah dan berijtihad termasuk di dalamnya.

Sedangkan jihad ‘amm (jihad umum) yaitu jihad yang mencakup segala aspek kehidupan baik yang bersifat moral maupun material, terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Jihad ini dilakukan dengan mengorbankan harta, jiwa, tenaga, waktu, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Jihad ini adalah menghadapi musuh berupa diri sendiri (hawa nafsu), setan, ataupun musuh-musuh Islam (manusia).

Macam-Macam Jihad Menurut Imam Al-Ghazali

1. Jihad Zahir — jihad melawan orang yang tidak menyembah Allah SWT.
2. Jihad menghadapi orang yang menyebarkan ilmu dan hujjah yang batil.
3- Berjihad melawan nafsu yang sentiasa menyeret manusia ke arah kejahatan. (Kitab Penenang Jiwa, Imam Al-Ghazali)

Jihad bukan teror, teror bukan jihadAyat-Ayat dan Hadits tentang Jihad

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah , mereka itu mengharapkan rahmat Allah , dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah:218)

(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah ; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah ), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (Al Baqarah:273)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Ali ‘Imran:142)

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak terut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (An Nisaa’:95)

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah Kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al Maa-idah:35)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Anfaal:72)

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah , dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. (Al Anfaal:74)

Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Anfaal:75)

Apakah kamu akan mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyatan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah , Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (At Taubah:16)

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah . Mereka tidak sama di sisi Allah ; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. (At Taubah:19).

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah ; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. (At Taubah:20)

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At Taubah:24).
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah . Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (At Taubah:41)

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta ijin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa. (At Taubah:44).

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (At Taubah:73).
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)”, jikalau mereka mengetahui. (At Taubah:81)

Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung. (At Taubah:88)

Nabi s.a.w telah ditanya: Apakah yang dapat dibandingkan dengan jihad pada jalan Allah? Nabi s.a.w menjawab: Kamu tidak akan sanggup melakukannya. Pertanyaan tersebut diulang sehingga dua atau tiga kali. Tetapi baginda masih menjawab: Kamu tidak akan sanggup melakukannya. Pada kali yang ketiganya baginda bersabda: Perumpamaan orang yang berjihad pada jalan Allah samalah seperti seorang yang selalu berpuasa dan selalu melakukan ibadat malam serta taat kepada ayat-ayat Allah. Beliau tidak merasa letih dari puasa dan sembahyangnya sehinggalah orang yang berjihad pada jalan Allah itu kembali (HR Muslim).

Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya keluar berjuang di jalan Allah sepagi atau sepetang adalah lebih baik daripada dunia dan isinya (HR Muslim)

Sesungguhnya seorang lelaki telah datang kepada Nabi s.a.w dan bertanya: Siapakah orang yang paling baik dari kalangan manusia? Nabi s.a.w menjawab: Seseorang yang berjihad pada jalan Allah dengan harta benda dan jiwanya. Lelaki itu bertanya lagi: Kemudian siapa lagi? Nabi s.a.w menjawab: Seorang mukmin yang berada di kaki bukit dan beribadat kepada Allah serta menjauhkan manusia dari kejahatannya (HR Muslim).

Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Allah tersenyum (reda) terhadap dua orang lelaki, salah seorang darinya membunuh yang seorang lagi namun kedua-duanya dimasukkan ke dalam Syurga. Para sahabat bertanya: Bagaimana boleh terjadi begitu wahai Rasulullah? Baginda bersabda: Seseorang yang ikut berperang pada jalan Allah lalu beliau mati syahid, kemudian orang yang membunuh tadi telah bertaubat dan Allah telah menerima taubatnya. Setelah memeluk Islam beliau juga turut keluar berperang pada jalan Allah, kemudian beliau juga mati syahid (HR Muslim).

Dengan menelaah tulisan yang dirangkum dari berbagai sumber di atas, insya Allah kita akan memahami Pengertian Jihad yang Sebenarnya. Wallahu a’lam bish-showabi.

 

sumber : risalahislam.com

Panji Islam, Misteri Pasukan Panji Hitam


Panji Islam – Portal Berita Islam : Panji Islam, Misteri Pasukan Panji Hitam. Panji Rasulullah SAW, Al-Liwa (Panji Putih) dan Ar-Rayah (Panji Hitam), Adalah Panji Tauhid Kaum Muslimin.

Sabda Nabi SAW, “Al-Mahdi akan muncul setelah keluarnya Panji-panji Hitam dari sebelah Timur, yang mana pasukan ini tidak pernah kalah dengan pasukan mana pun.” (Ibnu Majah) Sabda Nabi SAW, “Panji-panji Hitam akan keluar dari arah Khurasan, dan sementara itu kawan-kawan al-Mahdi (pula) keluar menuju ke Baitulmaqdis.” Sabda Nabi SAW, “Jika kamu semua melihat Panji-panji Hitam datang dari arah Khurasan, maka sambutlah ia walaupun kamu terpaksa merangkak di atas salju.

Sesungguhnya di tengah-tengah panji-panji itu ada Khalifah Allah yang mendapat petunjuk.” Maksudnya ialah al-Mahdi. (Ibnu Majah, Abu Nuaim & al-Hakim) Khurasan adalah wilayah yang meliputi Afghanistan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan, menurut situs www.nationmaster.com

 

panji-panji-islamAshabu Rayati Suud akan muncul dari timur Khurasan, benarkah mereka Taliban dan Al-Qaeda ?

Kemunculan salah satu tandhim askari kaum militan fundamentalis di wilayah Khurasan (Afghanistan, Iraq dll) yang dikenal dengan Taliban dan Al-Qaeda memunculkan pertanyaan, benarkah mereka adalah calon Ashhabu Rayati Suud yang dijanjikan?

Pasalnya, kelompok ini adalah satu-satunya kaum militan muslim yang paling ditakuti oleh barat kerana kehebatan tempur mereka, juga kerana cita-cita mereka yang radikal; mendirikan negara Islam dari hujung Asia Tenggara hingga barat Morocco.

Mereka adalah muslim fundamentalis yang paling kuat melaksanakan hukum Islam sebagaimana yang pernah berlaku di Madinah pada masa Rasulullah saw. Merekalah satu-satunya kelompok yang paling mendekati gambaran kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya; beriman, hijrah, perang, mendirikan daulah Islam, melaksanakan semua kewajiban tanpa terkecuali, mendapat boikot dan kecaman antarabangsa, mendapat ujian paling berat dan menyatakan keimanannya, dikepung oleh pasukan ahzab dan banyak lagi sejarah kehidupan generasi assabiqunal awwalun yang hari ini tergambar dalam realiti hidup mereka.

Beberapa penganalisisi hadits-hadits beranggapan bahawa merekalah yang lebih layak untuk menyandang gelaran kehormat itu sesuai dengan beratnya ujian keimanan yang mereka hadapi. Dalam hal ini, samada tepat atau melesetnya anggapan-angapan tersebut, ada hal lain yang lebih penting untuk difahami oleh seorang muslim berkaitan dengan dua kelompok fundamentalis ini.

