Pasukan Panji Hitam: Apa Benar Akhir Zaman Nanti Muncul Pasukan Panji Hitam?


Panji Islam – Portal Berita Islam : Pasukan Panji Hitam: Apa Benar Akhir Zaman Nanti Muncul Pasukan Panji Hitam? Penggunaan hadis untuk mendukung agenda politik kekuasaan-kekerasan merupakan fenomena yang lumrah terjadi dalam dunia Islam. Berdirinya Daulah Bani Abbas pada abad kedua hijriah misalnya, banyak didukung dengan kampanye politik yang menggunakan hadis-hadis Nabi tentang akhir zaman. Khususnya hadis tentang Al-Mahdi dan pasukan panji hitam.

Belakangan, ada kelompok tertentu yang menggunakan hadis-hadis Nabi saw. tentang akhir zaman sebagai legitimasi gerakan politik mereka yang penuh kekerasan dan kesadisan. Mereka berupaya menarik dukungan umat Islam dengan menggunakan hadis-hadis Nabi saw. Salah satunya, mereka mengklaim sebagai pasukan panji hitam yang datang di akhir zaman mengawal kedatangan sang juru selamat, Al-Mahdi. Tujuannya tidak lain adalah agar umat Islam mendukung gerakan mereka.

Mereka menggunakan hadis tentang pasukan panji berikut:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمُ ابْنُ خَلِيفَةَ، ثُمَّ لَا يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ، ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَيُقَاتِلُونَكُمْ قِتَالًا لَمْ يُقَاتِلْهُ قَوْمٌ – ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا فَقَالَ – إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ، فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

Tiga golongan saling berperang memperebutkan kekuasaan kalian. Mereka adalah anak-anak penguasa. Kekuasaan tidak menghampiri seorang pun dari ketiganya. Lalu muncul pasukan dengan bendera hitam dari arah timur. Mereka memerangi kalian dengan peperangan yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh suatu kaum. Ketika kalian melihat pasukan panji hitam, berbaiatlah kepadanya, sekalipun dengan cara merangkak di atas salju. Sungguh, ia adalah khalifah Alllah, Al-Mahdi (HR. Al-Hakim)

Hadis pasukan panji hitam disebutkan dalam sejumlah kitab hadis.Yaitu Musnad Ahmad, Sunan al-Tirmidzi, Sunan Ibn Majah, al-Fitan, al-Malahim, Musnad al-Bazzar dan al-Mustadrak. Secara umum hadis tentang pasukan panji hitam berkualitas lemah. Berikut adalah penjelasannya:

Riwayat Al-Bazzar berkualitas lemah karena ada dua orang yang perlu dicurigai. Pertama, Ibrahim bin Yazid bin Qais. Ia dikenal thiqah tetapi banyak meriwayatkan hadis secara mursal (salah satu jenis terputusnya sanad yang menyebabkan hadis menjadi daif.) Kedua, al-Hakam bin Utbah perawi yang dikenal thiqah-thabat,tetapi sering melakukan praktik tadlis (mengkaburkan riwayat/sumber agar terlihat sahih). Al-Hakam meriwayatkan hadis dari gurunya menggunakan redaksi ‘an. Perawi pelaku tadlis dilarang menggunakan redaksi tersebut. Dari sini dapat disimpulkan bahwa hadis pasukan panji hitam dalam riwayat al-Bazzar adalah daif (lemah).

Riwayat Imam Ahmad dan Al-Tirmidzi bermasalah karena terdapat perawi bernama Risydin bin Sa’d yang dinilai dha’if (lemah), mukhtalith (kacau hafalannya), dan sayyi’ul hifzh (buruk hafalannya). Dari aspek hafalan, perawi ini memiliki kekurangan yang menyebabkan hadisnya menjadi daif (lemah).

Riwayat Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Thauban juga memiliki masalah. Dalam sanad Ibnu Majah, terdapat perawi bernama Abdurrazzaq yang dinilai majruh (memiliki cacat). Dia dinilai thiqah dan hafizh, namun di sisi lain beliau kemudian mengalami penurunan kemampuan hafalan dan cenderung kepada paham/aliran syiah (tasyayyu’). Hal ini menyebabkan hadis yang berasal darinya dinilai bermasalah (baca: daif).

Pada riwayat al-Hakim terdapat perawi bernama Khalid al-Haddza’ yang dikenal thiqah namun banyak meriwayatkan secara mursal. Karena perawi ini dinilai memiliki cacat, harusnya hadisnya dinilai lemah. Namun al-Hakim melihat bahwa cacat yang terdapat pada perawi ini tidak berpengaruh terhadap hadis pasukan panji hitam. Tidak ada bukti bahwa hadis ini diriwayatkan secara mursal atau terpotong sanadnya yang dapat menyebabkan hadisnya menjadi lemah. Karenanya, al-Hakim menilai hadis ini sahih berdasarkan standar al-Bukhari dan Muslim.

Seandainya Khalid Al-Hadzdza’ diterima, riwayat Al-Hakim masih punya masalah lain. Yaitu pada perawi bernama Muhammad bin Ibrahim bin Arumah dan Abu Abdillah al-Shaffar yang tidak diketahui biografinya (majhul). Hadis yang dalam sanadnya terdapat perawi majhul patut dicurigai, dan dalam beberapa kasus, dianggap tidak ada alias munqathi’. Di sini dapat disimpulkan riwayat ini daif.

Riwayat Imam Ahmad dari Thauban sepertinya harus mengalami nasib yang sama. Dalam sanad ini terdapat perawi bernama Ali bin Zaid biografinya belum ditemukan (majhul). Majhul-nya seorang perawi menyebabkan jalur periwayatan menjadi meragukan dan cenderung lemah (daif).

Berdasarkan analisis ini, dapat disimpulkan bahwa hampir semua sanad hadis pasukan panji hitam, bermasalah (baca: daif). Simpulan ini meneguhkan pernyataan Ibnu Kathir (w. 774 H.) yang menyatakan semua sanad hadis pasukan panji hitam bermasalah. Karena terdapat perawi-perawi kurang kredibel dalam masing-masing sanad.

Mengomentari hadis-hadis yang digunakan dalam kampanye politik pendukung Daulah Abbasiyyah, khususnya terkait pasukan panji hitam, Ibnu Katsir berkata, “Hadza Kulluhu Tafri’un ‘Ala Shihhati Hadzihi al-Ahadith, wa Illa fala yakhlu sanadun minha kalamun wa allahu subhanahu wa ta’ala a’lam bi al-shawab.” (Perdebatan tentang kandungan hadis-hadis mahdi dan peristiwa akhir zaman, didasarkan pada asumsi kesahihan hadis-hadisnya. Bila tidak, maka sebenarnya seluruh sanad hadis-hadis tersebut memiliki cacat yang perlu dikomentari. Allah SWT yang maha tahu yang benar). (Ibnu Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jilid 6, hlm. 278).

Panji Hitam Al mahdi
Panji Hitam Al mahdi

Kandungan Hadis

Hadis tentang pasukan panji hitam tidak dapat dilepaskan dari narasi kedatangan Al-Mahdi. Narasi ini sudah digunakan Abu Muslim Al-Khurasani, jenderal pendukung Bani Abbas, memobilisasi bangsa Muslim Persia untuk melawan Dinasti Bani Umayyah pada tahun 129 H. Kampanye berhasil dan umat Muslim Persia berbondong-bondong menyerang Damaskus, pusat pemerintahan Bani Umayyah. Abu Muslim memerintahkan pengikutnya memakai simbol kemiliteran serba hitam, termasuk bendera dan panjinya. Ia mengklaim sebagai kelompok Al-Mahdi yang disabdakan Rasulullah saw.

Ibnu Katsir (w. 774 H.) memberi komentar bahwa Al-Mahdi dan pasukan panji hitam hanya akan datang di akhir zaman. Bukan pada masa ambruknya kekhalifahan Bani Umayyah. Hal ini dengan asumsi bahwa hadis tentang Al-Mahdi dan panji hitamnya sahih. Karena, sebagaimana disebut sebelumnya,hadis pasukan panji hitam adalah hadis daif sebab ada perawi-perawi bermasalah dalam sanadnya.

Al-Suyuthi mencatat bahwa dalam sejarah umat Islam, terdapat banyak kelompok yang mengklaim sebagai gerakan Al-Mahdi. Menurutnya, semua itu bentuk kebohongan belaka. Kelompok-kelompok tukang klaim tersebut mempermainkan dalil-dalil agama seperti anak-anak memainkan mainannya. Mereka berusaha mencocok-cocokkan ciri-ciri pemimpin serta kelompoknya dengan Al-Mahdi dan pendukungnya.

Ciri tukang klaim tersebut, kata Al-Suyuthi, adalah mereka membuat standar keimanan sendiri bahwa umat Islam yang mendukungnya sebagai mukmin dan yang menolak bergabung bersama mereka disebut kafir. Ciri lainnya, mereka berani membunuhi para ulama (Al-Suyuthi, Syarah Sunan Ibn Majah, jilid 1, hlm. 300).

