SYEIKH BAHAUDDIN NAQSYABANDI .QS


Keajaiban Sholawat – Rahasia Sholawat – Majelis Sholawat – Yuk sholawat ! SYEIKH BAHAUDDIN NAQSYABANDI .QS

Syeikh Bahauddin Naqsybandi.QS(ahli sisilah-15 dari rantai emas Naqsyabandiah) adalah Samudra Ilmu yang tak bertepi. Ombaknya dianyam oleh mutiara Ilmu Ilahi.

SYEIKH BAHAUDDIN NAQSYABANDIBeliau menjernihkan kemanusiaan dengan Samudra Kemurnian dan Kesalehan. Beliau melepaskan dahaga jiwa dengan air yang berasal dari dukungan spiritualnya. Seisi dunia, termasuk samudra dan benua, berada dalam genggamannya.

Beliau adalah bintang yang berhiaskan Mahkota Petunjuk. Beliau mensucikan seluruh jiwa manusia tanpa kecuali dengan nafas sucinya.Cahayanya menembus setiap lapisan ketidakpedulian. Keluarbiasaannya melahirkan bukti terhempasnya asa tertepis dari keraguan hati kemanusiaan.

Keajaibannya yang penuh kekuatan membawa kehidupan kembali ke dalam hati setelah kematiannya dan menyiapkan jiwa-jiwa dengan perbekalan mereka bagi kehidupan spiritual di masa mendatang. Beliau terpelihara di Maqam Busur Perantara tatkala beliau masih dalam buaian. Beliau menghisap nektar ilmu ghaib secara terus-menerus dari Cangkir Makrifat (Realitas). Segala Puji bagi Allah swt. yang telah mengirimkan seorang mujaddid (yang menghidupkan agama Islam dan menyesuaikan dengan Zaman).

Beliau mengangkat hati manusia, menyebabkan mereka mengangkasa ke langit spiritual. Beliau membuat raja-raja berdiri di pintunya. Beliau menyebarkan petunjuknya dari Utara hingga Selatan, dan dari Timur hingga ke Barat. Beliau tidak meninggalkan seorang pun tanpa dukungan surgawi, termasuk binatang-binatang liar di rimba raya. Beliau adalah Ghawts teragung, Busur Perantara, Sultannya para Awliya, Kalung bagi seluruh mutiara spiritual yang dipersembahkan di alam semesta ini oleh Hadirat Ilahi. Dengan cahaya petunjuknya, Allah swt. membuat yang baik menjadi yang terbaik, dan mengubah yang jahat menjadi baik.

Beliau adalah Salah satu Guru dari tarekat ini dan syekh dari Mata Rantai Emas serta merupakan pembawa alur Khwajagan yang terbaik.

Beliau dilahirkan di bulan Muharram pada tahun 717 H/1317 M, di desa Qasr al-`Arifan, dekat Bukhara. Allah SWT menganugerahkannya kekuatan-kekuatan ajaib di masa kecilnya. Beliau telah diajari rahasia tarekat ini oleh guru pertamanya, Sayyid Syeikh Muhammad Baba As-Samasi QS (*13). Kemudian beliau diberikan rahasia dan kemampuan dari tarekat ini oleh Syaikhnya, Sayyid Amir al-Kulal QS (*14). Beliau juga merupakan Uwaysi dalam hubungannya dengan Rasulullah SAW, karena beliau dibesarkan dalam hadirat spiritual Abdul Khaliq fadjuwani al-Ghujdawani QS (*9) yang telah mendahuluinya selama 200 tahun.

Lanjutkan membaca →

Syaikh Agung Muhyiddin ibnu al-Arabi Al-Andalusi


Keajaiban Sholawat – Rahasia Sholawat – Majelis Sholawat – Yuk sholawat ! Syaikh Agung Muhyiddin ibnu al-Arabi Al-Andalusi.

Muhyiddin ibnu al-Arabi adalah salah seorang sufi di Abad pertengahan, kehidupan dan tulisan-tulisannya sekarang banyak memengaruhi pemikiran di Timur maupun Barat.

Oleh masyarakat Arab, ia dikenal sebagai Syeikh al-Akbar, ‘Syeikh Agung’, sedang orang-orang Kristen Barat melalui terjemahan langsung mengenalnya; ‘Doktor Maksinius’. Ia wafat pada abad ke-13.

Dari Mana Datangnya Gelar?

Ibn_Arabi3 Ja’far ibnuYahya dari Lisabon memutuskan menjumpai Guru Agung Sufi, ia pun melakukan perjalanan dari Makkah sebagaimana pemuda lainnya. Di sana ia bertemu dengan orang asing misterius, seorang laki-laki mengenakan jubah hijau, yang berkata kepadanya sebelum ia berbicara apa pun:

“Engkau mencari Syeikh Agung, Guru yang sangat masyhur. Tetapi engkau mencarinya di Timur ketika ia berada di Barat. Dan ada sesuatu hal yang tidak benar dalam pencarianmu.”

Ia mengirim Ja’far kembali ke Andalusia, untuk menjumpai seseorang bernama Muhyiddin ibnu al-Arabi dari suku Hatim-Tai.

“Dia itulah Guru Agung.”

Tanpa mengatakan kepada siapa pun mengapa ia mencarinya, Ja’far menemukan keluarga Tai di Murcia dan bertanya kepada putranya. Ja’far tahu bahwa sesungguhnya ia (Guru Agung) berada di Lisabon ketika dirinya berangkat pergi. Akhirnya ia menemukannya di Seville.

“Di sana,” ujar seorang pendeta, “Itulah Muhyiddin.” Ia menunjuk kepada seorang pelajar muda, membawa sebuah kitab mengenai Tradisi (Hadis), tampak tergesa-gesa keluar dari ruang kuliah.

Ja’far sangat bingung, tetapi dihentikannya pemuda tersebut dan bertanya, “Siapakah Guru Agung?”

“Aku membutuhkan waktu untuk menjawab pertanyaan itu,” jawabnya.

“Apakah engkau Muhyiddin ibnu al-Arabi dari suku Tai?” tanya Ja’far sedikit meremehkan.

“Benar.”

“Jika demikian aku tidak membutuhkanmu.”

Tigapuluh tahun kemudian di Aleppo, ia melihat Ja’far memasuki ruang kuliah Syeikh Agung, Muhyiddin ibnu al-Arabi dari suku Tai. Muhyiddin melihatnya ketika masuk, dan berkata:

“Sekarang aku siap menjawab pertanyaanmu dulu, sebenarnya tidak perlu ada pertanyaan itu. Tigapuluh tahun lalu Ja’far, engkau tidak membutuhkan aku. Apakah engkau masih tidak membutuhkan diriku? Orang Berjubah Hijau mengatakan ada sesuatu yang salah dalam pencarianmu. Yaitu waktu dan tempat.”

Ja’far ibnu Yahya lantas menjadi salah seorang murid al-Arabi yang terkemuka.

Impian di Mosul

Seorang pencari ayat suci yang memberi pengalaman batiniah yang penting, masih menderita karena kesulitan menafsirkannya secara konstruktif Ia minta petunjuk kepada Syeikh Agung Ibnu al-Arabi tentang mimpi yang sangat mengganggunya ketika berada di Mosul, Iraq.

Ia melihat Guru Ma’ruf yang luhur dari Karkh seolah duduk di tengah-tengah api neraka. Bagaimana mungkin Ma’ruf yang agung berada dalam neraka?

Apa yang kurang dari daya permahamannya, adalah keadaannya sendiri. Ibnu al-Arabi, dari permahamannya terhadap si Pencari jati diri dan kemanusiaannya, menyadari bahwa intisarinya adalah melihat Ma’ruf dikelilingi api.

Api merupakan penjelasan tentang bagian jiwa yang belum dikembangkan, sebagai sesuatu dimana Ma’ruf yang agung terperangkap. Makna sesungguhnya adalah rintangan antara keberadaan Ma’ruf dan keberadaan si Pencari jati diri.

Jika si Pencari (jati diri) ingin mencapai suatu keadaan yang setara dengan Ma’ruf, pencapaian yang ditandai dengan sosok Ma’ruf, maka ia harus melalui satu tahap yang dalam mimpinya digambarkan dengan lingkaran api. Dengan penafsiran ini si Pencari dapat memahami situasinya, dan menunjukkan pada dirinya apa yang masih perlu dilakukan.

Kesalahannya adalah menganggap gambaran Ma’ruf adalah Ma’ruf, dan api adalah api Neraka. Bukan sekadar kesan (Naqsy) tetapi penggambaran yang benar terhadap kesan tersebut, seni yang disebut Tasvir (pemberian makna terhadap gambaran) itulah fungsi seorang Pembimbing yang Benar.

Tiga Bentuk Pengetahuan

Ibnu al-Arabi dari Spanyol, menginstruksikan para pengikutnya dalam keputusannya yang paling kuno ini:

Ada tiga bentuk pengetahuan. Pertama, pengetahuan kecerdasan otak, yang sesungguhnya hanyalah keterangan dan kumpulan kenyataan, dan pemanfaatan sampai pada pengertian-pengertian atau rencana para cendekiawan lebih jauh. Ini disebut ajaran kecendekiawanan (intelektualisme).

Kedua, pengetahuan tentang keberadaan, meliputi perasaan yang emosional (renjana) dan kejanggalan, di mana manusia menganggap bahwa ia merasakan sesuatu tetapi tidak dapat memanfaatkannya. Ini disebut (emosionalisme).