Setiap muslim hendaknya berhati-hati untuk tidak menghakimi kelompok-kelompok yang secara lahir memiliki stigma dan citra negatif dari musuh-musuh Islam –bahkan dari kalangan umat Islam sendiri- bahawa hal itu bukan bererti keadaan mereka adalah sebagaimana tuduhan itu. Merupakan sunnatullah bahwa musuh-musuh Islam dari bangsa barat memiliki dendam dan kebencian kepada setiap muslim yang memegang teguh agama mereka.

Dalam hal ini, kelompok Taliban dan Al-Qaeda yang sangat komitmen menegakkan semua bentuk syari’at Islam dalam masyarakatnya sangat wajar bila dibenci oleh bangsa Barat. Termasuk sebagian kaum muslimin yang termakan oleh isu dan propaganda bangsa barat tentang “kekejian dan kejahatan” Taliban terhadap manusia. Tanpa bermaksud memastikan apakah Taliban merupakan termasuk kelompok Ashhabu Rayatis Suud, yang pasti bahawa memberikan tuduhan jahat dan keji yang belum tentu demikian kenyataannya merupakan kejahatan tersendiri.

Sementara mendoakan mereka, mengharapkan mereka untuk membela umat Islam, mengusir musuh-musuh Islam dan menegakkan syari’at di muka bumi merupakan sikap yang baik. Namun demikian – sekalipun Taliban dan Al-Qaeda memiliki ciri-ciri yang banyak keserupaannya dengan kelompok Ashabu Rayati Suud – mengesahkan secara haqqul yakin bahawa mereka adalah Ashabu Rayati Suud adalah termasuk sikap tergesa-gesa. Namun, mudah-mudahan tidak salah jika kita berharap, semoga mereka itulah kelompok yang dimaksudkan. Amiin.

Hingga kini Pasukan Panji Hitam, masih menjadi Misteri…

sumber : granadamediatama/akhirjaman

Panji Islam, Mari Kenali Panji – Panji Islam


Panji Islam – Portal Berita Islam : Panji Islam, Mari Kenali Panji – Panji Islam. Ibn Abbas ra. Juga menyatakan: Panji (râyah) Rasulullah saw. berwarna hitam dan benderanya (liwâ’) berwarna putih; tertulis padanya: Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh (HR ath-Thabrani).

Panji Rasulullah SAW, Al-Liwa (Panji Putih) dan Ar-Rayah (Panji Hitam), Adalah Panji Tauhid Kaum Muslimin

Panji Islam / Panji Hitam: Ar-Rayah dan Al-Liwa! Bendera Umat Muslim yang Biasa Dibawa Rasulullah dan Para Sahabat.

Panji Islam, Mari Kenali Panji – Panji Islam. Ibn Abbas ra. Juga menyatakan:
Panji (râyah) Rasulullah saw. berwarna hitam dan benderanya (liwâ’) berwarna putih; tertulis padanya: Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh (HR ath-Thabrani).

Kaum Sekuler Radikal yang selama ini membuat streotip negatif tentang islam, telah membuat opini menyesatkan bahwa bendera hitam dan putih yang bertuliskan lafadz tauhid itu adalah bendera Teroris. Hal itu tentu merupakan sebuah kemufakatan jahat atas simbol-simbol islam.

Sahabat, sesungguhnya bendera itu adalah bendera Nabi saw. Selain hadits di atas, terdapat juga lafadz hadits lainnya,

Jabir bin Abdullah ra. menyatakan, “Sesungguhnya liwa Nabi saw. pada Hari Penaklukkan Kota Makkah berwarna putih.” (HR Ibn Majah, al-Hakim dan Ibn Hibban)

Dahulu, sebelum kenal islam dengan mindset perjuangannya yang universal dan kaffah, Simbol-simbol dan pemikiran islam nampak mengerikan. Tapi akhirnya saya tersadarkan bahwa islam adalah agama yang kaffah, yang mengatur urusan pribadi hingga negara. Maka wajar, kekinian getol sekali para pengemban islam, menginformasikan bendera islam.

Sahabatku, menyanjung dan memuliakan bendera ini adalah kehormatan yang terus perlu kita jaga. Kita berhadapan dengan kaum pandir, berhadapan dengan mereka yang berselimut “iman” padahal jubah mereka tak lebih sebagai gerakan sekuler yang radikal, yang ingin memisahkan rakyat dengan islam yang diembannya.

Sesungguhnya, Allah SWT sudah memberikan peringatan kepada kita semua terhadap hal ini,

Di antara manusia (ada) orang yang menggunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan (QS Luqman [31]: 6).

Maka, mari kita kibarkan bendera tauhid itu. Apapun ras kita, bangsa kita, negara kita. Semoga tulisan ini menjadi bagian penting untuk mewacanakan islam sebagai petunjuk hidup manusia.

Kemuliaan Panji Rosulullah SAW

Ar-Rayah dan Al-Liwa

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. merupakan kemuliaan bagi pemegangnya. Saat Perang Khaibar, misalnya, para sahabat termasuk Umar bin al-Khaththab amat berharap mendapatkan kemuliaan diberi mandat memimpin detasemen dengan diserahi ar-Rayah oleh Rasul saw. Namun, Ali bin Abi Thaliblah yang akhirnya mendapat kemuliaan itu. Rasulullah saw. menyerahkan ar-Rayah dalam berbagai peperangan kepada panglima pasukan kaum Muslim. Di antaranya, dalam Perang Mu’tah, Rasul saw. menyerahkan ar-Rayah kepada Zaid bin Haritsah namun syahid,lalu digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Ja’far syahid, lalu digantikan oleh Abdullah bin Rawahah yang saat itu syahid pula. Akhirnya, panji perang diserahkan pada Khalid Bin Walid sebagai panglima. Selain itu, Usamah bin Zaid diserahi ar-Rayah sebagai panglima pasukan untuk melawan Romawi.

Rayah Rasul saw. itu merupakan panji tauhid dan menjadi lambang eksistensi kaum Muslim dalam peperangan. Para sahabat pun mempertahankan ar-Rayah dengan taruhan nyawa agar ar-Rayah itu tidak jatuh. Dalam Perang Uhud, Mush’ab bin Umair mempertahankan ar-Rayah yang ia pegang hingga kedua lengan beliau putus tertebas oleh musuh, namun beliau masih terus mendekap Rayah itu dengan sisa kedua lengannya hingga akhirnya ia syahid. Rayah itu lalu dipegang oleh Abu ar-Rum bin Harmalah dan ia pertahankan hingga tiba di Madinah.

Namun, makna Rayah dan Liwa’ Rasul saw itu bukan terbatas dalam peperangan saja, apalagi berhenti sekadar simbol. Keduanya mengekspresikan makna-makna mendalam yang lahir dari ajaran Islam. Liwa’ dan Rayah Rasulullah saw. merupakan lambang akidah Islam. Pada al-Liwa` dan ar-Rayah tertulis kalimat tauhid: Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh. Kalimat inilah yang membedakan Islam dan kekufuran, yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Maka dari itu, sebagai simbol syahadat, panji tersebut akan dikibarkan oleh Rasulullah saw. kelak pada Hari Kiamat. Panji ini disebut sebagai Liwa` al-Hamdi. Rasulullah saw. bersabda:

Aku adalah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan tidak ada kesombongan. Di tanganku ada Liwa` al-Hamdi dan tidak ada kesombongan. Tidak ada nabi pada hari itu Adam dan yang lainnya kecuali di bawah Liwa’-ku (HR at-Tirmidzi).