Hari ini, ciri-ciri kelompok pengklaim itu hadir di hadapan kita. Mereka mengklaim para pengikutnya sebagai ahli tauhid, muwahhid, mukmin sejati dan mujahid. Sedang umat Islam yang enggan mendukung, mereka sebut kafir, musyrik, dan thaghut. Selain itu, tidak sedikit ulama yang dimusuhi, dikafirkan, dan dibunuh. Ini sesuai dengan pernyataan Al-Suyuthi. Wallahu A’lam.

Pasukan Panji Hitam

 

sumber : islami.co

Ini Dalil-dalil Cinta Tanah Air dari Al-Qur’an dan Hadits


Panji Islam – Portal Berita Islam : Ini Dalil-dalil Cinta Tanah Air dari Al-Qur’an dan Hadits. Nasionalisme berasal dari kata nation (B. Inggris) yang berarti bangsa. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata bangsa memiliki beberapa arti: (1) kesatuan orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya serta berperintahan sendiri; (2) golongan manusia, binatang atau tumbuh-tumbuhan yang mempunyai asal usul yang sama dan sifat khas yang sama atau bersamaan, dan (3) kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti umum, dan biasanya menempati wilayah tertentu di muka bumi (Lukman Ali. Dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1994, hal. 98).

Istilah nasionalisme yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia memiliki dua pengertian: paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dan kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa. Nasionalisme dalam arti sempit dapat diartikan sebagai cinta tanah air. Selanjutnya, dalam tulisan ini yang dimaksud dengan nasionalisme yaitu nasionalisme dalam arti sempit.

Al-Jurjani dalam kitabnya al-Ta’rifat mendefinisikan tanah air dengan al-wathan al-ashli.

اَلْوَطَنُ الْأَصْلِيُّ هُوَ مَوْلِدُ الرَّجُلِ وَالْبَلَدُ الَّذِي هُوَ فِيهِ

Artinya; al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya. (Ali Al-Jurjani, al-Ta’rifat, Beirut, Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1405 H, halaman 327)

Dalil-dalil Cinta Tanah Air

Mencintai tanah air adalah hal yang sifatnya alami pada diri manusia. Karena sifatnya yang alamiah melekat pada diri manusia, maka hal tersebut tidak dilarang oleh agama Islam, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran/nilai-nilai Islam.

Meskipun cinta tanah air bersifat alamiah, bukan berarti Islam tidak mengaturnya. Islam sebagai agama yang sempurna bagi kehidupan manusia mengatur fitrah manusia dalam mencintai tanah airnya, agar menjadi manusia yang dapat berperan secara maksimal dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, serta memiliki keseimbangan hidup di dunia dan akhirat.

Berkenaan dengan vonis bahwa cinta tanah air tidak ada dalilnya, maka guna menjawab vonis tersebut, perlu kiranya kita mencermati paparan ini. Berikut adalah dalil-dalil tentang bolehnya cinta tanah air:

Dalil-dalil Cinta Tanah Air dari Al-Qur’an dan Hadits21. Dalil Cinta Tanah Air Dari Al-Qur’an

Salah satu ayat Al-Qur’an yang menjadi dalil cinta tanah air menurut penuturan para ahli tafsir adalah Qur’an surat Al-Qashash ayat 85:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ

Artinya: “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al Qashash: 85)

Para mufassir dalam menafsirkan kata “معاد” terbagi menjadi beberapa pendapat. Ada yang menafsirkan kata “معاد” dengan Makkah, akhirat, kematian, dan hari kiamat. Namun menurut Imam Fakhr Al-Din Al-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaib, mengatakan bahwa pendapat yang lebih mendekati yaitu pendapat yang menafsirkan dengan Makkah.

Syekh Ismail Haqqi Al-Hanafi Al-Khalwathi (wafat 1127 H) dalam tafsirnya Ruhul Bayan mengatakan:

وفي تَفسيرِ الآيةِ إشَارَةٌ إلَى أنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإيمانِ، وكَانَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ كَثِيرًا: اَلْوَطَنَ الوَطَنَ، فَحَقَّقَ اللهُ سبحانه سُؤْلَهُ ……. قَالَ عُمَرُ رضى الله عنه لَوْلاَ حُبُّ الوَطَنِ لَخَرُبَ بَلَدُ السُّوءِ فَبِحُبِّ الأَوْطَانِ عُمِّرَتْ البُلْدَانُ.

Artinya: “Di dalam tafsirnya ayat (QS. Al-Qashash:85) terdapat suatu petunjuk atau isyarat bahwa “cinta tanah air sebagian dari iman”. Rasulullah SAW (dalam perjalanan hijrahnya menuju Madinah) banyak sekali menyebut kata; “tanah air, tanah air”, kemudian Allah SWT mewujudkan permohonannya (dengan kembali ke Makkah)….. Sahabat Umar RA berkata; “Jika bukan karena cinta tanah air, niscaya akan rusak negeri yang jelek (gersang), maka sebab cinta tanah air lah, dibangunlah negeri-negeri”. (Ismail Haqqi al-Hanafi, Ruhul Bayan, Beirut, Dar Al-Fikr, Juz 6, hal. 441-442)

Selanjutnya, ayat yang menjadi dalil cinta tanah air menurut ulama yaitu Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 66.

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِم أَنِ اقْتُلُوْا أَنْفُسَكم أَوِ أخرُجُوا مِن دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوْه إِلَّا قليلٌ منهم

Artinya: “Dan sesungguhnya jika seandainya Kami perintahkan kepada mereka (orang-orang munafik): ‘Bunuhlah diri kamu atau keluarlah dari kampung halaman kamu!’ niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka…” (QS. An-Nisa’: 66).

Syekh Wahbah Al-Zuhaily dalam tafsirnya al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj menyebutkan:

وفي قوله: (أَوِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ) إِيْمَاءٌ إِلىَ حُبِّ الوَطَنِ وتَعَلُّقِ النَّاسِ بِهِ، وَجَعَلَه قَرِيْنَ قَتْلِ النَّفْسِ، وَصُعُوْبَةِ الهِجْرَةِ مِنَ الأوْطَانِ.

Artinya: “Di dalam firman-Nya (وِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ) terdapat isyarat akan cinta tanah air dan ketergantungan orang dengannya, dan Allah menjadikan keluar dari kampung halaman sebanding dengan bunuh diri, dan sulitnya hijrah dari tanah air.” (Wahbah Al-Zuhaily, al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj, Damaskus, Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir, 1418 H, Juz 5, hal. 144)

Pada kitabnya yang lain, Tafsir al-Wasith, Syekh Wahbah Al-Zuhaily mengatakan:

وفي قَولِهِ تَعَالى: (أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيارِكُمْ) إِشَارَةٌ صَرِيْحَةٌ إلَى تَعَلُقِ النُفُوْسِ البَشَرِيَّةِ بِبِلادِها، وَإِلَى أَنَّ حُبَّ الوَطَنِ مُتَمَكِّنٌ فِي النُفُوْسِ وَمُتَعَلِقَةٌ بِهِ، لِأَنَّ اللهَ سُبْحانَهُ جَعَلَ الخُرُوْجَ مِنَ الدِّيَارِ وَالأَوْطانِ مُعَادِلاً وَمُقارِنًا قَتْلَ النَّفْسِ، فَكِلَا الأَمْرَيْنِ عَزِيْزٌ، وَلَا يُفَرِّطُ أغْلَبُ النَّاسِ بِذَرَّةٍ مِنْ تُرابِ الوَطَنِ مَهْمَا تَعَرَّضُوْا لِلْمَشَاقِّ والمَتَاعِبِ والمُضَايَقاتِ.

Artinya: Di dalam firman Allah “keluarlah dari kampung halaman kamu” terdapat isyarat yang jelas akan ketergantungan hati manusia dengan negaranya, dan (isyarat) bahwa cinta tanah air adalah hal yang melekat di hati dan berhubungan dengannya. Karena Allah SWT menjadikan keluar dari kampung halaman dan tanah air, setara dan sebanding dengan bunuh diri. Kedua hal tersebut sama beratnya. Kebanyakan orang tidak akan membiarkan sedikitpun tanah dari negaranya manakala mereka dihadapkan pada penderitaan, ancaman, dan gangguan.” (Wahbah Al-Zuhaily, Tafsir al-Wasith, Damaskus, Dar Al-Fikr, 1422 H, Juz 1, hal. 342)

Ayat Al-Qur’an selanjutnya yang menjadi dalil cinta tanah air, menurut ahli tafsir kontemporer, Syekh Muhammad Mahmud Al-Hijazi yaitu pada QS. At-Taubah ayat 122.