Ketiga, pengetahuan sejati yang disebut Pengetahuan atas Realitas. Pada bentuk ini, manusia dapat merasakan apa yang benar, sejati, melampaui batas-batas pemikiran dan perasaan. Para sarjana dan ilmuwan terpusat pada bentuk pertama pengetahuan. Kaum emosionalis dan eksperimentalis menggunakan bentuk kedua. Lainnya memadukan keduanya, atau memanfaatkan salah satu sebagai pilihan.

Tetapi mereka yang mencapai kebenaran, adalah mereka yang tahu bagaimana menghubungkan dirinya sendiri dengan realitas berada di dua bentuk pengetahuan tersebut. Mereka inilah kaum Sufi sejati, kaum Darwis dan mengalami Pencapaian.

Sumber: republika.co.id

Keagungan Syekh Abdul Qodir Jailani Qs


Keajaiban Sholawat – Rahasia Sholawat – Majelis Sholawat – Yuk sholawat ! Keagungan Syekh Abdul Qodir Jailani Qs.

Ulama-ulama besar mengakui keagungan Syekh Abdul Qodir. Imam Adz-Dzahabi, seorang ahli tafsir terkemuka menyebutkan, karomah Syekh banyak dan jelas. Ibnu Rajab, ahli hadits madzhab Hambali yang salah satu bukunya saya terjemahkan menjadi, “Setahun Bersama Nabi” (diterbitkan Pustaka Hidayah, sekitar 1000 hlm.) menyebut Syekh sebagai teladan orang-orang ma’rifat, pemimpin para syekh dan dikaruniai maqam dan karomah. Imam Al-‘Izz bin Abdussalam, ulama besar madzhab Syafi’i menyatakan,”Tidak ada karomah yang dinukil kepada kami secara mutawatir, kecuali karomahnya Syekh Abdul Qodir Jailani.”

Salah satu karomah Syekh yang paling menarik bagi saya adalah namanya terus disebut, didoakan, dan dibaca dalam tawasul sampai sekarang oleh jutaan umat Islam di berbagai belahan dunia.

Kalau sejarah Rasulullah disebut siroh dan dirujuk serta diteladani oleh umat Islam, maka sejarah hidup Syekh Abdul Qodir Jailani sebagai keturunannya disebut manqobah (jamaknya ialah manakib). Manakibnya menjadi alat ukur perkembangan spiritual para Salik (orang yang ruhaninya berjalan menuju Allah).

Syekh Abdul Qodir Jailani pernah bertanya kepada gurunya, yaitu Syekh Hammad Ad-Dabbas karena di tempat khalwat gurunya setiap malam terdengar dengungan keras seperti lebah.

Syekh Dabbas menjawab,”Aku memiliki sekitar 12.000 murid. Setiap malam aku menyebut nama mereka satu per satu. Aku bantu permohonan hajat mereka kepada Allah. Kita doakan agar mereka tidak melaksanakan maksiat yang direncanakannya serta mudah-mudahan selalu takut dan bertaubat kepada Allah.”

Subhanallah, betapa besar cinta dan pengorbanan seorang mursyid kepada para muridnya. Sebagai murid, khidmah dan pengorbanan apa yang sudah kita lakukan untuk menyukseskan program dan visi Syekh Mursyid kita?

Syekh Abdul Qodir Al-Jilani mendapat doa dari gurunya. Umar Al-Halawy, salah seorang murid Syekh Abdul Qodir Al-Jailani berkelana bertahun-tahun. Ketika pulang, ia ditanya oleh Syekh Hammad Dabbas (guru Syekh Abdul Qodir).

“Kemana saja selama ini kalian berkelana?”

Umar menjawab,”Aku mengelilingi Mesir hingga Maghrib dan aku berjumpa dengan 360 wali Allah. Mereka semua berkata,”Syekh Abdul Qodir Jailani adalah syekh dan pemimpin kami.”

Terima kasih kepada Dr. Ajid Thohir yang menulis disertasi tentang kitab Manakib Syekh Abdul Qodir Al-Jilani. Disertasi beliau menjadi salah satu dari enam disertasi terbaik yang diterbitkan Kemenag tahun 2011 (486 hlm).

Tulisan ini hadir merujuk disertasinya tersebut. Semoga makin banyak orang yang mengkaji dan mengenalkan karya dan pemikiran ulama dan sufi, di samping mengamalkan ajaran dan awradnya. Amin. (Rojaya, Ketua Prodi Ilmu Tasawuf Fakultas Dakwah IAILM Pondok Pesantren Suryalaya)

Sumber : NUonline

Panji Islam: Panji Islam Pertama yang dipercayakan oleh Rasulullah Ia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib


Panji Islam – Portal Berita Islam : Panji Islam Pertama yang dipercayakan oleh Rasulullah Ia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib.

Membahas kehidupan para sahabat tidak hanya menuai banyak manfaat, melainkan lebih dari itu, yakni meneladaninya.

Harus diakui dan disadari bahwa umat Islam zaman now, terutama dalam urusan berjuang atas nama agama, sangat jauh dari apa yang dilakukan oleh para sahabat. Sahabat, adalah orang yang dekat dengan Nabi dan memiliki komitmen keislaman yang tidak dapat diragukan.

Sejarah mencatat bahwa para sahabat rela meninggalkan harta benda dan sanak saudara demi memperjuangkan agama Islam.

Diantara sekian sahabat, Hamzah bin Abdul Muthalib sangat menarik untuk dikaji dedikasinya kepada Islam. Hamzah bukanlah orang yang sejak kecil memeluk Islam. Sekali lagi bukan. Ia memeluk agama Islam dengan petunjuk dari Allah Swt.

Kehadiran Hamzah dibarisan Islam membuat pasukan Islam semakin kuat dan ditakuti oleh lawan-lawannya. Bahkan, sekelas Abu Jahal, ketika melihat Hamzah berdiri dan bersiap dalam barisan kaum Muslimin, maka menurut keyakinannya perang sudah tidak dapat dielakkan lagi.

Hamzah Bin Abdul Muthalib
Ilustrasi Hamzah Bin Abdul Muthalib (image: ya2blog.wordpress.com)

Karena itu, ia menghasut orang-orang Quraisy untuk melakukan kekerasan terhadap Rasulullah dan para shahabat. Ia terus mempersiapkan diri untuk melancarkan perang saudara yang akan melenyapkan semua dendam dan sakit hatinya.

Melihat situasi dan kondisi itu, Hamzah tidak-lah diam berpangku tangan. Namun, segala usaha dan pengorbanannya ternyata tidak dapat membendung sagala gangguan mereka, tetapi keislamannya seolah-olah menjadi benteng dan perisai, di samping menjadi daya tarik bagi kebanyakan kabilah Arab untuk mengikuti langkahnya. Kemudian, daya tarik itu dikuatkan lagi dengan keislaman Umar bin Al-Khatthab, sehingga mereka pun berbondong-bondong memeluk Islam.

Para pembesar Quraisy yang kagum dan kemudian masuk Islam mempunyai karakteristik yang unik, yakni memiliki tekad kuat bahwa seluruh umurnya akan dibaktikan untuk Allah dan agama-Nya. Hal inilah yang terjadi pada Hamzah. Tak ayal jika dirinya dijuluki sebagai “Singa Allah dan singa Rasul-Nya.

Bahkan, pada suatu ketika, mencuat peperangan. Pengiriman pasukan perang ini tidak diikuti oleh Nabi Muhammad Saw. Namun, pasukan Islam cukup bernyali dan bersemangat karena ada Hamzah di situ.

Dan peperangan yang tidak disertai Nabi kemudian pimpinan diserahkan kepada sahabat terjadi pertama kali pada diri Hamzah. Panji Islam pertama yang dipercayakan oleh Rasulullah kepada salah seorang Muslimin diserahkan kepada Hamzah. Kemudian, ketika kedua pasukan telah berhadap-hadapan di Perang Badar, keberanian luar biasa yang telah ditunjukkan oleh Singa Allah dan Singa Rasul-Nya yang tiada lain adalah Hamzah. [n].

Sumber buku : Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah/ Penulis : Khalid Muhammad Khalid/ Penerbit : CV Diponegoro Bandung, 2006.

sumber : harakatuna.com

Makna dan Pengertian Jihad Sesungguhnya Dalam Islam


Panji Islam – Portal Berita Islam : Makna dan Pengertian Jihad Sesungguhnya Dalam Islam.

MAKNA, arti, definisi, atau pengertian jihad yang sebenarnya harus dipahami dengan baik dan disosialisasikan kaum Muslim kepada publik agar tidak terjadi miskonsepsi, mispersepsi, dan misunderstanding tentang konsep jihad dalam Islam.

Pengertian jihad dewasa ini tampak makin “menyempit”, yaitu hanya dipahami sebagai “perang suci” (holy war) atau “perang bersenjata” (jihad fisik-militer). Bahkan, dewasa ini kalangan masyarakat Barat kerap mengasosiasikan jihad dengan ekstremisme, radikalisme, bahkan terorisme.

Aksi kekerasan sebagai bentuk perlawanan dan perjuangan sebuah gerakan Islam oleh Barat disebut aksi “terorisme”. Sebaliknya, pihak gerakan Islam meyakini itu sebagai salah satu manifestasi jihad fi sabilillah.

Banyak kalangan sangat fobi atau ngeri dengan kata jihad. Sebabnya, ruhul jihad merupakan sumber kekuatan umat Islam. Pengamalan jihad membawa seorang Muslim pada kerelaan berkorban apa saja, nyawa sekalipun, demi membela agama dan umat Islam.

Bagi mujahid –sebutan bagi orang yang berjihad– mati syahid adalah cita-cita karena para syuhada dijamin masuk surga.