Ar-Rayah-dan-Al-Liwa-Bendera-Islam
Ar-Rayah-dan-Al-Liwa-Bendera-Islam

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. juga merupakan pemersatu umat Islam. Kalimat tauhid Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh adalah kalimat yang mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa melihat lagi keragaman bahasa, warna kulit, suku, bangsa ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam.

Imam Abdul Hayyi Al-Kattani menjelaskan rahasia bahwa jika suatu kaum berhimpun di bawah satu panji/bendera, itu berarti panji/bendera itu menjadi tanda kesatuan pendapat mereka (ijtimâ’i kalimatihim) dan persatuan hati mereka (ittihâdi qulûbihim). Dengan demikian mereka bagaikan satu tubuh (ka al-jasad al-wâhid) (Abdul Hayyi al-Kattani, Nizhâm al-Hukûmah an-Nabawiyyah [At-Tarâtib al-Idâriyyah], I/266).

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. itu bisa dimaknai sebagai identitas Islam dan kaum Muslim. Pasalnya, Liwa’ dan Rayah Rasululah saw. ini tidak hanya dikibarkan dan dijaga, tetapi juga dihormati. Rayah Nabi saw. itu tidak boleh diinjak, dijadikan bantal, dibawa atau diletakkan di tempat-tempat yang identik dengan penghinaan; seperti dibawa ke kamar mandi, dijadikan serbet, keset dan sejenisnya. Dalilnya bahwa “Rasulullah saw. memakai cincin yang diukir dengan kalimat: Muhammad RasululLâh. Jika masuk kamar mandi, beliau selalu melepas cincin itu.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, al-Baihaqi dan al-Hakim).

Faktanya, pada Liwa’ dan Rayah Rasul saw. sama-sama tertulis lafzh al-Jalâlah. Karena itu apapun sikap dan tindakan yang bertujuan untuk menghinakan al-Liwa’ atau ar-Rayah yang bertuliskan “Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh” jelas dilarang. Bentuk penghinaan yang dilarang tidak hanya dalam bentuk verbal, dengan menempatkan di tempat yang identik dengan penghinaan, tetapi juga penghinaan dalam bentuk non-verbal. Seperti menyatakan bahwa bendera tersebut bendera teroris, bahkan dikriminalisasi. Tentu aneh sekali jika penghinaan dan pelecehan itu datang dari seorang Muslim.

Bagaimana mungkin seorang Muslim melecehkan panji Tauhid, padahal kalimat tauhid itulah yang akan menyelamatkan dia di akhirat kelak dari siksa neraka? Bagaimana mungkin seorang Muslim, yang mengaku menjadi pengikut Nabi saw., yang di akhirat berharap mendapat syafaat beliau, justru membenci dan merendahkan panji Rasulullah saw? Bagaimana mungkin seorang Muslim yang berdoa agar di akhirat dinaungi di bawah Liwa’ al-Hamdi Rasul saw. justru memusuhi panji itu saat di dunia?

Alhasil, seperti dinyatakan oleh Imam Muhammad asy-Syaibani dalam As-Siyar al-Kabîr dan oleh Imam as-Sarakhsi dalam Syarhu as-Siyar al-Kabîr, Liwa’ kaum Muslim selayaknya berwarna putih dan Rayah mereka berwarna hitam sebagai bentuk peneladanan kepada Rasul saw. Umat Islam juga seharusnya menjunjung tinggi dan menghormati Liwa’ dan Rayah Rasul saw. itu serta berjuang bersama untuk mengembalikan kemulian dan makna keduanya sebagai panji tauhid, identias Islam dan kaum Muslim sekaligus pemersatu mereka. WalLâh a’lam bi ash-shawâb.

 

sumber : voa-islam.com

Panji Rasulullah SAW, Al-Liwa (Panji Putih) dan Ar-Rayah (Panji Hitam), Adalah Panji Tauhid Kaum Muslimin


Panji Islam – Portal Berita Islam : Panji Rasulullah SAW, Al-Liwa (Panji Putih) dan Ar-Rayah (Panji Hitam), Adalah Panji Tauhid Kaum Muslimin

Panji Islam / Panji Hitam: Ar-Rayah dan Al-Liwa! Bendera Umat Muslim yang Biasa Dibawa Rasulullah dan Para Sahabat.

Panji Rasulullah saw, baik al-liwa (panji putih) dan ar-rayah (panji hitam) bukanlah sembarang panji yang berhenti sebagai simbol. Rayah dan Liwa’ Rasul saw. digambarkan secara detil dalam banyak hadits, baik warnanya, bentuknya maupun tulisannya. Ibnu ‘Abbas ra. menuturkan:

Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan Liwa’ beliau berwarna putih (HR at-Tirmidzi, al-Baihaqi, ath-Thabarani dan Abu Ya’la).

Bentuk Rayah dan Liwa’ Nabi saw. itu persegi empat. Al-Barra’ bin ‘Azib ra. menuturkan:

Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam, persegi empat, terbuat dari kain wol Namirah (HR at-Tirmidzi, an-Nasai dan al-Baghawi).

Pada Rayah dan Liwa’ Rasulullah saw. tertulis kalimat tauhid Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh, sebagaimana hadis penuturuan Ibnu Abbas ra.:

Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan Liwa’ beliau berwarna putih; tertulis di situ lâ ilâha illa AlLâh Muhammad RasûlulLâh (HR Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlâq an-Nabiy saw).

Kemuliaan Panji Rosulullah SAW

Ar-Rayah dan Al-Liwa

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. merupakan kemuliaan bagi pemegangnya. Saat Perang Khaibar, misalnya, para sahabat termasuk Umar bin al-Khaththab amat berharap mendapatkan kemuliaan diberi mandat memimpin detasemen dengan diserahi ar-Rayah oleh Rasul saw. Namun, Ali bin Abi Thaliblah yang akhirnya mendapat kemuliaan itu. Rasulullah saw. menyerahkan ar-Rayah dalam berbagai peperangan kepada panglima pasukan kaum Muslim. Di antaranya, dalam Perang Mu’tah, Rasul saw. menyerahkan ar-Rayah kepada Zaid bin Haritsah namun syahid,lalu digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Ja’far syahid, lalu digantikan oleh Abdullah bin Rawahah yang saat itu syahid pula. Akhirnya, panji perang diserahkan pada Khalid Bin Walid sebagai panglima. Selain itu, Usamah bin Zaid diserahi ar-Rayah sebagai panglima pasukan untuk melawan Romawi.

Rayah Rasul saw. itu merupakan panji tauhid dan menjadi lambang eksistensi kaum Muslim dalam peperangan. Para sahabat pun mempertahankan ar-Rayah dengan taruhan nyawa agar ar-Rayah itu tidak jatuh. Dalam Perang Uhud, Mush’ab bin Umair mempertahankan ar-Rayah yang ia pegang hingga kedua lengan beliau putus tertebas oleh musuh, namun beliau masih terus mendekap Rayah itu dengan sisa kedua lengannya hingga akhirnya ia syahid. Rayah itu lalu dipegang oleh Abu ar-Rum bin Harmalah dan ia pertahankan hingga tiba di Madinah.