وَما كانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Artinya: Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122)

Syekh Muhammad Mahmud al-Hijazi dalam Tafsir al-Wadlih menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:

وتُشِيرُ الآيةُ إلى أنَّ تَعَلُّمَ العلمِ أَمْرٌ واجِبٌ على الأمَّةِ جَميعًا وُجُوبًا لا يَقِلُّ عَن وُجوبِ الجِهادِ والدِّفاعُ عَنِ الوَطَنِ وَاجِبٌ مُقَدَّسٌ، فَإِنَّ الوَطَنَ يَحْتاجُ إلى مَنْ يُناضِلُ عَنْهُ بِالسَّيفِ وَإِلَى مَنْ يُنَاضِلُ عَنْهُ بِالْحُجَّةِ وَالبُرْهَانِ، بَلْ إِنَّ تَقْوِيَةَ الرُّوحِ المَعْنَوِيَّةِ، وغَرْسَ الوَطَنِيَّةِ وَحُبِّ التَّضْحِيَةِ، وَخَلْقَ جِيْلٍ يَرَى أَنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإِيمَانِ، وَأَنَّ الدِّفَاعَ عَنْهُ وَاجِبٌ مُقَدَّسٌ. هَذَا أَسَاسُ بِنَاءِ الأُمَّةِ، ودَعَامَةُ اسْتِقْلَالِهَا.

Artinya: “Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa belajar ilmu adalah suatu kewajiban bagi umat secara keseluruhan, kewajiban yang tidak mengurangi kewajiban jihad, dan mempertahankan tanah air juga merupakan kewajiban yang suci. Karena tanah air membutuhkan orang yang berjuang dengan pedang (senjata), dan juga orang yang berjuang dengan argumentasi dan dalil. Bahwasannya memperkokoh moralitas jiwa, menanamkan nasionalisme dan gemar berkorban, mencetak generasi yang berwawasan ‘cinta tanah air sebagian dari iman’, serta mempertahankannya (tanah air) adalah kewajiban yang suci. Inilah pondasi bangunan umat dan pilar kemerdekaan mereka.” (Muhammad Mahmud al-Hijazi, Tafsir al-Wadlih, Beirut, Dar Al-Jil Al-Jadid, 1413 H, Juz 2, hal. 30)

Ayat-ayat di atas sebagaimana telah jelaskan oleh para mufassir dalam kitab tafsirnya masing-masing merupakan dalil cinta tanah air di dalam Al-Qur’an Al-Karim.

Dalil-dalil Cinta Tanah Air dari Al-Qur’an dan Hadits2. Dalil Cinta Tanah Air dari Hadits

Berikut ini adalah hadits-hadits yang menjadi dalil cinta tanah air menurut penjelasan para ulama ahli hadits, yang dikupas tuntas secara gamblang:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا ……. وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبِّ الوَطَنِ والحَنِينِ إِلَيْهِ .

Artinya: “Diriwayatkan dari sahabat Anas; bahwa Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. (HR. Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany (wafat 852 H) dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari (Beirut, Dar Al-Ma’rifah, 1379 H, Juz 3, hal. 621), menegaskan bahwa dalam hadits tersebut terdapat dalil (petunjuk): pertama, dalil atas keutamaan kota Madinah; kedua, dalil disyariatkannya cinta tanah air dan rindu padanya.

Sependapat dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar, Badr Al-Din Al-Aini (wafat 855 H) dalam kitabnya ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari menyatakan:

وَفِيه: دَلَالَة عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الوَطَنِ وَاْلحِنَّةِ إِلَيْهِ

Artinya; “Di dalamnya (hadits) terdapat dalil (petunjuk) atas keutamaan Madinah, dan (petunjuk) atas disyari’atkannya cinta tanah air dan rindu padanya.” (Badr Al-Din Al-Aini, Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 10, hal. 135)

Imam Jalaluddin Al-Suyuthi (wafat 911 H) dalam kitabnya Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih menyebutkan:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي حُمَيْدٌ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا»، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: زَادَ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ: حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا. حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: جُدُرَاتِ، تَابَعَهُ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ. (درجات): بفتح المهملة والراء والجيم، جمع “درجة”، وهي طرقها المرتفعة، وللمستملي: “دوحات” بسكون الواو، وحاء مهملة جمع دوحة، وهي الشجرة العظيمة. (أوضع): أسرع السير. (مِنْ حُبِّها) أي: المدينةِ، فِيْهِ مَشْرُوعِيَّةُ حُبِّ الوَطَنِ والحَنينِ إليه.

Artinya: “Bercerita kepadaku Sa’id ibn Abi Maryam, bercerita padaku Muhammad bin Ja’far, ia berkata: mengkabarkan padaku Humaid, bahwasannya ia mendengan Anas RA berkata: Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat tanjakan-tanjakan Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya. Berkata Abu Abdillah: Harits bin Umair, dari Humaid: beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. Bercerita kepadaku Qutaibah, bercerita padaku Ismail dari Humaid dari Anas, ia berkata: dinding-dinding. Harits bin Umair mengikutinya.” (Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih, Riyad, Maktabah Al-Rusyd, 1998, Juz 3, hal. 1360)

Sependapat dengan Ibn Hajar Al-Asqalany, Imam Suyuthi di dalam menjelaskan hadits sahabat Anas di atas, memberikan komentar: di dalamnya (hadits tersebut) terdapat unsur disyari’atkannya cinta tanah air dan merindukannya.

Ungkapan yang sama juga disampaikan oleh Syekh Abu Al Ula Muhammad Abd Al-Rahman Al-Mubarakfuri (wafat 1353 H), dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi Syarh at-Tirmidzi (Beirut, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Juz 9, hal. 283) berikut:

وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الْوَطَنِ وَالْحَنِينِ إِلَيْهِ .

Hadits berikutnya yang menjadi dalil cinta tanah air yaitu hadits riwayat Ibn Ishaq, sebagimana disampaikan Abu Al-Qosim Syihabuddin Abdurrahman bin Ismail yang masyhur dengan Abu Syamah (wafat 665 H) dalam kitabnya Syarhul Hadits al-Muqtafa fi Mab’atsil Nabi al-Mushtafa berikut:

قَالَ السُّهَيْلِي: ” وَفِي حَدِيْثِ وَرَقَةَ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – لَتُكَذَّبَنَّهْ، فَلَمْ يَقُلْ لَهُ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – شَيْئاً، ثُمَّ قَالَ: وَلَتُؤْذَيَنَّهْ، فَلَمْ يَقُلْ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – شَيْئاً، ثُمَّ قَالَ: وَلَتُخْرَجَنَّهْ، فَقَالَ: َأوَ مُخْرِجِيَّ هُمْ؟ فَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى حُبِّ اْلوَطَنِ وَشِدَّةِ مُفَارَقَتِهِ عَلَى النَّفْسِ.

“Al-Suhaily berkata: Dan di dalam hadits (tentang) Waraqah, bahwasanya ia berakata kepada Rasulullah SAW; sungguh engkau akan didustakan, Nabi tidak berkata sedikitpun. Lalu ia berkata lagi; dan sungguh engkau akan disakiti, Nabi pun tidak berkata apapun. Lalu ia berkata; sungguh engkau akan diusir. Kemudian Nabi menjawab: “Apa mereka akan mengusirku?”. Al-Suhaily menyatakan di sinilah terdapat dalil atas cinta tanah air dan beratnya memisahkannya dari hati.” (Abu Syamah, Syarhul Hadits al-Muqtafa fi Mab’atsil Nabi al-Mushtafa, Maktabah al-Umrin Al-Ilmiyah, 1999, hal. 163)

Abdurrahim bin Husain Al-Iraqi (wafat 806 H) di dalam kitabnya Tatsrib fi Syarh Taqribil Asanid wa Tartibil Masanid, pada hadits yang sama, juga mengutip pendapatnya Al-Suhaily:

فَقَالَ السُّهَيْلِيُّ فِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى حُبِّ الْوَطَنِ وَشِدَّةِ مُفَارَقَتِهِ عَلَى النَّفْسِ.

Artinya: “Al-Suhaily berkata: di sinilah terdapat dalil atas cinta tanah air dan beratnya memisahkannya dari hati.” (Abdurrahim Al-Iraqi, Tatsrib fi Syarh Taqribil Asanid wa Tartibil Masanid, Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 4, hal. 196)

Pemaparan di atas menunjukkan bahwa cinta tanah air memiliki dalil yang bersumber dari Qur’an dan Hadits, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama seperti; Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalany, Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Abdurrahim al-Iraqi, Syekh Ismail Haqqi al-Hanafi dan yang lainnya. Sehingga vonis cinta tanah air tidak dalilnya, jelas tidak benar dan tidak berdasar.
Supriyono, Dosen STAIN Kudus, Wakil Sekretaris PC GP Ansor Bidang Litbang Kabupaten Kudus

sumber : NU Online

Wali Songo: Strategi Dakwah Wali Songo Dalam Islamisasi Di Jawa


Panjiislam.com : Strategi Dakwah Wali Sanga Dalam Islamisasi Di Jawa. Peran Wali Sanga dalam penyebaran Islam di Indonesia, terutama di Jawa nampaknya tidak dapat di sangkal lagi. Besarnya jasa mereka dalam mengislamkan tanah Jawa telah menjadi catatan yang masyhur dalam kesadaran masyarakat Islam Jawa. Ada yang menganggap “Wali Songo” ­lah perintis awal gerakan dakwah Islam di Indonesia. Karena jika dilihat pada fase sebelumnya, Islamisasi di Nusantara lebih dilaksanakan oleh orang-perorangan tanpa manajemen organisasi. Tetapi dalam kasus Wali Sanga ini, aspek manajemen keorganisasian telah mereka fungsikan. Yakni, mereka dengan sengaja menempatkan diri dalam satu kesatuan organisasi dakwah yang diatur secara rasional, sistematis, harmonis, tertentu dan kontinyu serta menggunakan strategi, metode dan fasilitas dakwah yang betul-betul efektif.