Makna dan Pengertian Jihad Sesungguhnya Dalam IslamPengertian Jihad Secara Bahasa

Kata jihad berasal dari kata “jahada” atau ”jahdun” (جَهْدٌ) yang berarti “usaha” atau “juhdun” ( جُهْدٌ) yang berarti kekuatan.

Secara bahasa, asal makna jihad adalah mengeluarkan segala kesungguhan, kekuatan, dan kesanggupan pada jalan yang diyakini (diiktikadkan) bahwa jalan itulah yang benar.

Menurut Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Nabi Saw, secara bahasa jihad berarti “mencurahkan segenap kekuatan dengan tanpa rasa takut untuk membela Allah terhadap cercaan orang yang mencerca dan permusuhan orang yang memusuhi”.

Pengertian Jihad Secara Istilah

Pengertian jihad secara istilah sangat luas, mulai dari mencari nafkah hingga berperang melawan kaum kuffar yang memerangi Islam dan kaum Muslim.
Dalam istilah syariat, jihad berarti mengerahkan seluruh daya kekuatan memerangi orang kafir dan para pemberontak.

Menurut Ibnu Taimiyah, jihad itu hakikatnya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghasilkan sesuatu yang diridhoi Allah berupa amal shalih, keimanan dan menolak sesuatu yang dimurkai Allah berupa kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.

Makna jihad lebih luas cakupannya daripada aktivitas perang. Jihad meliputi pengertian perang, membelanjakan harta, segala upaya dalam rangka mendukung agama Allah, berjuang melawan hawa nafsu, dan menghadapi setan.

Kata “jihad” dalam bentuk fiil maupun isim disebut 41 kali dalam Al-Qur’an, sebagian tidak berhubungan dengan perang dan sebagian berhubungan dengan perang.

Dalam hukum Islam, jihad mempunyai pengertian sangat luas yang dibagi dalam dua pengertian: secara umum dan khusus (Ensiklopedi Islam).

Makna Umum Jihad

Secara umum, sebagian ulama mendefinisikan jihad sebagai “segala bentuk usaha maksimal untuk penerapan agama Islam dan pemberantasan kedzaliman serta kejahatan, baik terhadap diri sendiri maupun dalam masyarakat.”

Ada juga yang mengartikan jihad sebagai “berjuang dengan segala pengorbanan harta dan jiwa demi menegakkan kalimat Allah (Islam) atau membela kepentingan agama dan umat Islam.”

Kata-kata jihad dalam al-Quran kebanyakan mengandung pengertian umum. Artinya, pengertiannya tidak hanya terbatas pada peperangan, pertempuran, dan ekspedisi militer, tetapi mencakup segala bentuk kegiatan dan usaha yang maksimal dalam rangka dakwah Islam, amar makruf nahyi munkar (memerintah kebajikan dan mencegah kemunkaran).

Dalam pengertian umum ini, berjihad harus terus berlangsung baik dalam keadaan perang maupun damai, karena tegaknya Islam bergantung pada jihad.

Makna Khusus Jihad

Jihad dalam arti khusus bermakna “perang melawan kaum kafir atau musuh-musuh Islam”. Pengertian seperti itu antara lain dikemukakan oleh Imam Syafi’i bahwa jihad adalah “memerangi kaum kafir untuk menegakkan Islam”.

Juga sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Atsir, jihad berarti “memerangi orang Kafir dengan bersungguh-sungguh, menghabiskan daya dan tenaga dalam menghadapi mereka, baik dengan perkataan maupun perbuatan.”

Pengertian jihad secara khusus inilah yang berkaitan dengan peperangan, pertempuran, atau aksi-aksi militer untuk menghadapi musuh-musuh Islam.

Kewajiban jihad dalam arti khusus ini (berperang, red) tiba bagi umat Islam, apabila atau dengan syarat:

  • Agama Islam dan kaum Muslim mendapat ancaman atau diperangi lebih dulu (QS 22:39, 2:190)
  • Islam dan kaum Muslim mendapat gangguan yang akan mengancam eksistensinya (QS 8:39)
  • Untuk menegakkan kebebasan beragama (QS 8:39)
  • Membela orang-orang yang tertindas (QS 4:75).

Banyak sekali ayat al-Quran yang berbicara tentang jihad dalam arti khusus ini (perang), antara lain:

  • Tentang keharusan siaga perang (QS 3:200, 4:71);
  • Ketentuan atau etika perang (QS 2:190,193, 4:75, 9:12, 66:9);
  • Sikap menghadapi orang kafir dalam perang (QS 47:4),
  • Uzur yang dibenarkan tidak ikut perang (QS 9:91-92).

Ayat yang secara khusus menegaskan hukum perang dalam Islam bisa disimak pada QS 2:216-218 yang mewajibkan umat Islam berperang demi membela Islam. Dan, perang dalam Islam sifatnya “untuk membela atau mempertahankan diri” (defensif), sebagaimana firman Allah SWT,

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS 2:190).

Tujuan Jihad

Yang menjadi latar belakang perlunya berjihad didasarkan pada al-Quran, antara lain Surat at-Taubah:13-15 dan an-Nisa:75-76, yakni:

(a) Mempertahankan diri, kehormatan, dan harta dari tindakan sewenang-wenang musuh,
(b) Memberantas kedzaliman yang ditujukan pada umat Islam,
(c) Membantu orang-orang yang lemah (kaum dhu’afa), dan
(d) Mewujudkan keadilan dan kebenaran.

Hukum Jihad: Wajib

Jihad merupakan kewajiban setiap orang beriman. Perintah jihad merupakan salah satu ujian Allah SWT untuk menguji sejauh mana keimanan seseorang. Firman Allah SWT,

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja) sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman?” (QS 9:16)

Dalam al-Quran, kata jihad hampir selalu diikuti dengan kalimat fi sabilillah (di jalan Allah), menjadi jihad fi sabilillah, yaitu berjuang melalui segala jalan dengan niat untuk menuju keridhaan Allah SWT (mardhatillah) dalam rangka mengesakan Allah SWT (menegakkan tauhidullah), dan bahwa jihad harus dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah serta norma-norma yang telah ditentukan Allah SWT.

Macam-Macam Jihad

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS 9:20)

Berdasarkan ayat tersebut, jihad terbagi dua, yaitu :
1. Jihadul Maali (jihad dengan harta)
2. Jihadun Nafsi (jihad dengan diri atau jiwa raga).

Jihad dengan harta yaitu berjuang membela kepentingan agama dan umat Islam dengan menggunaan materi (harta kekayaan) yang dimiliki.

Jihadunnafsi yaitu berjuang dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada pada diri berupa tenaga, pikiran, ilmu, kerampilan, bahkan nyawa sekalipun.

Ibnu Qayyim membagi jihad ke dalam tiga kategori dilihat dari pelaksanaannya, yaitu
1. Jihad mutlak,
2. Jihad hujjah,
3. Jihad ‘amm.

Jihad mutlak adalah perang melawan musuh di medan pertempuran (berjuang secara fisik). Jihad hujjah adalah jihad yang dilakukan dalam berhadapan dengan pemeluk agama lain dengan mengemukakan argumentasi yang kuat tentang kebenaran Islam (berdiskusi, debat, atau dialog).

Ibnu Taimiyah menanamakan jihad macam ini sebagai “jihad dengan lisan” (jihad bil lisan) atau “jihad dengan ilmu dan penjelasan” (jihad bil ‘ilmi wal bayan). Dalam hal ini, kemampuan ilmiah dan berijtihad termasuk di dalamnya.

Sedangkan jihad ‘amm (jihad umum) yaitu jihad yang mencakup segala aspek kehidupan baik yang bersifat moral maupun material, terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Jihad ini dilakukan dengan mengorbankan harta, jiwa, tenaga, waktu, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Jihad ini adalah menghadapi musuh berupa diri sendiri (hawa nafsu), setan, ataupun musuh-musuh Islam (manusia).

Macam-Macam Jihad Menurut Imam Al-Ghazali

1. Jihad Zahir — jihad melawan orang yang tidak menyembah Allah SWT.
2. Jihad menghadapi orang yang menyebarkan ilmu dan hujjah yang batil.
3- Berjihad melawan nafsu yang sentiasa menyeret manusia ke arah kejahatan. (Kitab Penenang Jiwa, Imam Al-Ghazali)

Jihad bukan teror, teror bukan jihadAyat-Ayat dan Hadits tentang Jihad

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah , mereka itu mengharapkan rahmat Allah , dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah:218)

(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah ; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah ), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (Al Baqarah:273)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Ali ‘Imran:142)

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak terut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (An Nisaa’:95)

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah Kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al Maa-idah:35)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Anfaal:72)

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah , dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. (Al Anfaal:74)

Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Anfaal:75)

Apakah kamu akan mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyatan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah , Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (At Taubah:16)

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah . Mereka tidak sama di sisi Allah ; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. (At Taubah:19).

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah ; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. (At Taubah:20)

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At Taubah:24).
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah . Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (At Taubah:41)

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta ijin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa. (At Taubah:44).

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (At Taubah:73).
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)”, jikalau mereka mengetahui. (At Taubah:81)

Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung. (At Taubah:88)

Nabi s.a.w telah ditanya: Apakah yang dapat dibandingkan dengan jihad pada jalan Allah? Nabi s.a.w menjawab: Kamu tidak akan sanggup melakukannya. Pertanyaan tersebut diulang sehingga dua atau tiga kali. Tetapi baginda masih menjawab: Kamu tidak akan sanggup melakukannya. Pada kali yang ketiganya baginda bersabda: Perumpamaan orang yang berjihad pada jalan Allah samalah seperti seorang yang selalu berpuasa dan selalu melakukan ibadat malam serta taat kepada ayat-ayat Allah. Beliau tidak merasa letih dari puasa dan sembahyangnya sehinggalah orang yang berjihad pada jalan Allah itu kembali (HR Muslim).

Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya keluar berjuang di jalan Allah sepagi atau sepetang adalah lebih baik daripada dunia dan isinya (HR Muslim)

Sesungguhnya seorang lelaki telah datang kepada Nabi s.a.w dan bertanya: Siapakah orang yang paling baik dari kalangan manusia? Nabi s.a.w menjawab: Seseorang yang berjihad pada jalan Allah dengan harta benda dan jiwanya. Lelaki itu bertanya lagi: Kemudian siapa lagi? Nabi s.a.w menjawab: Seorang mukmin yang berada di kaki bukit dan beribadat kepada Allah serta menjauhkan manusia dari kejahatannya (HR Muslim).

Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Allah tersenyum (reda) terhadap dua orang lelaki, salah seorang darinya membunuh yang seorang lagi namun kedua-duanya dimasukkan ke dalam Syurga. Para sahabat bertanya: Bagaimana boleh terjadi begitu wahai Rasulullah? Baginda bersabda: Seseorang yang ikut berperang pada jalan Allah lalu beliau mati syahid, kemudian orang yang membunuh tadi telah bertaubat dan Allah telah menerima taubatnya. Setelah memeluk Islam beliau juga turut keluar berperang pada jalan Allah, kemudian beliau juga mati syahid (HR Muslim).

Dengan menelaah tulisan yang dirangkum dari berbagai sumber di atas, insya Allah kita akan memahami Pengertian Jihad yang Sebenarnya. Wallahu a’lam bish-showabi.

 

sumber : risalahislam.com

Umat Islam Harus Tahu: Jihad bukan Teror, Teror bukan Jihad


Panji Islam – Portal Berita Islam : Umat Islam Harus Tahu: Jihad bukan Teror, Teror bukan Jihad.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ فَقَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ

Terjemah :

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw. telah ditanya mengenai amal yang paling utama. Beliau menjawab :”Amalan yang paling utama adalah iman kepada Allah.” Kemudian (ditanyakan lagi) apa lagi? “Jihad di jalan Allah”, jawab Rasulullah saw. Kemudian apa lagi? Rasul menjawab :”Haji Mabrur”.

Takhrij

Hadits ini tergolong hadits masyhur baik di kalangan ahli hadits maupun di kalangan ahli fiqh, sehingga kita tidak akan kesulitan mencarinya, hampir di semua kitab mu’tabar kita dapat menemukannya. Di dalam shahih Bukhori terdapat pokok bahasan yaitu “kitab jihad” hadits ini terdapat di dalamnya yang sebelumnya juga terdapat dalam pokok bahasan “kitab iman” di bawah sub judul “bab bahwasanya iman itu adalah amal” hadits nomor 26, dan di bawah sub judul “Jihad adalah bagian dari iman”.

Di dalam shahih Muslim, kita akan menemukan pokok bahasan yang sama, yaitu “kitab jihad dan bepergian” dengan sub judul di antaranya “bab bayanu kauni iman (bab penjelasan keadaan iman)”, “bab keutamaan jihad dan berjaga-jaga”. Begitu juga di dalam kitab-kitab sunan, hadits di atas terdapat di dalamnya dengan di bawah pokok bahasan yang terang yaitu “kitab jihad”. Selain di kitab-kitab hadits, kita juga tidak akan kesulitan menemukan bahasan mengenai jihad di dalam kitab-kitab fiqih semisal kitab Fiqh Sunnah, susunan Sayyid Sabiq, di situ secara rinci dipaparkan hukum jihad, keutamaan jihad, dll.

Syarah Mufrodat

Jihad menurut akar katanya berasal dari kata “al jahdu”(الجَهْد) yang mengandung arti kesulitan, kesengsaraan. Apabila diambil dari kata “al juhdu” (الجُهد), jihad berarti melaksanakan sesuatu dengan susah payah, karena masing-masing pihak mencurahkan segenap kemampuannya dalam menolak yang lainnya (Al Qasthalany: 1/1, Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad al Thoyyar dalam Fiqhul Jihad, hal 1).

Di dalam kitab “Al Jihad fi Sabilillah” susunan Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthany hal 2 disebutkan :

لغة: بذل واستفراغ ما في الوسع والطاقة من قول أو فعل

شرعًا: بذل الجهد من المسلمين في قتال الكفار، والبغاة، والمرتدين ونحوهم.

Mengerahkan dan menghabiskan segala daya upaya baik perkataan maupun perbuatan.

Menurut syara’ : jihad adalah mengerahkan segala kemampuan untuk memerangi orang-orang kafir, pembangkang, orang-orang murtad dan semisalnya. (lihat Al Thoyyar, hal 1).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mendefinisikan jihad secara istilah (terminolagi), “Mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi orang-orang kafir.”

Ar-Raghib Al-Ashbahany menerangkan hakikat jihad, “(Jihad) adalah bersungguh-sungguh dan mengerahkan seluruh kemampuan dalam melawan musuh dengan tangan, lisan, atau apa saja yang ia mampu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Jihad kadang dengan hati seperti berniat dengan sungguh-sungguh untuk melakukannya, atau dengan berdakwah kepada Islam dan syari’atnya, atau dengan menegakkan hujjah (argumen) terhadap penganut kebatilan, atau dengan ideologi dan strategi yang berguna bagi kaum muslimin, atau berperang dengan diri sendiri. Maka jihad wajib sesuai dengan apa yang memungkinkannya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, “Awal disyariatkannya jihad adalah setelah hijrahnya Nabi saw. ke Madinah menurut kesepakatan para ulama.” (Lihat Fathul Bari: 6/4-5 dan Nailul Authar: 7/246-247)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dari segi bahasa (etimologi), secara sederhana jihad berarti bersungguh-sungguh, mencurahkan tenaga untuk mencapai satu tujuan.

Dari segi istilah, jihad berarti bersungguh-sungguh memperjuangkan hukum Allah, mendakwahkannya serta menegakkannya.

Syarah Hadits

Tidak ada silang pendapat di kalangan para ulama tentang disyari’atkannya jihad fi sabilillah. Al-Qur`an dan As-Sunnah penuh dengan nash-nash yang menunjukkan syari’at jihad, kewajiban dan keutamaannya, bahkan di dalam kitab Bulughul maram, hadits yang pertama kali dimunculkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam bab jihad adalah sabda Rasul saw. “Barangsiapa mati, sedang ia tidak pernah berjihad dan tidak mempunyai keinginan untuk jihad, ia mati dalam satu cabang kemunafikan.” Muttafaq Alaihi.

Jihad dalam arti perang hukumnya wajib kifayah sebagaimana firman Allah swt. :

“tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (At Taubah: 122).

Menurut Al Qahthany jihad jadi wajib ‘ain apabila kaum muslimin dihadapkan pada tiga keadaan :

Apabila seorang muslim mukallaf bertemu dan berhadapan langsung dengan musuh. (lihat QS. Al Anfal : 15, 16, dan 45).

Apabila musuh menyerang ke negeri kaum muslimin dan penghuninya tidak mampu untuk menghalaunya, maka wajib bagi kaum muslimin untuk membantu negeri tersebut terutama negara yang paling dekat dengan negeri tersebut. (At Taubah: 123).

Apabila pemimpin kaum muslimin mewajibkan segenap kaum muslimin untuk berperang. (At Taubah: 38, 41).

Termasuk jenis jihad adalah jihad dengan hati, lisan, harta, maupun perbuatan. Semua muslim wajib berjihad di jalan Allah dengan salah satu bentuk dari macam jihad tersebut menurut kebutuhan dan kemampuannya. Rasul bersabda :

“جاهدوا المشركين بألسنتكم، وأنفسكم، وأموالكم، وأيديكم”

Perangilah orang-orang musyrik dengan lisan-lisanmu, diri-dirimu, harta-hartamu, dan dengan kekuatan-kekuatanmu. (Imam Ahmad dalam musnadnya, no. 12577).

Berjihad di jalan Allah merupakan amal yang paling utama setelah beriman kepada Allah, bahkan aplikasi dari sejatinya iman adalah berjihad. Keutamaan Dan nash-nash dalam hal ini sangat banyak, di antaranya :

Jihad bukan teror, teror bukan jihad…dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya telah datang seseorang kepada Rasulullah saw. Seraya bertanya: “wahai Rasulullah saw. Tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang sebanding dengan jihad? “Tidak, aku tidak mendapatinya”, jawab Rasul. Apakah kamu mampu sebagaimana mujahid masuk masjidmu kemudian ia shalat dan tidak tidur, shaum dan tidak makan, siapa yang mampu seperti itu? … (Bukhori 4/18, no. 2784).

Sayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqhus Sunnah (2/630) mengutip satu hadits dan disimpan di bawah sub pokok bahasan “Jihad : Amal yang tidak terimbangi oleh amal apapun”. Dalam hadits itu disebutkan: bahwasanya Rasulullah saw. ditanya amalan yang sebanding dengan jihad fi sabilillah. Maka jawab Rasul saw. adalah : “Kalian tidak akan mampu mengimbanginya”, Rasul menyatakan demikian berulang-ulang.

Pintu surga itu ada delapan, salah satunya adalah pintu khusus untuk ahli jihad. Rasul bersabda :”… barangsiapa dari ahli jihad, maka ia akan diseru dari pintu jihad, … (Bukhori: 3/32, nomor 1897). Dalam hadits lain Rasulullah saw. Mengatakan : “Kalian wajib berjihad di jalan Allah karena ada salah satu pintu di antara pintu-pintu surga (yang disediakan untuk mujahid), yang Allah menghilangkan dengannya segala kepayahan dan ketakutan. (Al jihad karya Ibnu ‘Ashim: 1/134, no. 7).