Namun, makna Rayah dan Liwa’ Rasul saw itu bukan terbatas dalam peperangan saja, apalagi berhenti sekadar simbol. Keduanya mengekspresikan makna-makna mendalam yang lahir dari ajaran Islam. Liwa’ dan Rayah Rasulullah saw. merupakan lambang akidah Islam. Pada al-Liwa` dan ar-Rayah tertulis kalimat tauhid: Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh. Kalimat inilah yang membedakan Islam dan kekufuran, yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Maka dari itu, sebagai simbol syahadat, panji tersebut akan dikibarkan oleh Rasulullah saw. kelak pada Hari Kiamat. Panji ini disebut sebagai Liwa` al-Hamdi. Rasulullah saw. bersabda:

 

Ar-Rayah-dan-Al-Liwa-Bendera-Islam
Ar-Rayah-dan-Al-Liwa-Bendera-Islam

 

Aku adalah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan tidak ada kesombongan. Di tanganku ada Liwa` al-Hamdi dan tidak ada kesombongan. Tidak ada nabi pada hari itu Adam dan yang lainnya kecuali di bawah Liwa’-ku (HR at-Tirmidzi).

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. juga merupakan pemersatu umat Islam. Kalimat tauhid Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh adalah kalimat yang mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa melihat lagi keragaman bahasa, warna kulit, suku, bangsa ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam.

Imam Abdul Hayyi Al-Kattani menjelaskan rahasia bahwa jika suatu kaum berhimpun di bawah satu panji/bendera, itu berarti panji/bendera itu menjadi tanda kesatuan pendapat mereka (ijtimâ’i kalimatihim) dan persatuan hati mereka (ittihâdi qulûbihim). Dengan demikian mereka bagaikan satu tubuh (ka al-jasad al-wâhid) (Abdul Hayyi al-Kattani, Nizhâm al-Hukûmah an-Nabawiyyah [At-Tarâtib al-Idâriyyah], I/266).

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. itu bisa dimaknai sebagai identitas Islam dan kaum Muslim. Pasalnya, Liwa’ dan Rayah Rasululah saw. ini tidak hanya dikibarkan dan dijaga, tetapi juga dihormati. Rayah Nabi saw. itu tidak boleh diinjak, dijadikan bantal, dibawa atau diletakkan di tempat-tempat yang identik dengan penghinaan; seperti dibawa ke kamar mandi, dijadikan serbet, keset dan sejenisnya. Dalilnya bahwa “Rasulullah saw. memakai cincin yang diukir dengan kalimat: Muhammad RasululLâh. Jika masuk kamar mandi, beliau selalu melepas cincin itu.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, al-Baihaqi dan al-Hakim).

Faktanya, pada Liwa’ dan Rayah Rasul saw. sama-sama tertulis lafzh al-Jalâlah. Karena itu apapun sikap dan tindakan yang bertujuan untuk menghinakan al-Liwa’ atau ar-Rayah yang bertuliskan “Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh” jelas dilarang. Bentuk penghinaan yang dilarang tidak hanya dalam bentuk verbal, dengan menempatkan di tempat yang identik dengan penghinaan, tetapi juga penghinaan dalam bentuk non-verbal. Seperti menyatakan bahwa bendera tersebut bendera teroris, bahkan dikriminalisasi. Tentu aneh sekali jika penghinaan dan pelecehan itu datang dari seorang Muslim.

Bagaimana mungkin seorang Muslim melecehkan panji Tauhid, padahal kalimat tauhid itulah yang akan menyelamatkan dia di akhirat kelak dari siksa neraka? Bagaimana mungkin seorang Muslim, yang mengaku menjadi pengikut Nabi saw., yang di akhirat berharap mendapat syafaat beliau, justru membenci dan merendahkan panji Rasulullah saw? Bagaimana mungkin seorang Muslim yang berdoa agar di akhirat dinaungi di bawah Liwa’ al-Hamdi Rasul saw. justru memusuhi panji itu saat di dunia?

Alhasil, seperti dinyatakan oleh Imam Muhammad asy-Syaibani dalam As-Siyar al-Kabîr dan oleh Imam as-Sarakhsi dalam Syarhu as-Siyar al-Kabîr, Liwa’ kaum Muslim selayaknya berwarna putih dan Rayah mereka berwarna hitam sebagai bentuk peneladanan kepada Rasul saw. Umat Islam juga seharusnya menjunjung tinggi dan menghormati Liwa’ dan Rayah Rasul saw. itu serta berjuang bersama untuk mengembalikan kemulian dan makna keduanya sebagai panji tauhid, identias Islam dan kaum Muslim sekaligus pemersatu mereka. WalLâh a’lam bi ash-shawâb.

 

sumber : voa-islam.com

Panji Islam, Panji Hitam: Ar-Rayah dan Al-Liwa! Bendera Umat Muslim yang Biasa Dibawa Rasulullah dan Para Sahabat


Panji Islam – Portal Berita Islam : Panji Islam / Panji Hitam: Ar-Rayah dan Al-Liwa! Bendera Umat Muslim yang Biasa Dibawa Rasulullah dan Para Sahabat.

Mungkin sebagian besar dari Anda sudah melihatnya kemarin secara langsung atau melalui berita, pada saat aksi 212 kemarin, terlihat ada sebuah bendera besar berwarna hitam bertuliskan kalimat syahadat, “La ilaha Illa al- Allah, Muhammad Rasul al-Allah”.

Bendera apakah itu?

Ar-Rayah dan Al-LiwaSejatinya, yang namanya bendera merupakan sebuah simbol. Simbol adalah hal yang biasa dipakai untuk meringkas makna. Makanya setiap negara punya bendera masing-masing sebagai simbolnya, dengan warna yang berbeda-beda. Supaya khas. Karena, setiap negara memiliki keunikan masing-masing.

Bukan hanya negara; tetapi juga berbagai kelompok, organisasi, komunitas, lembaga, dan perusahaan; biasanya memiliki simbol. Dan beberapa di antaranya ada yang diletakkan pada wadah berupa bendera.

Nah, kalau bendera yang di 212 tersebut, itu merupakan simbol umat muslim keseluruhan. Wajar saja, karena rukun iman yang pertama adalah mengucapkan kalimat syahadat tersebut.

Adapun namanya, adalah ar-Rayah.

Ar-Rayah-dan-Al-Liwa-Bendera-Islam
Ar-Rayah-dan-Al-Liwa-Bendera-Islam

Iya, bendera hitam besar bertuliskan syahadat itu namanya adalah ar-Rayah
Hal ini berdasarkan hadits berikut; Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasai di Sunan al-Kubra telah mengeluarkan dari Yunus bin Ubaid mawla Muhammad bin al-Qasim, ia berkata: Muhammad bin al-Qasim mengutusku kepada al-Bara’ bin ‘Azib bertanya tentang rayah Rasulullah Saw seperti apa? Al-Bara’ bin ‘Azib berkata:

كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ

“Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam persegi panjang terbuat dari Namirah.”

Dalam Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah Saw telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta. Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan ‘Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah’. Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih.”.