Widji Saksono dalam bukunya “Mengislamkan Tanah Jawa..” mengisyaratkan bahwa apabila berita tentang Wali Sanga dikumpulkan dan dipelajari, antara lain dari serat Wall Sanga dan dari Primbon milik Prof. K.H.R. Moh. Adnan, maka didapati suatu kesimpulan, bahwa secara keseluruhan -kecuali Syeik Siti Jenar- Wali Sanga merupakan satu kesatuan organisasi. Yaitu organisasi yang dapat diidentikkan sebagai panitia ad hoc atau kanayakan (kabinet) urusan mengislamkan masyarakat Jawa.

Dalam hal ini, setiap orang dari mereka memegang peranan dan bertanggungjawab sebagai ketua bagian, seksi atau nayaka (menteri) dan sebagainya dalam organisasi dakwah Wali Sanga itu. Dan mereka sering berkumpul bersama, mengadakan sesuatu, merundingkan berbagai hal yang berkenaan dengan tugas dan perjuangan mereka. Bukti lain yang menunjukkan Wali Sanga sebagai kesatuan organisasi, adalah peristiwa pembangunan masjid Demak, dimana dalam peristiwa itu tercermin sebuah kerjasama dan gotong royong tmtuk kepentingan dan tujuan yang lama; yaitu untuk kepentingan syiar agama Islam.

Untuk menunjukkan bahwa lembaga dakwah Wali Sanga bersifat teratur dan kontinyu, Saudi Berlian dalam menyunting bukunya Widji Saksono, menunjukkan paling tidak lembaga Wali Sanga telah mengalami empat kali periode sidang penggantian `pengurus’.

Periode I: Malik Ibrahim, Ishaq, Ahmad Jumad al-Kubra, Muhammad al-Maghribi, Malik Israil, Muhammad al-Akbar, Hasanuddin, Aliyuddin dan Subakir.

Periode II: Komposisi kepengurusan dilengkapi oleh Raden Rahmad Al Rahmatullah (Sunan Ampel) menggantikan Malik Ibrahim yang telah wafat, Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) menggantikan Malik Israil yang telah wafat, Syaril Hidayatullah menggantikan Al-Akbar yang telah wafat.

Periode III:, masuk Raden Paku (Sunan Girl) menggantikan Ishaq yang pindah ke Pasai, Raden Said (Sunan Kalijaga) menggantikan Syeikh Subakir yang kembali ke Persia, Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) menggantikan Maulana Hasanuddin yang telah Wafat, Raden Qasim (Sunan Drajat) menggantikan Aliyuddin yang telah wafat.

Periode IV: masuk Raden Hasan (Raden Fatah) dan Fathullah Khan, keduanya menggantikan Ahmad Jumad al-Kubra dan Muhammad al-Maghribi. Periode V: masuk Sunan Muria. Tidak dijelaskan tokoh Ini menggantikan siapa, tetapi besar kemungkinan menggantikan Raden Fatah yang naik tahta sebagai Sultan I Demak

Selanjutnya, dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa, Wali Sanga telah menggunakan beberapa strategi dan metode dakwah. Di antaranya adalah dengan memobilisasi semua alat ta’tsir psikologis yang berupa sensasi, conciliare, sugesti, hipnotis sampai de cere. Karena sensasi inilah, masyarakat awam dipaksa secara halus untuk menaruh perhatian kepada para Wali dan mengesampingkan yang lainnya. Karena conciliare, publik akhirnya mengganggap penting apa saja yang datang dari para Wali.

Karena sugesti, rakyat didorong berbuat sesuatu sehingga bergerak tanpa banyak tanya. Karena hipnotis, rakyat terpukau akan segala sesuatu yang bermerk para Wall tanpa banyak selidik dan kritik. Selanjutnya karma de cere,-para Wali dapat mengendalikan dan mengarahkan awam sebagai obyek dakwahnya ke mana raja yang mereka kehendaki. Selain strategi yang bersifat psikilogis, Wali Sanga juga menerapkan strategi (pendekatan) politis. Ini tercermin dalam langkah-langkah yang diambil terutama oleh Raden Patah ketika mendirikan Kerajaan Demak (Sofwan, 2000: 258).

Widji Saksono mencatat, bahwa Wali Sanga meneladani pendekatan Rasulullah SAW. dalam berdakwah, yaitu Bil Khikmati wal maudzotil khasanati wa jaadilhum billatii hiya akhsan. Wali Sanga memperlakukan sasaran dakwah, terutama tokoh khusus, dengan profesional dan istimewa, langsung pribadi bertemu pribadi. Kepada mereka diberikan keterangan, pemahaman dan perenungan (tazkir) tentang Islam, peringatan-peringatan dengan lemah lembut, bertukar pikiran dari hati ke hati, penuh toleransi dan pengertian. Metode Ini dapat dilihat pada kasus Sunan Ampel ketika mengajak Ariya Damar dari Palembang masuk Islam. Juga pada Sunan Kalijaga ketika mengajak Adipati Pandanarang di Semarang untuk masuk Islam.

Dalam pendekatan Bil Hikmah, Wall Sanga menggunakannya dengan jalan kebijaksanaan yang diselenggarakan secara populer, atraktif dan sensasional. Pendekatan Ini mereka pergunakan terutama dalam menghadapi masyarakat awam. Dalam rangkaian Ini kita dapati kisah Sunan Kalijaga dengan gamelan Sekaten-nya. Atas usul Sunan Kalijaga, maka dibuatlah keramaian Sekaten atau Syahadatainyang diadakan di Masjid Agung dengan memukul gamelan yang sangat unik, baik dalam hal langgam dan lagu maupun komposisi instrumental yang telah lazim selama ini. Begitu juga dakwah Sunan Kudus dengan lembut yang dihias secara unik dan nVentrik. Apabila kedua pendekatan ini tidak berhasil, barulah mereka menempuh jalan lain yaitu Al-Mujadalah billati hiya ahsan. Pendekatan ini terutama diterapkan terhadap tokoh yang secara terus terang menunjukkan sikap kurang setuju terhadap Islam.

Wali Sanga juga memakai strategi tarbiyyah al-‘ummah, terutama sebagai upaya pembentukan dan penanaman kader, serta strategi penyebaran juru dakwah ke berbagai daerah. Sunan Kalijaga misalnya, mengkader Kiai Gede Adipati Pandanarang (Sunan Tembayat) dan mendidik Ki Cakrajaya dari Purworejo, kemudian mengirimnya ke Lowanu untuk mengislamkan masyarakat di sana.

Sunan Ampel mengkader Raden Patah kemudian menyuruhnya berhijrah ke hutan Bintara, membuat perkampungan dan kota baru dan mengimami masyarakat yang baru terbentuk itu. untuk penyebaran juru dakwah dan pembagian wilayah kerja Wali Sanga, digambarkan oleh Mansur Suryanegara, mempunyai dasar pertimbangan geostrategis yang mapan sekali. Pembagian itu memakai rasio 5 : 3: 1.

Jawa Timur mendapat perhatian besar dari para Wali. Di sini ditempatkan 5 Wall dengan pembagian teritorial dakwah yang berbeda. Maulana Malik Ibrahim, sebagai Wali perintis, mengambil wilayah dakwahnya di Gresik. Setelah wafat, wilayah ini diambil alih oleh Sunan Girl. Sunan Ampel mengambil posisi dakwahnya di Surabaya. Sunan Bonang sedikit ke utara di Tuban. Sedangkan Sunan Drajat di Sedayu. Berkumpulnya kelima Wali di Jawa Timur adalah karna kekuasaan politik saat itu berpusat di wilayah ini. Kerajaan Kediri di Kediri dan Majapahit di Mojokerto.

Lanjut baca halaman 2

Gus Mus: Rasulullah SAW Berdakwah Menggunakan Hati


Panjiislam.com : Jakarta – Mutakhir ini banyak pendakwah yang menggunakan cara keras dan garang bahkan mengandung ujaran kebencian dalam menyampaikan dakwahnya. Padahal esensi dakwah dalam Islam harus mengedepankan kelembutan dan sikap yang ramah.