… sesungguhnya Abu Sa’id al Khudriyi r.a. telah menceritakan bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Rasul saw. :Amal mana yang lebih utama? “Amal yang lebih utama adalah seorang mukmin yang berjihad di jalan Allah dengan diri dan hartanya… “ Jawab Rasul. (Bukhori, no. 2786).

Jaminan bagi yang jihad adalah surga, sebagaimana diterangkan dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَكَفَّلَ اللَّهُ لِمَنْ جَاهَدَ فِي سَبِيلِهِ لَا يُخْرِجُهُ مِنْ بَيْتِهِ إِلَّا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِهِ وَتَصْدِيقُ كَلِمَتِهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ يَرُدَّهُ إِلَى مَسْكَنِهِ بِمَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ

“dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw. Bersabda : Allah menjamin bagi siapa yang berjihad di jalan-Nya yang ia tidak keluar dari rumahnya kecuali jihad fi sabilillah dan membenarkan kalimat-kalimatnya untuk memasukkannya ke surga atau memulangkan ke keluarganya dengan membawa ganjaran dan ghanimah (rampasan perang).

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas bahwa jihad yang paling utama adalah berperang melawan musuh Islam, jihad seperti ini tidak bandingannya dalam Islam dan jaminannya adalah surga.

Namun kapan, di mana, bagaimana jihad dalam arti perang itu terlaksana? Sebelum mencapai derajat tertinggi di bawah ini disampaikan tingkatan-tingkatan jihad:

Al Qahthany mencatat bahwa tingkatan jihad itu terbagi ke dalam empat tingkatan, yaitu: pertama: jihadun nafs, kedua : jihadus syaethan, ketiga : jihad melawan orang-orang kafir dan kaum munafik, dan keempat : jihad melawan kedzaliman, bid’ah dan munkarat. (lihat pula At Thayyar : Fiqhul Jihad 1/4).

Jihadun nafs, jihad melawan diri sendiri ada empat tingkatan, yaitu : 1. Jihad diri untuk mempelajari urusan-urusan agama dan petunjuk. 2. Jihad untuk mengamalkan ilmu-imu agama yang telah dimilikinya. 3. Jihad di dalam mendakwahkan Islam, dan 4. Jihad dengan kesabaran dalam menghadapi kesulitan dakwah.

Syaetan adalah sejelek-jelek musuh, Allah swt. berfiman: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”. (Fathir: 6).

Jihad melawan syaetan ada dua tingkatan yaitu : 1. Jihad dalam menolak apa yang ia bisikkan berupa keraguan-keraguan yang mempengaruhi iman. 2. Jihad dalam menolak apa yang dibisikkannya berupa syahwat-syahwat dan keinginan-keinginan yang merusak.

Jihad melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik ada empat tingkatan : yaitu dengan hati, lisan, harta, dan perbuatan. Jihad melawan kekafiran lebih utama dengan perbuatan/ kekuatan dan jihad melawan orang-orang munafik lebih utama dengan lisan/debat.

Jihad melawan kedzaliman, perbid’ahan dan kemunkaran ada tiga tahapan : pertama dengan tangan/ kekuatan, kedua dengan lisan dan ketiga dengan hati.

Tahapan-tahapan di atas merupakan tahapan yang harus dilalui oleh seorang mukmin, karena bagaimana ia mencapai jihad tingkatan tertinggi sebelum ia dapat melawan hawa nafsunya. Hal itu diungkapkan oleh Ibnu Manashif dalam kitabnya “Al Injad fi Abwabil Jihad” bahwa menurut syara’ jihad itu terbagi kepada tiga macam, yaitu jihad dengan hati, jihad dengan lisan, dan jihad dengan tangan/ kekuatan. Sebagai pijakan atas pendapat di atas adalah hadits sebagai berikut :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

Artinya, “dari Ibnu Mas’ud sesungguhnya Rasulullah saw. pernah mengatakan: “Setiap nabi pasti ada pembela dan penolongnya, mereka melaksanakan sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian setelah itu muncul generasi menyimpang, mereka mengatakan apa yang tidak akan mereka kerjakan, dan mengerjakan apa yang tidak diperintahkan. Barangsiapa yang berjihad, melawan mereka dengan tangannya maka ia itu seorang mukmin; barangsiapa yang berjihad, melawan mereka dengan lisannya maka ia itu seorang mukmin; dan barangsiapa yang berjihad, melawan mereka dengan hatinya maka ia itu seorang mukmin. Dan apabila tidak mengerjakan ketiga-tiganya itu maka tidak ada keimanan padanya walaupun sebesar atom. (Shahih Muslim: 1/51, no. 188).

Jihad bukan Teror, Teror bukan Jihad

Pertentangan antara hak dan bathil, sebagaimana diungkapkan oleh Yusuf Al Qardhawy merupakan “sunnah tada’fu” sampai kiamat pasti akan terjadi. Mana yang nampak (idhar) kepermukaan itu tergantung para pembelanya. Dinul Islam merupakan dinul hak, yang menuntut penganutnya untuk menegakkan dan mempertahankan hak dan keadilan tetap tegak di muka bumi ini.

Untuk menwujudkan cita-cita luhur semacam ini, jihad tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang muslim. Apapun tingkatan jihad, maka seorang mukmin yang bertanggung jawab terhadap diri dan agamanya tidak boleh absen dalam kancah perjuangan. Seorang mukmin yang absen bahkan tidak mempunyai rasa tanggung jawab dalam dirinya ia di cap sebagai orang munafik, pengecut. Maka Islam tidak butuh manusia seperti itu. Oleh karena itu, seorang muslim yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasulnya, hatinya tidak akan tentram apabila melihat kezaliman menempati tahta kekuasaan. Pada titik puncaknya jihad juga menuntut seorang mukmin mengerahkan segala kemampuannya untuk menegakan kebenaran dan keadilan.

Jihad, yang dapat dipahami sebagai konsep perjuangan, merupakan jalan panjang yang harus ditempuh untuk mencapai cita-cita (kemuliaan). Sebagai konsep dan jalan perjuangan, jihad tidaklah cukup dilakukan dengan hati dan lisan saja, tetapi menuntut diaktualisasikan melalui kerja keras dan kerja cerdas, tanpa kenal lelah, dengan mengoptimalkan penggunaan segenap potensi dan kekuatan yang dimiliki, tak hanya kekuatan spiritual, tapi juga kekuatan fisik, moral, dan intelektual. Tetapi, bentuk jihad mana yang harus kedepankan? Itu tergantung situasi dan kondisi yang mengitarinya. Tetapi ingat! jihad harus tetap dikumandangkan. Seorang mukmin mujahid, tidak akan gentar dengan stigmatisasi negatif dan pengaburan terhadap makna jihad. Dan membela hak haruslah dengan hak, sehingga jihad is jihad, dan terror is terror. jihad bukanlah terror, dan terror bukanlah jihad.

Oleh : Deni Solehudin

Wallahu a’lam.

sumber : persis.or.id

Panji Islam, Misteri Pasukan Panji Hitam


Panji Islam – Portal Berita Islam : Panji Islam, Misteri Pasukan Panji Hitam. Panji Rasulullah SAW, Al-Liwa (Panji Putih) dan Ar-Rayah (Panji Hitam), Adalah Panji Tauhid Kaum Muslimin.

Sabda Nabi SAW, “Al-Mahdi akan muncul setelah keluarnya Panji-panji Hitam dari sebelah Timur, yang mana pasukan ini tidak pernah kalah dengan pasukan mana pun.” (Ibnu Majah) Sabda Nabi SAW, “Panji-panji Hitam akan keluar dari arah Khurasan, dan sementara itu kawan-kawan al-Mahdi (pula) keluar menuju ke Baitulmaqdis.” Sabda Nabi SAW, “Jika kamu semua melihat Panji-panji Hitam datang dari arah Khurasan, maka sambutlah ia walaupun kamu terpaksa merangkak di atas salju.

Sesungguhnya di tengah-tengah panji-panji itu ada Khalifah Allah yang mendapat petunjuk.” Maksudnya ialah al-Mahdi. (Ibnu Majah, Abu Nuaim & al-Hakim) Khurasan adalah wilayah yang meliputi Afghanistan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan, menurut situs www.nationmaster.com

 

panji-panji-islamAshabu Rayati Suud akan muncul dari timur Khurasan, benarkah mereka Taliban dan Al-Qaeda ?

Kemunculan salah satu tandhim askari kaum militan fundamentalis di wilayah Khurasan (Afghanistan, Iraq dll) yang dikenal dengan Taliban dan Al-Qaeda memunculkan pertanyaan, benarkah mereka adalah calon Ashhabu Rayati Suud yang dijanjikan?

Pasalnya, kelompok ini adalah satu-satunya kaum militan muslim yang paling ditakuti oleh barat kerana kehebatan tempur mereka, juga kerana cita-cita mereka yang radikal; mendirikan negara Islam dari hujung Asia Tenggara hingga barat Morocco.

Mereka adalah muslim fundamentalis yang paling kuat melaksanakan hukum Islam sebagaimana yang pernah berlaku di Madinah pada masa Rasulullah saw. Merekalah satu-satunya kelompok yang paling mendekati gambaran kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya; beriman, hijrah, perang, mendirikan daulah Islam, melaksanakan semua kewajiban tanpa terkecuali, mendapat boikot dan kecaman antarabangsa, mendapat ujian paling berat dan menyatakan keimanannya, dikepung oleh pasukan ahzab dan banyak lagi sejarah kehidupan generasi assabiqunal awwalun yang hari ini tergambar dalam realiti hidup mereka.