Kalau umat muslim dulu sudah tidak perlu terlalu ‘masif diedukasi’ terkait bendera ini, karena bendera ini sudah biasa dilihat. Tidak langka. Mungkin nyaris setiap hari ketemunya. Lantaran umat muslim dulu hidup dalam satu negara Islam Khilafah.

Soalnya pun hanya satu-satunya bendera inilah yang mereka cintai dan perjuangkan, karena memang dengan kalimat syahadat itu mereka senaniatasa semangat belajar Islam, mengamalkan Islam, hingga mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Nah, bendera Negara Islam namanya al-Liwa. Al-Liwa itu nyaris persis seperti ar-Rayah, hanya beda warna saja. Kalau ar-Rayah kan latar belakangnya berwarna hitam, kemudian tulisannya berwarna putih. Kalau al-Liwa; sebaliknya; latar belakangnya berwarna putih, kemudian tulisannya berwarna hitam.

Berikut ini beberapa hadits lainnya terkait al-Liwa dan ar-Rayah.

Ar-Rayah dan Al-LiwaImam At-Tirmidzi dan Imam Ibn Majah telah mengeluarkan dari Ibn Abbas, ia berkata:

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

“Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih.”

Imam An-Nasai di Sunan al-Kubra, dan at-Tirmidzi telah mengeluarkan dari Jabir:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «دَخَلَ مَكَّةَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ

“Bahwa Nabi Saw masuk ke Mekah dan Liwa’ beliau berwarna putih.”

Ibn Abiy Syaibah di Mushannaf-nya mengeluarkan dari ‘Amrah ia berkata:

Panji Hitam Al mahdi
Panji Hitam Al mahdi

كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضَ

“Liwa Rasulullah Saw berwarna putih.”

Saat Rasulullah Saw menjadi panglima militer di Khaibar, beliau bersabda:

لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ أَوْلَيَأْخُذَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَوْ قَالَ يُحِبُّ الله َوَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ فَإِذَا نَحْنُ بِعَلِيٍّ وَمَا نَرْجُوهُ فَقَالُوا هَذَا عَلِيٌّ فَأَعْطَاهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّايَةَ فَفَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ

“‘Sungguh besok aku akan menyerahkan ar-râyah atau ar-râyah itu akan diterima oleh seorang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya atau seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mengalahkan (musuh) dengan dia.’. Tiba-tiba kami melihat Ali, sementara kami semua mengharapkan dia. Mereka berkata, ‘Ini Ali.’. Lalu Rasulullah Saw memberikan ar-rayah itu kepada Ali. Kemudian Allah mengalahkan (musuh) dengan dia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Saw. menyampaikan berita duka atas gugurnya Zaid, Ja‘far, dan Abdullah bin Rawahah, sebelum berita itu sampai kepada beliau, dengan bersabda:

أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا عَبْدُاللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ

“Ar-Râyah dipegang oleh Zaid, lalu ia gugur; kemudian diambil oleh Ja‘far, lalu ia pun gugur; kemudian diambil oleh Ibn Rawahah, dan ia pun gugur.” (HR. Bukhari)

Pasukan Panji Hitam

Fungsi dan peggunaannya

Jadi, itu tadi kan, al-Liwa merupakan bendera resmi Daulah Islam di masa Rasulullah Saw dan para Khalifah setelah beliau Saw. Ini adalah kesimpulan dari Imam al-Sarakhsiy, dan dikuatkan dalam kitab Syarh As-Sair al-Kabir, karya Imam Muhammad bin al-Hasan as-Syaibaniy.

Disimpulkan bahwa, “Liwaa adalah bendera yang berada di tangan Penguasa. Ar-Raayah, adalah panji yang dimiliki oleh setiap pemimpin divisi pasukan, di mana semua pasukan yang ada dalam divisinya disatukan di bawah panji tersebut. Liwaa hanya berjumlah satu buah untuk keseluruhan pasukan. Liwaa digunakan sebagai patokan pasukan ketika mereka merasa perlu untuk menyampaikan keperluan mereka ke hadapan penguasa (Imam). Liwaa dipilih berwarna putih. Ini ditujukan agar ia bisa dibedakan dengan panji-panji berwarna hitam yang ada di tangan para pemimpin divisi pasukan.”

Jadi, jelas, bendera tersebut merupakan bendera kita bersama. Jangan dianggap asing. Karena memang sudah saatnya umat muslim membiasakannya kembali. Maka, silahkan saja, siapapun Anda sangat boleh untuk memiliki bendera tersebut, memegangnya, mengangkatnya, mengibarkannya, dan tentu saja sepaket dengan memperjuangkannya.

Jangan pedulikan oknum orang dan media yang memberikan stigma negatif pada bendera tersebut. Seperti misalnya menyimpulkan bahwa itu merupakan bendera teroris, ISIS, dan sebagainya.

Memang beberapa perilaku ISIS dan teroris itu merupakan penyimpangan, perlu diwaspadai. Karena mereka berdakwah dengan kekerasan, padahal mereka hanya individu dan kelompok yang tak berwenang.

Namun sayangnya sebagian orang yang tak senang dengan Islam, malah menunggangi hal tersebut untuk membentuk opini bahwa semua orang Islam itu teroris, kemudian menonjolkan bahwa seolah barang bukti teroris adalah bendera itu. Sehingga, umat muslim sendiri bahkan juga yang non-muslim menjadi phobia dengan simbol-simbol Islam. Dimulai dari rasa takut akan simbol, akhirnya jadi takut dengan Islam secara keseluruhan.

Maka dari itu, adanya kampanye dan edukasi terkait al-Liwa dan ar-Rayah tersebut sudah bagus. Dan harus lebih dimasifkan lagi. Ini merupakan PR kita bersama. Marilah dari sekarang kita lawan arus opini negatif terhadap simbol-simbol Islam. Silahkan temui kenalan-kenalan kita, ngobrollah dengan mereka, dan beritahu tentang al-Liwa dan ar-Rayah ini.

Mungkin orang-orang yang membenci Islam bisa merakayasa fakta dan membuat drama jelek tentang al-Liwa dan ar-Rayah, namun, mereka tetap pasti akan kalah bila ada kajian secara normatif bahwa memang wahyu menunjukkan bendera tersebut merupakan bendera yang baik-baik saja.

Lagipula tulisan di bendera itu kan syahadat. Itu rukun iman yang pertama. Itulah inti keislaman kita. Itulah yang menyatukan kita; tanpa melihat suku, bangsa, kelompok, level ekonomi, hobi, dan sebagainya. Itulah tujuan hidup kita. Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah.

Wallahua’lam..

 

sumber : teknikhidup.com

Pasukan Panji Hitam: Apa Benar Akhir Zaman Nanti Muncul Pasukan Panji Hitam?


Panji Islam – Portal Berita Islam : Pasukan Panji Hitam: Apa Benar Akhir Zaman Nanti Muncul Pasukan Panji Hitam? Penggunaan hadis untuk mendukung agenda politik kekuasaan-kekerasan merupakan fenomena yang lumrah terjadi dalam dunia Islam. Berdirinya Daulah Bani Abbas pada abad kedua hijriah misalnya, banyak didukung dengan kampanye politik yang menggunakan hadis-hadis Nabi tentang akhir zaman. Khususnya hadis tentang Al-Mahdi dan pasukan panji hitam.