Fenomena berdakwah dengan cara keras tersebut, memperoleh kritikan dari tokoh ulama terkemuka, yaitu KH. Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus.

Menurut kiai yang juga pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang tersebut, dakwah yang berisi caci-maki dan ejekan tentu bertentangan dengan misi dakwah Nabi Muhammad SAW.

Kandungan dakwah yang disampaikan Nabi berisi ujaran dan akhlak yang baik sehingga orang mudah menerima substansi dari dakwah nabi.

Gus Mus menegaskan bahwa cara berdakwah dengan kasar dan keras menyerupai dakwah ala Abu Jahal. Sebaliknya, dakwah yang ramah, santun, dan lembut adalah dakwah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Itulah dakwah yang membedakan antara Nabi dan Abu Jahal, jika Abu Jahal berdakwah menggunakan emosi, maka Nabi berdakwah menggunakan hati.

“Nabi itu diutus untuk menyempurnakan akhlak, Nabi Muhammad dan Abu Jahal itu sama-sama berjubah, namun yang berbeda akhlaknya. Nabi Muhammad selalu menebar senyum, sedangkan Abu Jahal raut mukanya diliputi kemarahan,” ujarnya.

Kiai yang juga dikenal sebagai budayawan itu menambahkan, tujuan nabi berdakwah adalah mengajak umat untuk memberbaiki akhlak dan memberi kabar gembira bagi orang yang beriman.

Di samping itu, dakwah ala Nabi bertujuan untuk senantiasa mendoakan kepada setiap orang agar mendapat hidayah dari Allah SWT, dan bukan justru untuk melaknat dan mencaci-maki orang lain.

“Berdakwah itu kan mengajak, kalau mau lihat berdakwah yang bagus, lihatlah calo tiket bus, dengan segala usahanya dia mengajak agar tertarik untuk naik bus tersebut. Begitu juga dengan dakwah, kalau dakwahnya dengan keras dan caci-maki orang tidak tertarik dan takut,” pungkasnya. (ISNU)

Sumber: Islamramah

Panji Hitam, Siapakah Pasukan Panji Hitam Dari Timur Berdasarkan Hadits , Panji Islam


Panjiislam.com : Panji Hitam, Siapakah Pasukan Panji Hitam Dari Timur Berdasarkan Hadits , Panji Islam. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ishaq Al Washithi An Naqid; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq dari Yazid bin Hayyan; aku mendengar Abu Mijlaz menceritakan dari Ibnu Abbas, ia berkata;

“Sesungguhnya panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwarna hitam dan benderanya berwarna putih.”- sunan Ibn Majah 2808

Tidak ramai yang tahu, hanya Allah lebih mengetahui….sekirannya kita melihat di dunia sekarang, panji-panji Timur ini lebih nampak kepada pejuang-pejuang Afganistan, kerana ada banyak hadis tentang keadaan muka bumi yang bergunung-ganang, pasukan ini tidak pernah kalah dengan mana-mana pasukan, kita lihat pejuang-pejuang Afganistan tak pernah mengaku kalah sewaktu berperang dengan Rusia dan US.

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz bagaimana kita memahami hadits berikut ini:
“Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaan kalian. Mereka semua putera khalifah. Tetapi tak seorangpun diantara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka membunuh kamu dengan suatu pembunuhan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu.”

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal, lalu bersabda : “maka jika kamu melihatnya, berbai’atlah kepadanya walaupun dengan merangkak diatas salju.” [HR. Ibnu Majah no. 4074 dan Al-Hakim no. 8564 | Nihayatu Al-Bidayah wan Nihayah, hlm. 42]

(R. Yulian Anggota Group Bimbingan Islam N06).

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pertanyaan ini sudah pernah kita jawab beberapa waktu yang lalu. Bahwa seluruh hadits yang berkisah tentang kemunculan panji hitam, semuanya hadits yang dhaif dan palsu.

Dan yang teramat sangat disayangkan adalah banyak sekali orang Islam yang tertipu dengan penampilan ISIS yang juga mengibarkan panji hitam, kemudian disangka itulah firqah an najiyah. Padahal hakikatnya ISIS adalah kelompok khawarij yang sesat lagi menyesatkan.

Taruhlah hadits tentang panji hitam ini shahih dan dinukil oleh Imam Ibnu Katsir (sebagaimana keterangan penanya) maka yang dimaksud panji hitam ini bukan panji hitan sebagaimana yang difahami oleh kebanyakan orang. Akan tetapi ia adalah panji hitam yang akan keluar bersama keluarnya Al-Mahdi, Imam Ibnu Katsir berkata :

هذه الرايات السود ليست هي التي أقبل بها أبو مسلم الخراساني فاستلب بها دولة بني أمية في سنة ثنتين وثلاثين ومائة ، بل هي رايات سود أخرى تأتي صحبة المهدي

“Panji-panji hitam ini bukanlah yang dibawa oleh Abu Muslim Al-Khurosani yang kemudian dirampas oleh Bani Umayah pada tahun 132 H. Akan tetapi ia adalah panji hitam lain yang menyertai keluarnya Al-Mahdi.“

(Al-Bidayah Wan-Nihayah : 19/62).

Jika dikala itu kaum muslimin banyak tertipu oleh panji hitam yang dibawa oleh Abu Muslim Al-Khurosani maka hari ini banyak kaum muslimin tertipu oleh panji hitam yang dibawa oleh Abu Bakar Al-Baghdadi punggawa ISIS yang sesat lagi menyesatkan.

Adapun pendapat yang benar ialah hadits tentang panji hitam itu dhaif sebagaimana pernyataan para imam ahli hadits. Diantara yang melemahkannya adalah Imam Ibnul Jauzi di dalam kitab Al-Ahadits Al-Wahiyah : 1445, demikian pula Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam kitab Al-Qaulul Musaddad : 45

Kerangan lebih lengkap tentang sebab kemungkaran hadits ini bisa kita lihat di kitab Silsilah Ahadits Adh-Daifah Wal Maudhu’ah : 85 oleh Imam Al-Albani rahimahullah, beliau menyatakan :

منكر أخرجه ابن ماجه (518 – 519) والحاكم (4 / 463 – 464) من طريقين عن خالد الحذاء عن أبي قلابة عن أبي أسماء عن ثوبان مرفوعا بالرواية الأولى، وأخرجه أحمد (5 / 277) عن علي بن زيد، والحاكم أيضا (4 / 502) من طريق عبد الوهاب بن عطاء عن خالد الحذاء عن أبي قلابة به، لكن علي بن زيد وهو ابن جدعان لم يذكر أبا أسماء في إسناده، وهو من أوهامه، ومن طريقه أخرجه ابن الجوزي في كتاب ” الأحاديث الواهية ” (1445) مختصرا وابن حجر في ” القول المسدد في الذب عن المسند ” (ص 45) وقال: وعلي بن زيد فيه ضعف.

“Hadits ini adalah hadits yang mungkar dikeluarkan oleh Ibnu Majah 518-519, Al-Hakim 4/463-464, dari dua jalur dari Khalid Al-Hadza’ dari Abu Qilabah dari Asma’ dari Tsauban secara marfu melalui jalur pertama.

Dikeluarkan pula oleh Ahmad 5/277 dari Ali bin Zaid. Al-Hakim juga mengelurakan riwayat ini 4/502 dari jalur Abdullah bin Wahhab bin Atho’ dari Khalib bin Al-Hadza’ dari Abu Qilabah. Akan tetapi Ali bin Zaid ia adalah Ibnu Jadz’an tidak menyebut Abu Asma’ di dalam isnadnya, dan ini termasuk dari kewahaman dia.

Dan dari jalurnya ia juga dikeluarkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Al-Ahadits Al-Wahiyah ; 1445 secara ringkas dan dikelurkan oleh Ibnu Hajar di dalam kitab Al-Qaulul Musaddad ; 45, dan beliau berkata ; ‘Ali bin Zaid di dalamnya ada kelemahan.’”

(Silsilah Ahadits Adh-Dah’ifah : 1/95 hadits no. 85, lihat pula Dha’iful Jami’ hadits no. 6434).

Wallahu a’lam

Konsultasi Bimbingan Islam
Abul Aswad Al Bayaty

Sumber : bimbinganislam.com/hadits-pasukan-panji-hitam-dari-timur

 

Risalah Hari Akhir Zaman, Catatan Untuk Kita Semua ‘Wajib Baca’


Panjiislam.com : Kabar ini mengingatkan kita akan dekatnya Hari Akhir, dan semuanya memang sudah nyata dan terlihat, jantung ini terasa berdetak kencang saat membaca sebuah kiriman di Group fb ‘MENGIKUTI JEJAK RASULULLAH S.A.W‘ yang di share oleh salah warga group. berikut kiriman yang dapat kami bagikan kembali untuk kita semua. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari tulisan ini dan kiranya Risalah ini dapat di kabarkan kembali ke semua teman dan handai taulan kita. Amiin

Jika memang Raja Salman nanti wafatnya karena di bunuh…!!! maka benarlah, dia raja yg disebut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits nya. Karena setelah wafatnya beliau, maka akan muncul Al Mahdi yang menggantikan posisi beliau. Dalam kalkulasi sebagian ulama, maka amat dekatlah peristiwa ini terjadi.