Beberapa penganalisisi hadits-hadits beranggapan bahawa merekalah yang lebih layak untuk menyandang gelaran kehormat itu sesuai dengan beratnya ujian keimanan yang mereka hadapi. Dalam hal ini, samada tepat atau melesetnya anggapan-angapan tersebut, ada hal lain yang lebih penting untuk difahami oleh seorang muslim berkaitan dengan dua kelompok fundamentalis ini.

Setiap muslim hendaknya berhati-hati untuk tidak menghakimi kelompok-kelompok yang secara lahir memiliki stigma dan citra negatif dari musuh-musuh Islam –bahkan dari kalangan umat Islam sendiri- bahawa hal itu bukan bererti keadaan mereka adalah sebagaimana tuduhan itu. Merupakan sunnatullah bahwa musuh-musuh Islam dari bangsa barat memiliki dendam dan kebencian kepada setiap muslim yang memegang teguh agama mereka.

Dalam hal ini, kelompok Taliban dan Al-Qaeda yang sangat komitmen menegakkan semua bentuk syari’at Islam dalam masyarakatnya sangat wajar bila dibenci oleh bangsa Barat. Termasuk sebagian kaum muslimin yang termakan oleh isu dan propaganda bangsa barat tentang “kekejian dan kejahatan” Taliban terhadap manusia. Tanpa bermaksud memastikan apakah Taliban merupakan termasuk kelompok Ashhabu Rayatis Suud, yang pasti bahawa memberikan tuduhan jahat dan keji yang belum tentu demikian kenyataannya merupakan kejahatan tersendiri.

Sementara mendoakan mereka, mengharapkan mereka untuk membela umat Islam, mengusir musuh-musuh Islam dan menegakkan syari’at di muka bumi merupakan sikap yang baik. Namun demikian – sekalipun Taliban dan Al-Qaeda memiliki ciri-ciri yang banyak keserupaannya dengan kelompok Ashabu Rayati Suud – mengesahkan secara haqqul yakin bahawa mereka adalah Ashabu Rayati Suud adalah termasuk sikap tergesa-gesa. Namun, mudah-mudahan tidak salah jika kita berharap, semoga mereka itulah kelompok yang dimaksudkan. Amiin.

Hingga kini Pasukan Panji Hitam, masih menjadi Misteri…

sumber : granadamediatama/akhirjaman

Panji Islam, Mari Kenali Panji – Panji Islam


Panji Islam – Portal Berita Islam : Panji Islam, Mari Kenali Panji – Panji Islam. Ibn Abbas ra. Juga menyatakan: Panji (râyah) Rasulullah saw. berwarna hitam dan benderanya (liwâ’) berwarna putih; tertulis padanya: Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh (HR ath-Thabrani).

Panji Rasulullah SAW, Al-Liwa (Panji Putih) dan Ar-Rayah (Panji Hitam), Adalah Panji Tauhid Kaum Muslimin

Panji Islam / Panji Hitam: Ar-Rayah dan Al-Liwa! Bendera Umat Muslim yang Biasa Dibawa Rasulullah dan Para Sahabat.

Panji Islam, Mari Kenali Panji – Panji Islam. Ibn Abbas ra. Juga menyatakan:
Panji (râyah) Rasulullah saw. berwarna hitam dan benderanya (liwâ’) berwarna putih; tertulis padanya: Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh (HR ath-Thabrani).

Kaum Sekuler Radikal yang selama ini membuat streotip negatif tentang islam, telah membuat opini menyesatkan bahwa bendera hitam dan putih yang bertuliskan lafadz tauhid itu adalah bendera Teroris. Hal itu tentu merupakan sebuah kemufakatan jahat atas simbol-simbol islam.

Sahabat, sesungguhnya bendera itu adalah bendera Nabi saw. Selain hadits di atas, terdapat juga lafadz hadits lainnya,

Jabir bin Abdullah ra. menyatakan, “Sesungguhnya liwa Nabi saw. pada Hari Penaklukkan Kota Makkah berwarna putih.” (HR Ibn Majah, al-Hakim dan Ibn Hibban)

Dahulu, sebelum kenal islam dengan mindset perjuangannya yang universal dan kaffah, Simbol-simbol dan pemikiran islam nampak mengerikan. Tapi akhirnya saya tersadarkan bahwa islam adalah agama yang kaffah, yang mengatur urusan pribadi hingga negara. Maka wajar, kekinian getol sekali para pengemban islam, menginformasikan bendera islam.

Sahabatku, menyanjung dan memuliakan bendera ini adalah kehormatan yang terus perlu kita jaga. Kita berhadapan dengan kaum pandir, berhadapan dengan mereka yang berselimut “iman” padahal jubah mereka tak lebih sebagai gerakan sekuler yang radikal, yang ingin memisahkan rakyat dengan islam yang diembannya.

Sesungguhnya, Allah SWT sudah memberikan peringatan kepada kita semua terhadap hal ini,

Di antara manusia (ada) orang yang menggunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan (QS Luqman [31]: 6).

Maka, mari kita kibarkan bendera tauhid itu. Apapun ras kita, bangsa kita, negara kita. Semoga tulisan ini menjadi bagian penting untuk mewacanakan islam sebagai petunjuk hidup manusia.

Kemuliaan Panji Rosulullah SAW

Ar-Rayah dan Al-Liwa

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. merupakan kemuliaan bagi pemegangnya. Saat Perang Khaibar, misalnya, para sahabat termasuk Umar bin al-Khaththab amat berharap mendapatkan kemuliaan diberi mandat memimpin detasemen dengan diserahi ar-Rayah oleh Rasul saw. Namun, Ali bin Abi Thaliblah yang akhirnya mendapat kemuliaan itu. Rasulullah saw. menyerahkan ar-Rayah dalam berbagai peperangan kepada panglima pasukan kaum Muslim. Di antaranya, dalam Perang Mu’tah, Rasul saw. menyerahkan ar-Rayah kepada Zaid bin Haritsah namun syahid,lalu digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Ja’far syahid, lalu digantikan oleh Abdullah bin Rawahah yang saat itu syahid pula. Akhirnya, panji perang diserahkan pada Khalid Bin Walid sebagai panglima. Selain itu, Usamah bin Zaid diserahi ar-Rayah sebagai panglima pasukan untuk melawan Romawi.

Rayah Rasul saw. itu merupakan panji tauhid dan menjadi lambang eksistensi kaum Muslim dalam peperangan. Para sahabat pun mempertahankan ar-Rayah dengan taruhan nyawa agar ar-Rayah itu tidak jatuh. Dalam Perang Uhud, Mush’ab bin Umair mempertahankan ar-Rayah yang ia pegang hingga kedua lengan beliau putus tertebas oleh musuh, namun beliau masih terus mendekap Rayah itu dengan sisa kedua lengannya hingga akhirnya ia syahid. Rayah itu lalu dipegang oleh Abu ar-Rum bin Harmalah dan ia pertahankan hingga tiba di Madinah.

Namun, makna Rayah dan Liwa’ Rasul saw itu bukan terbatas dalam peperangan saja, apalagi berhenti sekadar simbol. Keduanya mengekspresikan makna-makna mendalam yang lahir dari ajaran Islam. Liwa’ dan Rayah Rasulullah saw. merupakan lambang akidah Islam. Pada al-Liwa` dan ar-Rayah tertulis kalimat tauhid: Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh. Kalimat inilah yang membedakan Islam dan kekufuran, yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Maka dari itu, sebagai simbol syahadat, panji tersebut akan dikibarkan oleh Rasulullah saw. kelak pada Hari Kiamat. Panji ini disebut sebagai Liwa` al-Hamdi. Rasulullah saw. bersabda:

Aku adalah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan tidak ada kesombongan. Di tanganku ada Liwa` al-Hamdi dan tidak ada kesombongan. Tidak ada nabi pada hari itu Adam dan yang lainnya kecuali di bawah Liwa’-ku (HR at-Tirmidzi).

Ar-Rayah-dan-Al-Liwa-Bendera-Islam
Ar-Rayah-dan-Al-Liwa-Bendera-Islam

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. juga merupakan pemersatu umat Islam. Kalimat tauhid Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh adalah kalimat yang mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa melihat lagi keragaman bahasa, warna kulit, suku, bangsa ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam.

Imam Abdul Hayyi Al-Kattani menjelaskan rahasia bahwa jika suatu kaum berhimpun di bawah satu panji/bendera, itu berarti panji/bendera itu menjadi tanda kesatuan pendapat mereka (ijtimâ’i kalimatihim) dan persatuan hati mereka (ittihâdi qulûbihim). Dengan demikian mereka bagaikan satu tubuh (ka al-jasad al-wâhid) (Abdul Hayyi al-Kattani, Nizhâm al-Hukûmah an-Nabawiyyah [At-Tarâtib al-Idâriyyah], I/266).

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. itu bisa dimaknai sebagai identitas Islam dan kaum Muslim. Pasalnya, Liwa’ dan Rayah Rasululah saw. ini tidak hanya dikibarkan dan dijaga, tetapi juga dihormati. Rayah Nabi saw. itu tidak boleh diinjak, dijadikan bantal, dibawa atau diletakkan di tempat-tempat yang identik dengan penghinaan; seperti dibawa ke kamar mandi, dijadikan serbet, keset dan sejenisnya. Dalilnya bahwa “Rasulullah saw. memakai cincin yang diukir dengan kalimat: Muhammad RasululLâh. Jika masuk kamar mandi, beliau selalu melepas cincin itu.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, al-Baihaqi dan al-Hakim).