Belakangan, ada kelompok tertentu yang menggunakan hadis-hadis Nabi saw. tentang akhir zaman sebagai legitimasi gerakan politik mereka yang penuh kekerasan dan kesadisan. Mereka berupaya menarik dukungan umat Islam dengan menggunakan hadis-hadis Nabi saw. Salah satunya, mereka mengklaim sebagai pasukan panji hitam yang datang di akhir zaman mengawal kedatangan sang juru selamat, Al-Mahdi. Tujuannya tidak lain adalah agar umat Islam mendukung gerakan mereka.

Mereka menggunakan hadis tentang pasukan panji berikut:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمُ ابْنُ خَلِيفَةَ، ثُمَّ لَا يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ، ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَيُقَاتِلُونَكُمْ قِتَالًا لَمْ يُقَاتِلْهُ قَوْمٌ – ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا فَقَالَ – إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ، فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

Tiga golongan saling berperang memperebutkan kekuasaan kalian. Mereka adalah anak-anak penguasa. Kekuasaan tidak menghampiri seorang pun dari ketiganya. Lalu muncul pasukan dengan bendera hitam dari arah timur. Mereka memerangi kalian dengan peperangan yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh suatu kaum. Ketika kalian melihat pasukan panji hitam, berbaiatlah kepadanya, sekalipun dengan cara merangkak di atas salju. Sungguh, ia adalah khalifah Alllah, Al-Mahdi (HR. Al-Hakim)

Hadis pasukan panji hitam disebutkan dalam sejumlah kitab hadis.Yaitu Musnad Ahmad, Sunan al-Tirmidzi, Sunan Ibn Majah, al-Fitan, al-Malahim, Musnad al-Bazzar dan al-Mustadrak. Secara umum hadis tentang pasukan panji hitam berkualitas lemah. Berikut adalah penjelasannya:

Riwayat Al-Bazzar berkualitas lemah karena ada dua orang yang perlu dicurigai. Pertama, Ibrahim bin Yazid bin Qais. Ia dikenal thiqah tetapi banyak meriwayatkan hadis secara mursal (salah satu jenis terputusnya sanad yang menyebabkan hadis menjadi daif.) Kedua, al-Hakam bin Utbah perawi yang dikenal thiqah-thabat,tetapi sering melakukan praktik tadlis (mengkaburkan riwayat/sumber agar terlihat sahih). Al-Hakam meriwayatkan hadis dari gurunya menggunakan redaksi ‘an. Perawi pelaku tadlis dilarang menggunakan redaksi tersebut. Dari sini dapat disimpulkan bahwa hadis pasukan panji hitam dalam riwayat al-Bazzar adalah daif (lemah).

Riwayat Imam Ahmad dan Al-Tirmidzi bermasalah karena terdapat perawi bernama Risydin bin Sa’d yang dinilai dha’if (lemah), mukhtalith (kacau hafalannya), dan sayyi’ul hifzh (buruk hafalannya). Dari aspek hafalan, perawi ini memiliki kekurangan yang menyebabkan hadisnya menjadi daif (lemah).

Riwayat Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Thauban juga memiliki masalah. Dalam sanad Ibnu Majah, terdapat perawi bernama Abdurrazzaq yang dinilai majruh (memiliki cacat). Dia dinilai thiqah dan hafizh, namun di sisi lain beliau kemudian mengalami penurunan kemampuan hafalan dan cenderung kepada paham/aliran syiah (tasyayyu’). Hal ini menyebabkan hadis yang berasal darinya dinilai bermasalah (baca: daif).

Pada riwayat al-Hakim terdapat perawi bernama Khalid al-Haddza’ yang dikenal thiqah namun banyak meriwayatkan secara mursal. Karena perawi ini dinilai memiliki cacat, harusnya hadisnya dinilai lemah. Namun al-Hakim melihat bahwa cacat yang terdapat pada perawi ini tidak berpengaruh terhadap hadis pasukan panji hitam. Tidak ada bukti bahwa hadis ini diriwayatkan secara mursal atau terpotong sanadnya yang dapat menyebabkan hadisnya menjadi lemah. Karenanya, al-Hakim menilai hadis ini sahih berdasarkan standar al-Bukhari dan Muslim.

Seandainya Khalid Al-Hadzdza’ diterima, riwayat Al-Hakim masih punya masalah lain. Yaitu pada perawi bernama Muhammad bin Ibrahim bin Arumah dan Abu Abdillah al-Shaffar yang tidak diketahui biografinya (majhul). Hadis yang dalam sanadnya terdapat perawi majhul patut dicurigai, dan dalam beberapa kasus, dianggap tidak ada alias munqathi’. Di sini dapat disimpulkan riwayat ini daif.

Riwayat Imam Ahmad dari Thauban sepertinya harus mengalami nasib yang sama. Dalam sanad ini terdapat perawi bernama Ali bin Zaid biografinya belum ditemukan (majhul). Majhul-nya seorang perawi menyebabkan jalur periwayatan menjadi meragukan dan cenderung lemah (daif).

Berdasarkan analisis ini, dapat disimpulkan bahwa hampir semua sanad hadis pasukan panji hitam, bermasalah (baca: daif). Simpulan ini meneguhkan pernyataan Ibnu Kathir (w. 774 H.) yang menyatakan semua sanad hadis pasukan panji hitam bermasalah. Karena terdapat perawi-perawi kurang kredibel dalam masing-masing sanad.

Mengomentari hadis-hadis yang digunakan dalam kampanye politik pendukung Daulah Abbasiyyah, khususnya terkait pasukan panji hitam, Ibnu Katsir berkata, “Hadza Kulluhu Tafri’un ‘Ala Shihhati Hadzihi al-Ahadith, wa Illa fala yakhlu sanadun minha kalamun wa allahu subhanahu wa ta’ala a’lam bi al-shawab.” (Perdebatan tentang kandungan hadis-hadis mahdi dan peristiwa akhir zaman, didasarkan pada asumsi kesahihan hadis-hadisnya. Bila tidak, maka sebenarnya seluruh sanad hadis-hadis tersebut memiliki cacat yang perlu dikomentari. Allah SWT yang maha tahu yang benar). (Ibnu Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jilid 6, hlm. 278).

Panji Hitam Al mahdi
Panji Hitam Al mahdi

Kandungan Hadis

Hadis tentang pasukan panji hitam tidak dapat dilepaskan dari narasi kedatangan Al-Mahdi. Narasi ini sudah digunakan Abu Muslim Al-Khurasani, jenderal pendukung Bani Abbas, memobilisasi bangsa Muslim Persia untuk melawan Dinasti Bani Umayyah pada tahun 129 H. Kampanye berhasil dan umat Muslim Persia berbondong-bondong menyerang Damaskus, pusat pemerintahan Bani Umayyah. Abu Muslim memerintahkan pengikutnya memakai simbol kemiliteran serba hitam, termasuk bendera dan panjinya. Ia mengklaim sebagai kelompok Al-Mahdi yang disabdakan Rasulullah saw.