  • Saat ini kita bisa lihat raja salman semakin menua.
  • Gejolak didalam kerajaan arab saudi ‘saat ini sedang terjadi.’
  • Salju turun di arab.
  • Sungai eufrat mengering.
  • Penindasan dan pembantaian umat Islam terjadi dimana mana.
  • Orang berlomba lomba membangun gedung tinggi.

Namun yang lebih ditakutkan adalah, sebelum Al Mahdi dan Dajjal keluar, akan ada peristiwa Dukhon (kabut asap) selama 40 hari 40 malam, dunia akan gelap gulita karena tidak ada matahari, listrik dan ekonomi hancur, Tekhnologi musnah, tidak ada yang dapat dimakan, Air mengering.

Maka orang-orang yang tidak beriman saat itu hanya punya 2pilihan,,, bunuh diri atau menjadi brutal.
Dan wajah orang-orang munafik menjadi hitam karena panasnya dukhon. Saya pribadi sangat takut apabila wajah ini menjadi hitam, karena digolongkan termasuk orang munafik…!!!Naudzubillah tsumma Nauudzubillah Mindzalik

semakin dekat peristiwa akhir zaman ini…!!!
Dan Rosululloh Shallallohu ‘Alaihi Wasallam telah mengabarkannya 1400 tahun yang lalu…!!!

Perlu Kita renungkan, perbedaan kita (UMMAT NABI) saat ini dengan para sahabat Nabi dahulu sangatlah jauh. Apabila dulu ketika Rosululloh mengabarkan tentang risalah tanda-tanda akhir zaman kepada para sahabat, maka pastilah para sahabat menangis bahkan sampai pingsan. Akan tetapi saat ini yang sudah jelas bahwasanya Kita hidup di akhir zaman, Kita masih saja memikirkan duniawi yang sifatnya hanya sementara ini dan masih bisa saja tertawa terbahak bahak, seolah menganggap semuanya masih jauh.
Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memperlihatkan begitu banyaknya tanda-tanda Huru Hara Akhir Zaman dan menjelang kehancuran alam semesta..!!!

Diakhir zaman ini.
Bukan waktunya lagi kita bersantai.
Bukan waktunya lagi kita berleha leha
Bukan waktunya lg saling menghujat,saling menyalahkan sesama.
Kini waktunya kita untuk perbaiki diri dan keluarga.
Memperbaiki iman dan amal, memperbaiki hubungan sesama muslim tanpa menghujat, menyalahkan, tanpa menjatuhkan kerabatnya.
Semoga ALLAH Ta’ala melindungi kita semua dari fitnah akhir zaman dan fitnah dajjal.
AAMIIN ALLAHUMMA AAMIIN

Wallahu ‘Alam…

—————————

Baca ini sambil nangis ya Allah… Lailahaillallah

Rupanya abad ini di penghujung dunia…ini penjelasannya dunia yg fana ini akan hancur…
Assalammualaikum WW, mybrothers and sisters ulasan dibawah ini silahkan dibaca dan direnungkan tentang tanda2 akan terjadinya HARI KIAMAT. berdasarkan firman Allah dan hadist Rasulullah saw.Silahkan dibaca dgn tenang, perlahan2 dan dipahami. Tulisan ini adalah dari sumber Khasanah yaitu program tayangan TV 7 yg disiarkan stlh sholat subuh oleh ustadznya yang membahas ini scr detail tentang tanda2 Hari Kiamat tsb. Silahkan dibaca..Insya Allah bermanfaat dan menjadikan kita akan lebih bersungguh2 beribadat untuk mendekatkan diri kita kepada Allah dan RasulNya. Aamiin YRA

BENARKAH KALENDER ISLAM TIDAK SAMPAI 1500 ? PADAHAL SEKARANG SUDAH 1438 H. INI KAJIANNYA

Tidak terasa kita hidup dipenghujung Jaman.
Rasul SAW Berkata :
Jaman itu dibagi 5

1. Jaman Nubuwwah
(Jaman kenabian diawali dr Jaman Nabi Adam AS sampai Baginda Nabi Muhammad SAW)

2. Jaman Khilafah l
(dipimpin sahabat -sahabat Nabi Abu Bakar Umar, Utsman dan Ali ra).

3. Jaman Al-mulk kerajaan (berakhir runtuhnya Dinasti Utsmani diturki kalau diindonesia Majapahit, Sriwijaya, Galu dsbnya).

4. Jaman Jababiro
(Jaman kebebasan maksiat dimana-mana dan kita hidup di Jaman ini).
Fitnah2 bertebaran untuk melemahkan kaum Muslimin (era fitnah terbesar akan terjadi saat Dajjal muncul), Org2 yg tdk cakap/dzolim menjadi penguasa (pemimpin), jumlah ummat Islam banyak ttp bagaikan buih diatas laut (sedikit yg berjihad untuk membela Islam)… –>
Jaman ini sdh terjadi dan sdg kita jalani…
Astaghfirullah…..

5. Jaman Khilafah ll
(Jaman yg mana suasana seperi pada Jaman Rosululloh SAW, nanti umat Islam akan dipimpin Imam Mahdi hanya berlangsung lebih kurang 9 tahun.

Pada Jaman ini pula Dajjal muncul, Nabi Isa AS jg muncul ditugaskan untuk membunuh Dajjal dan meng-Islamkan orang2 Kafir/Nashoro).

Para Ulama hadits memprediksi ttg usia umur ummat Islam :

1. Ibnu Hajar Asqalani
seorang ulama pakar hadits, kitab beliau yg populer diindonesia adalah Fathul Barri Beliau berkata umur umat Islam sampai 1476 H.

2. Imam As-syuyuthi
Beliau mengatakan umur umat Islam sampai 1477 H

3. Ibnu Hajar Hambali
kata Beliau umur umat Islam lebih dari 1400 H namun tdk sampai 1500 H

Allahu Akbar sekarang umur umat Islam sudah sampai pada 1437 H.

Hari kiamat tdk ada yg tau termasuk Rosululloh SAW namun mengenai umur umat Islam, Rasulullah sdh memberi bocoran tdk sampai 1500 H.

Kelak diakhir jaman Alloh SWT akan wafatkan serentak umat islam dimuka bumi dan yg tersisa hanyalah orang kafir yg akan menyaksikan hancurnya bumi gunung laut langit dan seluruh alam (baca Al-Qoriah, Al-Qiyamah, Al-Waqiah).

Diantara tanda kiamat kata Rasulullah SAW akan muncul Dukhan (kabut hitam) yg menyelimuti bumi selama 40 hari 40 malam, lalu sahabat bertanya Ya Rasulullah kapan itu terjadi???
Kata Baginda Nabi SAW itu terjadi apabila yg
– pertama KALAU PENYANYI WANITA BERMUNCULAN DIMANA-MANA
– Yg kedua kata Rasulullah SAW, kalau alat musik dicintai oleh umatku dan minuman keras dimana-mana….

Saudaraku,… tanda2 diatas sudah muncul semua sekarang………. .

Mumpung masih ada waktu, mari segera benahi diri, perbaiki kualitas ibadah dan perbanyak amal sholih untuk bekal di akherat nanti….
Wallahu’alam….

Sudah Siapkah…

Note:
Kajian ilmiah seluruh Pakar Iptek di timur n barat sdh 100% membenarkan Peringatan Rasulullah 14 abad yg lalu…! n janji Allah pasti benar n tepat…!
BADAN Meteorologi dan Geofisika menyatakan bahwa akan terjadi kemarau panjang yang akan melanda dunia.

Diperkirakan kemarau panjang tersebut akan dimulai tahun 2019 hingga 2022. Cadangan air dunia saat ini hanya tersisa 3% saja.

Lalu apa artinya informasi ini bagi kita?
Artinya adalah keluarnya Dajjal telah sangat dekat.
Dan munculnya Imam Mahdi telah berada di tengah-tengah kita, tanpa kita sadari.

Ini berarti apa yang disabdakan Rasulullah telah terbukti.
Dalam hadits tentang kisah Tamim Ad-Dari, keluarnya Dajjal di tandai dengan keringnya danau Thabariyyah (Tiberias), keringnya mata air Zughar, dan pohon kurma Baisan tidak berbuah lagi. Dan jika kita mengikuti perkembangan informasi terakhir tentang tiga pertanda tersebut, sudah nyata terjadi.

Sudah dua tahun ini, pohon kurma di Baisan tidak berbuah lagi.

Diikuti dengan semakin minusnya mata air Zughar. Dan yang paling mencengangkan adalah surutnya air di danau Tiberias di Israel sudah sangat mengkhawatirkan.
Sedemikian, sehingga pemerintah Israel sibuk mencari sumber air lain.