Faktanya, pada Liwa’ dan Rayah Rasul saw. sama-sama tertulis lafzh al-Jalâlah. Karena itu apapun sikap dan tindakan yang bertujuan untuk menghinakan al-Liwa’ atau ar-Rayah yang bertuliskan “Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh” jelas dilarang. Bentuk penghinaan yang dilarang tidak hanya dalam bentuk verbal, dengan menempatkan di tempat yang identik dengan penghinaan, tetapi juga penghinaan dalam bentuk non-verbal. Seperti menyatakan bahwa bendera tersebut bendera teroris, bahkan dikriminalisasi. Tentu aneh sekali jika penghinaan dan pelecehan itu datang dari seorang Muslim.

Bagaimana mungkin seorang Muslim melecehkan panji Tauhid, padahal kalimat tauhid itulah yang akan menyelamatkan dia di akhirat kelak dari siksa neraka? Bagaimana mungkin seorang Muslim, yang mengaku menjadi pengikut Nabi saw., yang di akhirat berharap mendapat syafaat beliau, justru membenci dan merendahkan panji Rasulullah saw? Bagaimana mungkin seorang Muslim yang berdoa agar di akhirat dinaungi di bawah Liwa’ al-Hamdi Rasul saw. justru memusuhi panji itu saat di dunia?

Alhasil, seperti dinyatakan oleh Imam Muhammad asy-Syaibani dalam As-Siyar al-Kabîr dan oleh Imam as-Sarakhsi dalam Syarhu as-Siyar al-Kabîr, Liwa’ kaum Muslim selayaknya berwarna putih dan Rayah mereka berwarna hitam sebagai bentuk peneladanan kepada Rasul saw. Umat Islam juga seharusnya menjunjung tinggi dan menghormati Liwa’ dan Rayah Rasul saw. itu serta berjuang bersama untuk mengembalikan kemulian dan makna keduanya sebagai panji tauhid, identias Islam dan kaum Muslim sekaligus pemersatu mereka. WalLâh a’lam bi ash-shawâb.

 

sumber : voa-islam.com

Panji Rasulullah SAW, Al-Liwa (Panji Putih) dan Ar-Rayah (Panji Hitam), Adalah Panji Tauhid Kaum Muslimin


Panji Islam – Portal Berita Islam : Panji Rasulullah SAW, Al-Liwa (Panji Putih) dan Ar-Rayah (Panji Hitam), Adalah Panji Tauhid Kaum Muslimin

Panji Islam / Panji Hitam: Ar-Rayah dan Al-Liwa! Bendera Umat Muslim yang Biasa Dibawa Rasulullah dan Para Sahabat.

Panji Rasulullah saw, baik al-liwa (panji putih) dan ar-rayah (panji hitam) bukanlah sembarang panji yang berhenti sebagai simbol. Rayah dan Liwa’ Rasul saw. digambarkan secara detil dalam banyak hadits, baik warnanya, bentuknya maupun tulisannya. Ibnu ‘Abbas ra. menuturkan:

Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan Liwa’ beliau berwarna putih (HR at-Tirmidzi, al-Baihaqi, ath-Thabarani dan Abu Ya’la).

Bentuk Rayah dan Liwa’ Nabi saw. itu persegi empat. Al-Barra’ bin ‘Azib ra. menuturkan:

Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam, persegi empat, terbuat dari kain wol Namirah (HR at-Tirmidzi, an-Nasai dan al-Baghawi).

Pada Rayah dan Liwa’ Rasulullah saw. tertulis kalimat tauhid Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh, sebagaimana hadis penuturuan Ibnu Abbas ra.:

Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan Liwa’ beliau berwarna putih; tertulis di situ lâ ilâha illa AlLâh Muhammad RasûlulLâh (HR Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlâq an-Nabiy saw).

Kemuliaan Panji Rosulullah SAW

Ar-Rayah dan Al-Liwa

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. merupakan kemuliaan bagi pemegangnya. Saat Perang Khaibar, misalnya, para sahabat termasuk Umar bin al-Khaththab amat berharap mendapatkan kemuliaan diberi mandat memimpin detasemen dengan diserahi ar-Rayah oleh Rasul saw. Namun, Ali bin Abi Thaliblah yang akhirnya mendapat kemuliaan itu. Rasulullah saw. menyerahkan ar-Rayah dalam berbagai peperangan kepada panglima pasukan kaum Muslim. Di antaranya, dalam Perang Mu’tah, Rasul saw. menyerahkan ar-Rayah kepada Zaid bin Haritsah namun syahid,lalu digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Ja’far syahid, lalu digantikan oleh Abdullah bin Rawahah yang saat itu syahid pula. Akhirnya, panji perang diserahkan pada Khalid Bin Walid sebagai panglima. Selain itu, Usamah bin Zaid diserahi ar-Rayah sebagai panglima pasukan untuk melawan Romawi.

Rayah Rasul saw. itu merupakan panji tauhid dan menjadi lambang eksistensi kaum Muslim dalam peperangan. Para sahabat pun mempertahankan ar-Rayah dengan taruhan nyawa agar ar-Rayah itu tidak jatuh. Dalam Perang Uhud, Mush’ab bin Umair mempertahankan ar-Rayah yang ia pegang hingga kedua lengan beliau putus tertebas oleh musuh, namun beliau masih terus mendekap Rayah itu dengan sisa kedua lengannya hingga akhirnya ia syahid. Rayah itu lalu dipegang oleh Abu ar-Rum bin Harmalah dan ia pertahankan hingga tiba di Madinah.

Namun, makna Rayah dan Liwa’ Rasul saw itu bukan terbatas dalam peperangan saja, apalagi berhenti sekadar simbol. Keduanya mengekspresikan makna-makna mendalam yang lahir dari ajaran Islam. Liwa’ dan Rayah Rasulullah saw. merupakan lambang akidah Islam. Pada al-Liwa` dan ar-Rayah tertulis kalimat tauhid: Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh. Kalimat inilah yang membedakan Islam dan kekufuran, yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Maka dari itu, sebagai simbol syahadat, panji tersebut akan dikibarkan oleh Rasulullah saw. kelak pada Hari Kiamat. Panji ini disebut sebagai Liwa` al-Hamdi. Rasulullah saw. bersabda:

 

Ar-Rayah-dan-Al-Liwa-Bendera-Islam
Ar-Rayah-dan-Al-Liwa-Bendera-Islam

 

Aku adalah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan tidak ada kesombongan. Di tanganku ada Liwa` al-Hamdi dan tidak ada kesombongan. Tidak ada nabi pada hari itu Adam dan yang lainnya kecuali di bawah Liwa’-ku (HR at-Tirmidzi).

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. juga merupakan pemersatu umat Islam. Kalimat tauhid Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh adalah kalimat yang mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa melihat lagi keragaman bahasa, warna kulit, suku, bangsa ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam.

Imam Abdul Hayyi Al-Kattani menjelaskan rahasia bahwa jika suatu kaum berhimpun di bawah satu panji/bendera, itu berarti panji/bendera itu menjadi tanda kesatuan pendapat mereka (ijtimâ’i kalimatihim) dan persatuan hati mereka (ittihâdi qulûbihim). Dengan demikian mereka bagaikan satu tubuh (ka al-jasad al-wâhid) (Abdul Hayyi al-Kattani, Nizhâm al-Hukûmah an-Nabawiyyah [At-Tarâtib al-Idâriyyah], I/266).

Liwa’ dan Rayah Rasul saw. itu bisa dimaknai sebagai identitas Islam dan kaum Muslim. Pasalnya, Liwa’ dan Rayah Rasululah saw. ini tidak hanya dikibarkan dan dijaga, tetapi juga dihormati. Rayah Nabi saw. itu tidak boleh diinjak, dijadikan bantal, dibawa atau diletakkan di tempat-tempat yang identik dengan penghinaan; seperti dibawa ke kamar mandi, dijadikan serbet, keset dan sejenisnya. Dalilnya bahwa “Rasulullah saw. memakai cincin yang diukir dengan kalimat: Muhammad RasululLâh. Jika masuk kamar mandi, beliau selalu melepas cincin itu.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, al-Baihaqi dan al-Hakim).

Faktanya, pada Liwa’ dan Rayah Rasul saw. sama-sama tertulis lafzh al-Jalâlah. Karena itu apapun sikap dan tindakan yang bertujuan untuk menghinakan al-Liwa’ atau ar-Rayah yang bertuliskan “Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh” jelas dilarang. Bentuk penghinaan yang dilarang tidak hanya dalam bentuk verbal, dengan menempatkan di tempat yang identik dengan penghinaan, tetapi juga penghinaan dalam bentuk non-verbal. Seperti menyatakan bahwa bendera tersebut bendera teroris, bahkan dikriminalisasi. Tentu aneh sekali jika penghinaan dan pelecehan itu datang dari seorang Muslim.

Bagaimana mungkin seorang Muslim melecehkan panji Tauhid, padahal kalimat tauhid itulah yang akan menyelamatkan dia di akhirat kelak dari siksa neraka? Bagaimana mungkin seorang Muslim, yang mengaku menjadi pengikut Nabi saw., yang di akhirat berharap mendapat syafaat beliau, justru membenci dan merendahkan panji Rasulullah saw? Bagaimana mungkin seorang Muslim yang berdoa agar di akhirat dinaungi di bawah Liwa’ al-Hamdi Rasul saw. justru memusuhi panji itu saat di dunia?