Ibnu Katsir (w. 774 H.) memberi komentar bahwa Al-Mahdi dan pasukan panji hitam hanya akan datang di akhir zaman. Bukan pada masa ambruknya kekhalifahan Bani Umayyah. Hal ini dengan asumsi bahwa hadis tentang Al-Mahdi dan panji hitamnya sahih. Karena, sebagaimana disebut sebelumnya,hadis pasukan panji hitam adalah hadis daif sebab ada perawi-perawi bermasalah dalam sanadnya.

Al-Suyuthi mencatat bahwa dalam sejarah umat Islam, terdapat banyak kelompok yang mengklaim sebagai gerakan Al-Mahdi. Menurutnya, semua itu bentuk kebohongan belaka. Kelompok-kelompok tukang klaim tersebut mempermainkan dalil-dalil agama seperti anak-anak memainkan mainannya. Mereka berusaha mencocok-cocokkan ciri-ciri pemimpin serta kelompoknya dengan Al-Mahdi dan pendukungnya.

Ciri tukang klaim tersebut, kata Al-Suyuthi, adalah mereka membuat standar keimanan sendiri bahwa umat Islam yang mendukungnya sebagai mukmin dan yang menolak bergabung bersama mereka disebut kafir. Ciri lainnya, mereka berani membunuhi para ulama (Al-Suyuthi, Syarah Sunan Ibn Majah, jilid 1, hlm. 300).

Hari ini, ciri-ciri kelompok pengklaim itu hadir di hadapan kita. Mereka mengklaim para pengikutnya sebagai ahli tauhid, muwahhid, mukmin sejati dan mujahid. Sedang umat Islam yang enggan mendukung, mereka sebut kafir, musyrik, dan thaghut. Selain itu, tidak sedikit ulama yang dimusuhi, dikafirkan, dan dibunuh. Ini sesuai dengan pernyataan Al-Suyuthi. Wallahu A’lam.

Pasukan Panji Hitam

 

sumber : islami.co

Panji Hitam, Siapakah Pasukan Panji Hitam Dari Timur Berdasarkan Hadits , Panji Islam


Panjiislam.com : Panji Hitam, Siapakah Pasukan Panji Hitam Dari Timur Berdasarkan Hadits , Panji Islam. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ishaq Al Washithi An Naqid; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq dari Yazid bin Hayyan; aku mendengar Abu Mijlaz menceritakan dari Ibnu Abbas, ia berkata;

“Sesungguhnya panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwarna hitam dan benderanya berwarna putih.”- sunan Ibn Majah 2808

Tidak ramai yang tahu, hanya Allah lebih mengetahui….sekirannya kita melihat di dunia sekarang, panji-panji Timur ini lebih nampak kepada pejuang-pejuang Afganistan, kerana ada banyak hadis tentang keadaan muka bumi yang bergunung-ganang, pasukan ini tidak pernah kalah dengan mana-mana pasukan, kita lihat pejuang-pejuang Afganistan tak pernah mengaku kalah sewaktu berperang dengan Rusia dan US.

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz bagaimana kita memahami hadits berikut ini:
“Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaan kalian. Mereka semua putera khalifah. Tetapi tak seorangpun diantara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka membunuh kamu dengan suatu pembunuhan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu.”

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal, lalu bersabda : “maka jika kamu melihatnya, berbai’atlah kepadanya walaupun dengan merangkak diatas salju.” [HR. Ibnu Majah no. 4074 dan Al-Hakim no. 8564 | Nihayatu Al-Bidayah wan Nihayah, hlm. 42]

(R. Yulian Anggota Group Bimbingan Islam N06).

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pertanyaan ini sudah pernah kita jawab beberapa waktu yang lalu. Bahwa seluruh hadits yang berkisah tentang kemunculan panji hitam, semuanya hadits yang dhaif dan palsu.

Dan yang teramat sangat disayangkan adalah banyak sekali orang Islam yang tertipu dengan penampilan ISIS yang juga mengibarkan panji hitam, kemudian disangka itulah firqah an najiyah. Padahal hakikatnya ISIS adalah kelompok khawarij yang sesat lagi menyesatkan.

Taruhlah hadits tentang panji hitam ini shahih dan dinukil oleh Imam Ibnu Katsir (sebagaimana keterangan penanya) maka yang dimaksud panji hitam ini bukan panji hitan sebagaimana yang difahami oleh kebanyakan orang. Akan tetapi ia adalah panji hitam yang akan keluar bersama keluarnya Al-Mahdi, Imam Ibnu Katsir berkata :

هذه الرايات السود ليست هي التي أقبل بها أبو مسلم الخراساني فاستلب بها دولة بني أمية في سنة ثنتين وثلاثين ومائة ، بل هي رايات سود أخرى تأتي صحبة المهدي

“Panji-panji hitam ini bukanlah yang dibawa oleh Abu Muslim Al-Khurosani yang kemudian dirampas oleh Bani Umayah pada tahun 132 H. Akan tetapi ia adalah panji hitam lain yang menyertai keluarnya Al-Mahdi.“

(Al-Bidayah Wan-Nihayah : 19/62).

Jika dikala itu kaum muslimin banyak tertipu oleh panji hitam yang dibawa oleh Abu Muslim Al-Khurosani maka hari ini banyak kaum muslimin tertipu oleh panji hitam yang dibawa oleh Abu Bakar Al-Baghdadi punggawa ISIS yang sesat lagi menyesatkan.

Adapun pendapat yang benar ialah hadits tentang panji hitam itu dhaif sebagaimana pernyataan para imam ahli hadits. Diantara yang melemahkannya adalah Imam Ibnul Jauzi di dalam kitab Al-Ahadits Al-Wahiyah : 1445, demikian pula Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam kitab Al-Qaulul Musaddad : 45

Kerangan lebih lengkap tentang sebab kemungkaran hadits ini bisa kita lihat di kitab Silsilah Ahadits Adh-Daifah Wal Maudhu’ah : 85 oleh Imam Al-Albani rahimahullah, beliau menyatakan :

منكر أخرجه ابن ماجه (518 – 519) والحاكم (4 / 463 – 464) من طريقين عن خالد الحذاء عن أبي قلابة عن أبي أسماء عن ثوبان مرفوعا بالرواية الأولى، وأخرجه أحمد (5 / 277) عن علي بن زيد، والحاكم أيضا (4 / 502) من طريق عبد الوهاب بن عطاء عن خالد الحذاء عن أبي قلابة به، لكن علي بن زيد وهو ابن جدعان لم يذكر أبا أسماء في إسناده، وهو من أوهامه، ومن طريقه أخرجه ابن الجوزي في كتاب ” الأحاديث الواهية ” (1445) مختصرا وابن حجر في ” القول المسدد في الذب عن المسند ” (ص 45) وقال: وعلي بن زيد فيه ضعف.

“Hadits ini adalah hadits yang mungkar dikeluarkan oleh Ibnu Majah 518-519, Al-Hakim 4/463-464, dari dua jalur dari Khalid Al-Hadza’ dari Abu Qilabah dari Asma’ dari Tsauban secara marfu melalui jalur pertama.