Salah satunya perencanaan penyulingan air laut. Dalam hadits lain dikatakan bahwa Dajjal akan keluar dari sarangnya ditandai setelah terjadi kemarau dan kekeringan selama kurun 3 tahun. Dan sebagaimana disebutkan di atas, bahwa Badan Meteorologi dan Geofisika telah memperkirakan kekeringan panjang akan dimulai tahun 2019 hingga 2022.

Jika di antara kita ada yang pernah berhaji dari tahun 2011, 2012, 2013, 2014, maka insya Allah pernah berjumpa dengan “calon Imam Mahdi” di dekat Ka’bah. Dan hanya orang-orang khusus saja yang mengetahui tanda tandanya. Dan kemunculan Imam Mahdi ini seperti yang pernah di nubuwahkan oleh Rasulullah adalah ditandai wafatnya Raja yang namanya bermakna nama hewan.
Bisa jadi ia adalah Raja Fahd (Fahd: singa). Setelah itu terjadi perselisihan. Dan naik tahta raja yang banyak dosa, kemudian meninggal, kemudian muncul raja yang baik. (Bisa jadi ia adalah Raja Salman). Wallahu a’lam.
Di masa atau setelah masa pemerintahan Raja Salman inilah terjadinya pembai’atan atas Imam Mahdi. Dari pertanda ayat-ayat qauniyah tersebut, kesimpulannya adalah akhir dari fananya dunia ini sudah demikian dekat.
Marilah kita berbuat baik semaksimal mungkin, dan ajaklah setiap berjumpa sesama muslim dimanapun, untuk semakin bersungguh-sungguh memperbanyak amal akhirat.
ALLAHU AKBAR… !!!
Kiamat menurut Agama Islam ditandai dengan beberapa petanda. Kita boleh baca novel sampai beribu2 kali tapi baca ini hanya perlu 5 menit

– Kemunculan Imam Mahdi

– Kemunculan Dajjal

– Turunnya Nabi Isa (AS)

– Kemunculan Yakjuj dan Makjuj

– Terbitnya matahari dari Barat ke Timur

– Pintu pengampunan akan ditutup

– Dab’bat al-Ard akan keluar dari tanah & akan menandai muslim yang se-benar2nya

– Kabut selama 40 Hari akan mematikan semua orang beriman sejati shg mereka tidak perlu mengalami tanda2 kiamat lainnya

– Sebuah kebakaran besar akan menyebabkan kerusakan

– Pemusnahan/runtuhnya Kabah

– Tulisan dalam Al-Quran akan lenyap

– Sangkakala akan ditiup pertama kalinya membuat semua makhluk hidup merasa bimbang dan ketakutan

– Tiupan sangkakala yang kedua kalinya akan membuat semua makhluk hidup mati dan yg ketiga yang membuat setiap makhluk hidup bangkit kembali

Nabi MUHAMMAD SAW telah bersabda:
“Barang siapa yg mengingatkan ini kepada orang lain, akan Ku buatkan tempat di syurga baginya pada hari penghakiman kelak”

Kita boleh kirim ribuan bbm mesra, promote, bc yang terlalu penting tapi bila kirim yang berkaitan dengan ibadah mesti berpikir 2x.

Allah berfirman : “jika engkau lebih mengejar duniawi daripada mengejar dekat denganKu maka Aku berikan, tapi Aku akan menjauhkan kalian dari syurgaKu”

Itulah yg dimaksud dajjal yg bermata satu: Artinya hanya memikirkan duniawi drpd akhirat.

Kerugian meninggalkn sholat :
Subuh: Cahaya wajah akan pudar.
Zuhur: Berkat pendapatan akan hilang.
Ashar: Kesehatan mulai terganggu.
Maghrib: Pertolongan anak akan jauh di akhirat nanti.
Isya’: Kedamaian dlm tidur sukar didapatkan.

Sebarkan dgn ikhlas. tiada paksaan dalam agama
Niatkan ibadah (sebarkan ilmu walau 1 ayat)

Nasihat Kubur:

1). Aku adalah tempat yg paling gelap di antara yg gelap, maka terangilah .. aku dengan TAHAJUD

2). Aku adalah tempat yang paling sempit, maka luaskanlah aku dengan berSILATURAHIM ..

3). Aku adalah tempat yang paling sepi maka ramaikanlah aku dengan perbanyak baca .. AL-QUR’AN.

4). Aku adalah tempatnya binatang2 yang menjijikan maka racunilah ia dengan Amal SEDEKAH,

5). Aku yg menyempitmu hingga hancur bilamana tidak Sholat, bebaskan sempitan itu dengan SHOLAT

6). Aku adalah tempat utk merendammu dgn cairan yg sangat amat sakit, bebaskan rendaman itu dgn PUASA..

7). Aku adalah tempat Munkar & Nakir bertanya, maka Persiapkanlah jawabanmu dengan Perbanyak mengucapkan Kalimah “LAILAHAILALLAH”

Tonton Juga video berikut yang membahas Risalah Akhir Zaman “WAJIB TONTON YA

Kisah Teladan Rasulullah dan Orang Badui Saat Kencing di Masjid


Panjiislam.com : Kisah Teladan Rasulullah dan Orang Badui Saat Kencing di Masjid. Nabi Muhammad SAW tak pernah memberi julukan jelek maupun ucapan buruk kepada siapa pun. Beliau selalu berbicara dengan tingkat pemikiran dan pemahaman mereka. Juga sabar menghadapi keburukan dan sikap kasar orang lain.

Dikutip dari Kitab Jami’ Al-Ushul yang disusun oleh Nizar Abazhah dalam bukunya “Pribadi Muhammad” diceritakan kisah seorang Badui yang membuang hajat (kencing) di Masjid Nabi. Ketika itu si Badui yang kasar masuk ke dalam Masjid Nabi lalu kencing di salah satu sisi masjid.

Orang-orang pun marah dan bermaksud memberi pelajaran kepada si Badui. Namun Rasulullah SAW melarang. “Biarkan dia, jangan marahi. Siram bekas kencingnya dengan seember air. Kalian diutus untuk memberi kemudahan, bukan kesulitan,” kata Beliau tenang.

Sambil menoleh kepada si Badui, beliau bersabda: “Masjid dibangun untuk zikir dan menjalankan salat, tak boleh dikencingi.”

Kemudian di kisah lain, seorang pemuda datang kepada Nabi SAW sembari berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina.”

Orang-orang mendekat dan lalu mengusirnya. “Pergi sana!”. Namun Nabi SAW memintanya mendekat. Setelah pemuda itu duduk, Beliau bersabda: “Bagaimana jika seseorang melakukannya kepada ibumu?”

“Tidak rela demi Allah, wahai Rasulullah!”

“Begitu juga orang lain. Mereka tidak akan rela seseorang melakukannya pada ibunya.” Nabi bertanya lagi, “Bagaimana jika seseorang melakukannya pada putrimu?” “Tidak rela demi Allah, wahai Rasulullah!”

“Begitu juga orang lain. Mereka tidak akan rela seseorang melakukannya pada puterinya,” kata Nabi. “Bagaimana jika seseorang melakukannya pada saudarimu?” Tanya Nabi lagi.

“Tidak rela, demi Allah, wahai Rasulullah”.

“Begitu juga orang lain. Mereka tidak akan rela seseorang melakukannya pada saudarinya”. Kemudian Nabi bertanya lagi,” Bagaimana jika seseorang melakukannya pada bibimu? “Tidak rela demi Allah, wahai Rasulullah!”

“Begitu juga orang lain. Mereka tidak akan rela seseorang melakukannya pada bibinya.” Setelah itu Nabi SAW meletakkan tangannya di atas pemuda itu sembari berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, jagalah kemaluannya.”

Demikianlah akhlak mulia yang ditunjukkan Nabi kepada semua orang. Rasulullah SAW selalu bersikap rendah hati, tapa pandang bulu, besar atau kecil, pelayan, budak atau orang merdeka. Beliau selalu berlemah lembut, akrab, supel terutama kepada mereka yang lemah iman dan kasar seperti orang-orang pedalaman. Meskipun mereka bertindak kasar dan melampauai batas, Nabi Muhammad SAW tetap memaafkan dan mengasihi mereka.

 

sumber : ramadan.sindonews.com

Panji Islam: PPP Instruksikan Kader Ikut Aksi Bela Palestina, Demi Tegaknya Panji Islam Dunia


Panji Islam – Portal Berita Islam : PPP Instruksikan Kader Ikut Aksi Bela Palestina, Demi Tegaknya Panji Islam Dunia.

Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M. Romahurmuziy menginstruksikan kepada seluruh kader untuk ikut aksi solidaritas bela Palestina. Hal itu karena rakyat Palestina mempertahankan Kota Al Quds atau Yerussalem berarti membela tegaknya panji-panji Islam di Dunia.