Alhasil, seperti dinyatakan oleh Imam Muhammad asy-Syaibani dalam As-Siyar al-Kabîr dan oleh Imam as-Sarakhsi dalam Syarhu as-Siyar al-Kabîr, Liwa’ kaum Muslim selayaknya berwarna putih dan Rayah mereka berwarna hitam sebagai bentuk peneladanan kepada Rasul saw. Umat Islam juga seharusnya menjunjung tinggi dan menghormati Liwa’ dan Rayah Rasul saw. itu serta berjuang bersama untuk mengembalikan kemulian dan makna keduanya sebagai panji tauhid, identias Islam dan kaum Muslim sekaligus pemersatu mereka. WalLâh a’lam bi ash-shawâb.

 

sumber : voa-islam.com

Panji Islam, Panji Hitam: Ar-Rayah dan Al-Liwa! Bendera Umat Muslim yang Biasa Dibawa Rasulullah dan Para Sahabat


Panji Islam – Portal Berita Islam : Panji Islam / Panji Hitam: Ar-Rayah dan Al-Liwa! Bendera Umat Muslim yang Biasa Dibawa Rasulullah dan Para Sahabat.

Mungkin sebagian besar dari Anda sudah melihatnya kemarin secara langsung atau melalui berita, pada saat aksi 212 kemarin, terlihat ada sebuah bendera besar berwarna hitam bertuliskan kalimat syahadat, “La ilaha Illa al- Allah, Muhammad Rasul al-Allah”.

Bendera apakah itu?

Ar-Rayah dan Al-LiwaSejatinya, yang namanya bendera merupakan sebuah simbol. Simbol adalah hal yang biasa dipakai untuk meringkas makna. Makanya setiap negara punya bendera masing-masing sebagai simbolnya, dengan warna yang berbeda-beda. Supaya khas. Karena, setiap negara memiliki keunikan masing-masing.

Bukan hanya negara; tetapi juga berbagai kelompok, organisasi, komunitas, lembaga, dan perusahaan; biasanya memiliki simbol. Dan beberapa di antaranya ada yang diletakkan pada wadah berupa bendera.

Nah, kalau bendera yang di 212 tersebut, itu merupakan simbol umat muslim keseluruhan. Wajar saja, karena rukun iman yang pertama adalah mengucapkan kalimat syahadat tersebut.

Adapun namanya, adalah ar-Rayah.

Ar-Rayah-dan-Al-Liwa-Bendera-Islam
Ar-Rayah-dan-Al-Liwa-Bendera-Islam

Iya, bendera hitam besar bertuliskan syahadat itu namanya adalah ar-Rayah
Hal ini berdasarkan hadits berikut; Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasai di Sunan al-Kubra telah mengeluarkan dari Yunus bin Ubaid mawla Muhammad bin al-Qasim, ia berkata: Muhammad bin al-Qasim mengutusku kepada al-Bara’ bin ‘Azib bertanya tentang rayah Rasulullah Saw seperti apa? Al-Bara’ bin ‘Azib berkata:

كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ

“Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam persegi panjang terbuat dari Namirah.”

Dalam Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah Saw telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta. Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan ‘Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah’. Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih.”.

Kalau umat muslim dulu sudah tidak perlu terlalu ‘masif diedukasi’ terkait bendera ini, karena bendera ini sudah biasa dilihat. Tidak langka. Mungkin nyaris setiap hari ketemunya. Lantaran umat muslim dulu hidup dalam satu negara Islam Khilafah.

Soalnya pun hanya satu-satunya bendera inilah yang mereka cintai dan perjuangkan, karena memang dengan kalimat syahadat itu mereka senaniatasa semangat belajar Islam, mengamalkan Islam, hingga mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Nah, bendera Negara Islam namanya al-Liwa. Al-Liwa itu nyaris persis seperti ar-Rayah, hanya beda warna saja. Kalau ar-Rayah kan latar belakangnya berwarna hitam, kemudian tulisannya berwarna putih. Kalau al-Liwa; sebaliknya; latar belakangnya berwarna putih, kemudian tulisannya berwarna hitam.

Berikut ini beberapa hadits lainnya terkait al-Liwa dan ar-Rayah.

Ar-Rayah dan Al-LiwaImam At-Tirmidzi dan Imam Ibn Majah telah mengeluarkan dari Ibn Abbas, ia berkata:

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

“Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih.”

Imam An-Nasai di Sunan al-Kubra, dan at-Tirmidzi telah mengeluarkan dari Jabir:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «دَخَلَ مَكَّةَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ

“Bahwa Nabi Saw masuk ke Mekah dan Liwa’ beliau berwarna putih.”

Ibn Abiy Syaibah di Mushannaf-nya mengeluarkan dari ‘Amrah ia berkata:

Panji Hitam Al mahdi
Panji Hitam Al mahdi

كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضَ

“Liwa Rasulullah Saw berwarna putih.”

Saat Rasulullah Saw menjadi panglima militer di Khaibar, beliau bersabda:

لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ أَوْلَيَأْخُذَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَوْ قَالَ يُحِبُّ الله َوَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ فَإِذَا نَحْنُ بِعَلِيٍّ وَمَا نَرْجُوهُ فَقَالُوا هَذَا عَلِيٌّ فَأَعْطَاهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّايَةَ فَفَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ

“‘Sungguh besok aku akan menyerahkan ar-râyah atau ar-râyah itu akan diterima oleh seorang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya atau seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mengalahkan (musuh) dengan dia.’. Tiba-tiba kami melihat Ali, sementara kami semua mengharapkan dia. Mereka berkata, ‘Ini Ali.’. Lalu Rasulullah Saw memberikan ar-rayah itu kepada Ali. Kemudian Allah mengalahkan (musuh) dengan dia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Saw. menyampaikan berita duka atas gugurnya Zaid, Ja‘far, dan Abdullah bin Rawahah, sebelum berita itu sampai kepada beliau, dengan bersabda:

أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا عَبْدُاللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ

“Ar-Râyah dipegang oleh Zaid, lalu ia gugur; kemudian diambil oleh Ja‘far, lalu ia pun gugur; kemudian diambil oleh Ibn Rawahah, dan ia pun gugur.” (HR. Bukhari)

Pasukan Panji Hitam

Fungsi dan peggunaannya

Jadi, itu tadi kan, al-Liwa merupakan bendera resmi Daulah Islam di masa Rasulullah Saw dan para Khalifah setelah beliau Saw. Ini adalah kesimpulan dari Imam al-Sarakhsiy, dan dikuatkan dalam kitab Syarh As-Sair al-Kabir, karya Imam Muhammad bin al-Hasan as-Syaibaniy.

Disimpulkan bahwa, “Liwaa adalah bendera yang berada di tangan Penguasa. Ar-Raayah, adalah panji yang dimiliki oleh setiap pemimpin divisi pasukan, di mana semua pasukan yang ada dalam divisinya disatukan di bawah panji tersebut. Liwaa hanya berjumlah satu buah untuk keseluruhan pasukan. Liwaa digunakan sebagai patokan pasukan ketika mereka merasa perlu untuk menyampaikan keperluan mereka ke hadapan penguasa (Imam). Liwaa dipilih berwarna putih. Ini ditujukan agar ia bisa dibedakan dengan panji-panji berwarna hitam yang ada di tangan para pemimpin divisi pasukan.”

Jadi, jelas, bendera tersebut merupakan bendera kita bersama. Jangan dianggap asing. Karena memang sudah saatnya umat muslim membiasakannya kembali. Maka, silahkan saja, siapapun Anda sangat boleh untuk memiliki bendera tersebut, memegangnya, mengangkatnya, mengibarkannya, dan tentu saja sepaket dengan memperjuangkannya.

Jangan pedulikan oknum orang dan media yang memberikan stigma negatif pada bendera tersebut. Seperti misalnya menyimpulkan bahwa itu merupakan bendera teroris, ISIS, dan sebagainya.

Memang beberapa perilaku ISIS dan teroris itu merupakan penyimpangan, perlu diwaspadai. Karena mereka berdakwah dengan kekerasan, padahal mereka hanya individu dan kelompok yang tak berwenang.

Namun sayangnya sebagian orang yang tak senang dengan Islam, malah menunggangi hal tersebut untuk membentuk opini bahwa semua orang Islam itu teroris, kemudian menonjolkan bahwa seolah barang bukti teroris adalah bendera itu. Sehingga, umat muslim sendiri bahkan juga yang non-muslim menjadi phobia dengan simbol-simbol Islam. Dimulai dari rasa takut akan simbol, akhirnya jadi takut dengan Islam secara keseluruhan.

Maka dari itu, adanya kampanye dan edukasi terkait al-Liwa dan ar-Rayah tersebut sudah bagus. Dan harus lebih dimasifkan lagi. Ini merupakan PR kita bersama. Marilah dari sekarang kita lawan arus opini negatif terhadap simbol-simbol Islam. Silahkan temui kenalan-kenalan kita, ngobrollah dengan mereka, dan beritahu tentang al-Liwa dan ar-Rayah ini.

Mungkin orang-orang yang membenci Islam bisa merakayasa fakta dan membuat drama jelek tentang al-Liwa dan ar-Rayah, namun, mereka tetap pasti akan kalah bila ada kajian secara normatif bahwa memang wahyu menunjukkan bendera tersebut merupakan bendera yang baik-baik saja.

Lagipula tulisan di bendera itu kan syahadat. Itu rukun iman yang pertama. Itulah inti keislaman kita. Itulah yang menyatukan kita; tanpa melihat suku, bangsa, kelompok, level ekonomi, hobi, dan sebagainya. Itulah tujuan hidup kita. Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah.

Wallahua’lam..

 

sumber : teknikhidup.com