Dikeluarkan pula oleh Ahmad 5/277 dari Ali bin Zaid. Al-Hakim juga mengelurakan riwayat ini 4/502 dari jalur Abdullah bin Wahhab bin Atho’ dari Khalib bin Al-Hadza’ dari Abu Qilabah. Akan tetapi Ali bin Zaid ia adalah Ibnu Jadz’an tidak menyebut Abu Asma’ di dalam isnadnya, dan ini termasuk dari kewahaman dia.

Dan dari jalurnya ia juga dikeluarkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Al-Ahadits Al-Wahiyah ; 1445 secara ringkas dan dikelurkan oleh Ibnu Hajar di dalam kitab Al-Qaulul Musaddad ; 45, dan beliau berkata ; ‘Ali bin Zaid di dalamnya ada kelemahan.’”

(Silsilah Ahadits Adh-Dah’ifah : 1/95 hadits no. 85, lihat pula Dha’iful Jami’ hadits no. 6434).

Wallahu a’lam

Konsultasi Bimbingan Islam
Abul Aswad Al Bayaty

Sumber : bimbinganislam.com/hadits-pasukan-panji-hitam-dari-timur

 

Panji Islam: PPP Instruksikan Kader Ikut Aksi Bela Palestina, Demi Tegaknya Panji Islam Dunia


Panji Islam – Portal Berita Islam : PPP Instruksikan Kader Ikut Aksi Bela Palestina, Demi Tegaknya Panji Islam Dunia.

Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M. Romahurmuziy menginstruksikan kepada seluruh kader untuk ikut aksi solidaritas bela Palestina. Hal itu karena rakyat Palestina mempertahankan Kota Al Quds atau Yerussalem berarti membela tegaknya panji-panji Islam di Dunia.

“Karena Yerusalem (Al-Quds) merupakan kota suci yang juga di dalamnya terdapat Masjidil Aqsha. Masjidil Aqsha menjadi bagian penting dalam perjalanan Islam khususnya peristiwa Isra’ Mi’raj,” tegas Romi dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Minggu (17/12).

Sebagai satu-satunya partai yang berasas Islam, PPP merasa memiliki tanggung jawab dan kewajiban sama untuk mendukung perjuangan Palestina. Instruksi yang termaktub dalam surat DPP Nomor 1522 tertanggal 15 Desember 2017 merupakan salah satu bentuk dari komitmen PPP yang selam berdiri telah berjuang untuk umat Islam.

M. Romahurmuziy
Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M. Romahurmuziy (foto: ppp.or.id)

Sikap Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel menurut Ketum PPP merupakan bentuk intimidasi kepada bangsa Palestina. Tentu apa yang dilakukan berpotensi memicu perang dengan sekala luas bahkan dunia ketiga. Belaui mengutuk sikap Trump yang telah menabrak dan melanggar HAM.

“Sikap politik Donald Trump sebagai bentuk inprealisme baru dan pelanggaran HAM,” ungkap beliau yang jugfa anggota Komisi XI DPR RI.

Beliau dalam juga menyatakan dukungan sikap tegas pemerintah Indonesia terhadap kecerobohan Donald Trump. Termasuk juga mengapresiai atas sikap tegas Presiden Jokowi dalam Konferensi Luar Biasa OKI di Istanbul, Turki.

“Negara-negara Islam yang tergabung dalam keanggotaan OKI juga telah memutuskan tetap mengakui Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota Negara Palestina,” pungkasnya.

Apa yang diputusakan negara-negara OKI sama dengan PPP dalam melihat apa yang terjadi dan dialami bangsa Palestina. Terutama terhadap pernyataan Donald Trump yang menyakiti hati umat Islam seluruh dunia. (ZA)

sumber : ppp.or.id

Panji Islam: Kebangkitan Mahasiswa Islam di Bawah Panji Rasulullah SAW


Panji Islam – Portal Berita Islam : Kebangkitan Mahasiswa Islam di Bawah Panji Rasulullah SAW.

Bandung – Lajnah Khusus Mahasiswa Hizbut Tahrir Indonesia (LKM HTI) Kota Bandung menggelar Islamic Intelectual Meeting (IIM), bertajuk “Kebangkitan Mahasiswa Islam di Bawah Panji Rasulullah SAW” di Gedung Wakaf Pro Bandung, Jum’at (07/04).

Agenda ini bertujuan menyatukan pergerakan mahasiswa yang dianggap telah kehilangan arah dalam melakukan perubahan. “Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan pergerakan mahasiswa yang mulai kehilangan arah, karena gerakan mahasiswa saat ini bukan tidak ada, tapi harus diarahkan, agar apa yang dicurahkan bisa tepat guna,” jelas Andika Permadi, selaku ketua LKM Bandung yang juga sebagai pemateri dalam acara IIM.

Ia menilai bahwa gerakan mahasiswa yang ada hari ini belum tepat karena tidak memiliki ide yang jelas. Jika gerakan mahasiswa seperti ini terus dilakukan, maka hanya akan membawa kesia-siaan.

“Kesalahan mahasiswa hari ini itu lebih pada aspek filosofis dan metode. Ketika filosofisnya mengusung ide yang parsial dan tidak menyeluruh, maka mereka hanya akan melakukan hal yang sia-sia saja, karena hal itu tidak akan membawa perubahan yang berarti, apalagi metodenya juga salah,” jelas Andika.

Islamic Intelectual Meeting
Foto: Islamic Intelectual Meeting (IIM), bertajuk “Kebangkitan Mahasiswa Islam di Bawah Panji Rasulullah SAW” di Gedung Wakaf Pro Bandung, Jum’at (07/04)

Melalui kegiatan IIM yang dilakukan, Andika mengajak seluruh pergerakan mahasiswa untuk menjadikan Islam sebagai landasan pergerakan. Ia meyakini jika pergerakan mahasiswa mengusung ide Islam sebagai landasannya, maka gerakan mahasiswa akan lebih bertaji dalam mengusung perubahan.

“Melalui kegiatan ini kita mengajak agar pergerakan mahasiswa mengusung ide Islam sebagai landasan pergerakannya. Karena dengan Islam, pergerakan mahasiswa akan lebih bertaji dalam mengusung perubahan yang hakiki,” jelas Andika.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dhani Kusma Wardhana selaku pembicara. Ia menilai geliat pergerakan mahasiswa hari ini mulai meredup, jika adapun, haluan pergerakan mahasiswa hari ini berada pada haluan yang pragmatis.

“Geliat mahasiswa hari ini sudah mulai meredup, jika adapun mereka berada dihaluan yang pragmatis,” kata Dhani.

Kendati demikian, Dhani menjelaskan, mahasiswa sebagai agen perubahan tetap memiliki peluang untuk melakukan perubahan, namun metode yang digunakan haruslah metode yang jelas.

“Mahasiswa masih punya peluang. Namun harus ada yang dibenahi, ide yang diusung haruslah ide yang benar, yaitu Islam,” papar Dhani.

Diakhir Andika menambahkan dengan ajakan supaya mahaisiswa dapat menjadikan Islam sebagai jalan perjuangan, karena tidak ada jalan lain selain Islam.

“Mahasiswa jika serius ingin melakukan perubahan maka tidak ada jalan lain selain Islam. Perubahan hakiki bisa terjadi hanya dengan Islam,” tutup Andika.

sumber : kiblat.net