“Karena Yerusalem (Al-Quds) merupakan kota suci yang juga di dalamnya terdapat Masjidil Aqsha. Masjidil Aqsha menjadi bagian penting dalam perjalanan Islam khususnya peristiwa Isra’ Mi’raj,” tegas Romi dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Minggu (17/12).

Sebagai satu-satunya partai yang berasas Islam, PPP merasa memiliki tanggung jawab dan kewajiban sama untuk mendukung perjuangan Palestina. Instruksi yang termaktub dalam surat DPP Nomor 1522 tertanggal 15 Desember 2017 merupakan salah satu bentuk dari komitmen PPP yang selam berdiri telah berjuang untuk umat Islam.

M. Romahurmuziy
Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M. Romahurmuziy (foto: ppp.or.id)

Sikap Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel menurut Ketum PPP merupakan bentuk intimidasi kepada bangsa Palestina. Tentu apa yang dilakukan berpotensi memicu perang dengan sekala luas bahkan dunia ketiga. Belaui mengutuk sikap Trump yang telah menabrak dan melanggar HAM.

“Sikap politik Donald Trump sebagai bentuk inprealisme baru dan pelanggaran HAM,” ungkap beliau yang jugfa anggota Komisi XI DPR RI.

Beliau dalam juga menyatakan dukungan sikap tegas pemerintah Indonesia terhadap kecerobohan Donald Trump. Termasuk juga mengapresiai atas sikap tegas Presiden Jokowi dalam Konferensi Luar Biasa OKI di Istanbul, Turki.

“Negara-negara Islam yang tergabung dalam keanggotaan OKI juga telah memutuskan tetap mengakui Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota Negara Palestina,” pungkasnya.

Apa yang diputusakan negara-negara OKI sama dengan PPP dalam melihat apa yang terjadi dan dialami bangsa Palestina. Terutama terhadap pernyataan Donald Trump yang menyakiti hati umat Islam seluruh dunia. (ZA)

sumber : ppp.or.id

Panji Islam: Kebangkitan Mahasiswa Islam di Bawah Panji Rasulullah SAW


Panji Islam – Portal Berita Islam : Kebangkitan Mahasiswa Islam di Bawah Panji Rasulullah SAW.

Bandung – Lajnah Khusus Mahasiswa Hizbut Tahrir Indonesia (LKM HTI) Kota Bandung menggelar Islamic Intelectual Meeting (IIM), bertajuk “Kebangkitan Mahasiswa Islam di Bawah Panji Rasulullah SAW” di Gedung Wakaf Pro Bandung, Jum’at (07/04).

Agenda ini bertujuan menyatukan pergerakan mahasiswa yang dianggap telah kehilangan arah dalam melakukan perubahan. “Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan pergerakan mahasiswa yang mulai kehilangan arah, karena gerakan mahasiswa saat ini bukan tidak ada, tapi harus diarahkan, agar apa yang dicurahkan bisa tepat guna,” jelas Andika Permadi, selaku ketua LKM Bandung yang juga sebagai pemateri dalam acara IIM.

Ia menilai bahwa gerakan mahasiswa yang ada hari ini belum tepat karena tidak memiliki ide yang jelas. Jika gerakan mahasiswa seperti ini terus dilakukan, maka hanya akan membawa kesia-siaan.

“Kesalahan mahasiswa hari ini itu lebih pada aspek filosofis dan metode. Ketika filosofisnya mengusung ide yang parsial dan tidak menyeluruh, maka mereka hanya akan melakukan hal yang sia-sia saja, karena hal itu tidak akan membawa perubahan yang berarti, apalagi metodenya juga salah,” jelas Andika.

Islamic Intelectual Meeting
Foto: Islamic Intelectual Meeting (IIM), bertajuk “Kebangkitan Mahasiswa Islam di Bawah Panji Rasulullah SAW” di Gedung Wakaf Pro Bandung, Jum’at (07/04)

Melalui kegiatan IIM yang dilakukan, Andika mengajak seluruh pergerakan mahasiswa untuk menjadikan Islam sebagai landasan pergerakan. Ia meyakini jika pergerakan mahasiswa mengusung ide Islam sebagai landasannya, maka gerakan mahasiswa akan lebih bertaji dalam mengusung perubahan.

“Melalui kegiatan ini kita mengajak agar pergerakan mahasiswa mengusung ide Islam sebagai landasan pergerakannya. Karena dengan Islam, pergerakan mahasiswa akan lebih bertaji dalam mengusung perubahan yang hakiki,” jelas Andika.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dhani Kusma Wardhana selaku pembicara. Ia menilai geliat pergerakan mahasiswa hari ini mulai meredup, jika adapun, haluan pergerakan mahasiswa hari ini berada pada haluan yang pragmatis.

“Geliat mahasiswa hari ini sudah mulai meredup, jika adapun mereka berada dihaluan yang pragmatis,” kata Dhani.

Kendati demikian, Dhani menjelaskan, mahasiswa sebagai agen perubahan tetap memiliki peluang untuk melakukan perubahan, namun metode yang digunakan haruslah metode yang jelas.

“Mahasiswa masih punya peluang. Namun harus ada yang dibenahi, ide yang diusung haruslah ide yang benar, yaitu Islam,” papar Dhani.

Diakhir Andika menambahkan dengan ajakan supaya mahaisiswa dapat menjadikan Islam sebagai jalan perjuangan, karena tidak ada jalan lain selain Islam.

“Mahasiswa jika serius ingin melakukan perubahan maka tidak ada jalan lain selain Islam. Perubahan hakiki bisa terjadi hanya dengan Islam,” tutup Andika.

sumber : kiblat.net

Panji Islam: Kibarkan Panji Islam, Cegah Serangan Radikalisme


Panji Islam – Portal Berita Islam : Kibarkan Panji Islam, Cegah Serangan Radikalisme.

UNIKAMA – Menyambut perayaan Idul Adha 1437 Hijriah/tahun 2016 ini, Lembaga Dakwah Mahasiswa (Ledma) Alfarabi Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) menggelar kegiatan Safari Dakwah Idul Qurban. Acara yang berlangsung di desa Sumberagung Kecamatan Selorejo Blitar ini berjalan dengan hidmat.

Kegiatan ini merupakan program kerja dari Ledma Alfarabi Unikama yang dilakukan setiap tahun. Selama empat hari di desa Sumberagung, beberapa kegiatan dilakukan oleh panitia. Diantaranya, go to school ke YP dan SMK YP, nonton bareng film islami, lomba festival anak sholeh, dan pengajian akbar yang dipandu Habib Muhammad Bin Habib Ahmad Al-Habsyi, tutur ketua umum Ledma Alfarabi M. Ilham.

panji islam unikama
foto: ISTIMEWA/unikama.ac.id

Kemeriahan pawai takbir menyambut Idul Adha itu turut diramaikan dari TPQ dan TPA yang ada disekitar desa Sumberagung. Pawai takbir dilepas langsung oleh kepala desa Sumberagung Eko Harmono pada pukul 19.30 WIB ditandai lantunan takbir.

Di sepanjang jalan yang di lintasi oleh peserta pawai dipadati oleh masyarakat, terlihat dari kanan kiri jalan warga tampak antusias menyaksikan pawai Takbir Idul Adha 1437 Hijriyah. Warga sengaja membawa seluruh anggota angota keluarganya, duduk di trotoal jalan-jalan yang dilalui.

Dalam kemeriahan semacam ini, senior Ledma Alfarabi Romadhon AS, M.Pd mengacungkan jempol terhadap panitia. Karena menunjukkan pengibaran panji-panji islam ditengah-tengah masyarakat. Saat ini, masih terhitung banyaknya serangan radikalisme mulai merambah dibeberapa desa.

Dengan demikian, terlihat warga sekitar masih peduli terhadap radikalisme tersebut agar tidak merambah di desanya. “Kedatangan warga ini merupakan kepedulian mereka, malam ini merupakan malam kebahagiaan dalam menimba ilmu dalam pengajian akbar ini, tuturnya.

Ditambahkan, Ledma Alfarabi yang merupakan lembaga dakwah dikampus terus berusaha melanjutkan dan memperjuangkan kehidupan islam ditengah arus global yang membuat prihatin bangsa ini. Rekan-rekan remaja tidak tutup mata menghadapi era semacam ini, tentunya dengan menggelar safari dakwah semacm ini.

Sementara itu, kepala desa Sumberagung Eko Harmono menyampaikan terima kasih kepada pihak Unikama yang menempatkan mahasiswanya dalam menyebar syiar islam di desanya. Permohonan maaf disampaikan kalau sekiranya ada hal-hal yang kurang berkenan, karena warganya merupakan rakyat biasa.

“Alhamdulilah baru kali ini duduk berbarengan dengan habib yang selama ini kami tunggu. Semoga syiar semacam ini membawa dampak yang positif dan petunjuk bagi warga kami,” ungkap kepala desa Sumberagung. (dinog)

sumber : unikama.ac.id